Minggu, 31 Desember 2017

3 Kopri dan 8 Calon Ketua PKC Resmi Bersaing di Konkorcab PMII Jatim

Surabaya, Ustadz Felix Siauw Terbaru

Pasca verifikasi berkas persyaratan yang dilakukan oleh Tim Seleksi Pencalonan Konferensi Kordinator Cabang (Konkorcab) Jawa Timur, akhirnya menetapkan 8 kandidat yang menjadi Calon Ketua PKC PMII Jawa Timur untuk periode 2016-2018.

3 Kopri dan 8 Calon Ketua PKC Resmi Bersaing di Konkorcab PMII Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)
3 Kopri dan 8 Calon Ketua PKC Resmi Bersaing di Konkorcab PMII Jatim (Sumber Gambar : Nu Online)

3 Kopri dan 8 Calon Ketua PKC Resmi Bersaing di Konkorcab PMII Jatim

"Dari 10 bakal calon yang sudah diverifikasi, ternyata 8 calon yang lolos, dan 2 gugur" jelas Aqib, Ketua Tim Seleksi Konkorcab Jatim, dalam rilisnya, Jumat (15/4).

Mereka diantaranya, Arief Rachman Situbondo, Zainuddin Surabaya, Moh Fathul Hasan Malang Kota, M Haryadi Lumajang, Helmi Fuad Bangkalan, Alfi Hafidh Ishaqro Madiun, Mahathir Muhammad Blitar, Ahmad Syuhadak Trenggalek.

Selain itu, tim seleksi juga menetapkan 3 kandidat yang bakal menjadi calon Ketua Kopri PKC Jawa Timur yaitu Nafisatul Qudsiyah Sidoarjo, Maryam Banyuwangi, Hodaifa dari Sumenep. "Setelah kemarin diberikan perpanjangan waktu untuk pendaftaran Ketua Kopri PKC. Di hari terakhir, 3 kader Putri ini yang mendaftar," ungkapnya.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Aqib memaparkan, nantinya penetapan semua kandidat akan diumumkan pada acara Pra Konkoorcab hari Sabtu (16/4) di Museum NU Surabaya.

"Hari ini adalah penetapan dan pengumuman calon. Rencananya, Pra Konkoorcab tersebut dilakukan pengambilan nomor urut calon," paparnya

Pelaksanaan Konkorcab Jatim yang berlangsung di Kota Reog Ponorogo ini diharapkan menjadi awal perubahan yang lebih baik bagi PMII, khususnya PKC Jawa Timur.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

"Semoga Konkoorcab kali ini menjadi awal perubahan menuju sistem pemilihan yang lebih jujur dan adil. Tanpa ada permainan-permainan kotor yang akan merusak khidmatnya Konferensi Koordinator Cabang," tegas Aqib. (Isna W/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Amalan Ustadz Felix Siauw Terbaru

Siapkan Kontributor Buletin, IPNU Cirebon Latih Pelajar Jurnalistik

Cirebon, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Pimpinan Cabang Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Kabupaten Cirebon menggelar pelatihan jurnalistik bagi kader IPNU se-Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Senin (20/10). Peserta pelatihan didominasi kalangan pelajar SMA atau sederajat.

Siapkan Kontributor Buletin, IPNU Cirebon Latih Pelajar Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)
Siapkan Kontributor Buletin, IPNU Cirebon Latih Pelajar Jurnalistik (Sumber Gambar : Nu Online)

Siapkan Kontributor Buletin, IPNU Cirebon Latih Pelajar Jurnalistik

Acara yang dilaksanakan di sekretariat PC IPNU Cirebon Jalan Pengayoman Kecamatan Weru Kabupaten Cirebon ini diikuti sekitar 50 orang perwakilan dari Pimpinan Anak Cabang (PAC), Pimpinan Ranting (PR), dan Pimpinan Komisariat (PK) IPNU se-Kabupaten Cirebon.

Menurut Ketua PC IPNU Cirebon Wahyono An Najih, kegiatan ini diselenggarakan untuk mengasah kemampuan ilmu jurnalistik di kalangan pelajar. "Ke depan kami berharap para peserta yang mengikuti kegiatan ini dapat menjadi kontributor tetap di Buletin Merpati, buletin bulanan PC IPNU Kabupaten Cirebon," ujarnya.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Rencananya kegiatan ini akan digelar rutin selama dua minggu ke depan di tempat yang sama, pada pukul 15:00-18:00 WIB, dengan menghadirkan pemateri yang berbeda setiap harinya. "Kami akan mengundang para pelaku jurnalistik yang kompeten di bidangnya sebagai pemateri pada kegiatan ini" ungkap Wahyono.

Pelatihan ini mendapat respon positif dari peserta. Para pelajar menengah atas tersebut merasa mendapat wawasan baru di luar belajar sekolah. "Pelatihan jurnalistik ini merupakan pengalaman baru buat saya, materinya menarik sekali, dan pematerinya juga keren," tutur Maulana Al Faqih, salah satu peserta asal SMA Negeri 1 Plumbon, Cirebon. (Red: Mahbib Khoiron)

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Kyai, Quote Ustadz Felix Siauw Terbaru

NU, Jazz, dan Ketidakteraturan yang Teratur

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Terbaru 



Budayawan Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) Sastro Adi mengatakan, hanya orang yang bisa keluar dari gaya berpikir mainstream itulah yang bisa main jazz. Menurut dia, jazz itu tidak teratur dalam keteraturan. Jazz membebaskan seluas-luasnya untuk berekspres, bergerak, tapi dalam satu koridor, itulah yang disebut harmoni.

Menurut dia, NU sering dipandang orang sebagai organisasi yang tidak teratur, tidak modern. NU selalu diibaratkan sebagai lambang kaum tradisional yang tidak intelektual. Itu salah besar. NU ya memang gayanya begitu. Siapa yang yang meragukan intelektualnya KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur)? Siapa yang meragukan kealiman KH Maimoen Zubair? Dan kiai-kiai lain. 

NU, Jazz, dan Ketidakteraturan yang Teratur (Sumber Gambar : Nu Online)
NU, Jazz, dan Ketidakteraturan yang Teratur (Sumber Gambar : Nu Online)

NU, Jazz, dan Ketidakteraturan yang Teratur

“Tapi kalau mau jujur, siapa yang terdepan dalam menjaga keragaman? NU! NU bukan bergerak secara ilmiah, tapi secara alamiah,” jelasnya selepas tampil di Haul H. Mahbub Djunaidi ke-22 bertajuk "Jazz dan Esai-esai H. Mahbub Djunaidi" yang digelar Omah Aksoro dan PMII UNUSIA di lapangan parkir UNISIA, Jakarta, Kamis malam (5/10).  .  

Orang banyak menyebutkan jazz musik kaya improvisasi. Saat improv itulah pemain memiliki kebebasan mengeksplorasi kemampuannya, keunikannya, cara bermainnya sendiri-sendiri. Bahkan tidak jarang, di tengah-tengah permainan, mereka menemukan satu bentuk gaya yang sama, itu bisa ritme, yang disebut unison. 

Ustadz Felix Siauw Terbaru

“Namun, mereka sadar sepenuhnya bahwa mereka harus menjaga tempo, dinamika, harmonisasi,” lanjutnya. 

Tokoh-tokoh NU seperti H. Mahbub Djunaidi dan KH Abdurrahman Wahid misalnya, adalah pemain-pemain jazz NU. Mereka punya gaya dan karakternya sendiri dalam bergerak. 

Ustadz Felix Siauw Terbaru

“Tapi tujuan dan cita-citanya untuk lebih baik. Kritis pada keadaan. Dengan sadar mereka tetap dalam fikrah (pemikiran) dan harakah (pergerakan) NU yang Aswaja dan dalam bingkai Bhineka Tunggal Ika dan NKRI,” tegasnya. 

Itu bisa terjadi karena jiwa seorang jazzer itu adalah fasilitator, saling memberikan apresiasi masing-masing. Berbagai macam cara masing-dengan gaya masing, pergerakannya masing, tapi mereka tetap ketemu dalam satu koridor, sesuai dengan kata santri, harus ngemong, rendah hati, tawadhu, tapi dengan tetap mengoptimalkan potensi lokalitas, dan asas barokah dan manfaat. 

Dari sisi teknik, menariknya di dalam jazz ada yang dikenal dengan james session. Kendati dilakukan tanpa latihan, kemudian mereka langsung ketemu di panggung, mereka bisa berkolaborasi.

“Di NU, kiai satu dengna kiai lainnya jarang ketemu, tapi karena punya kesamaan ghirahnya, bisa ketemu dalam satu titik,” pungka pemusik yang terampil pencak silat itu. 

Sastro Adi turut bermain jazz yang menggawangi keybord yang berkolaborasi dengan Komunitas Jazz Kemayoran yang digawangi Beben Jazz. Dua anak H. Mahbub Djunaidi, Isfandiari dan Yuri Mahatma juga tampil.

Pada acara "Jazz dan Esai-esai H. Mahbub Djunaidi" itu hadir Menteri Pemuda dan Olahraga H. Imam Nahrawi. Ia membacakan Manakib H. Mahbub Djunaidi. Hadir pula Sekretaris Jenderal PBNU H. Helmy Faishal Zaini, Waketum PBNU yang juga Rektor UNUSIA KH Maksum Mahfudz, Ketua PBNU Sulthan Fatoni, dosen-dosen UNUSIA dan para aktivis PMII. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Pondok Pesantren, Fragmen, Nahdlatul Ustadz Felix Siauw Terbaru

Presiden: Idham Chalid Seorang Tokoh Besar

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyatakan KH Dr Idham Chalid adalah tokoh besar bangsa dengan pemikiran yang besar pula.



Presiden: Idham Chalid Seorang Tokoh Besar (Sumber Gambar : Nu Online)
Presiden: Idham Chalid Seorang Tokoh Besar (Sumber Gambar : Nu Online)

Presiden: Idham Chalid Seorang Tokoh Besar

Dalam sambutan takziahnya di rumah duka kawasan Pondok Pesantren Darul Maarif, Cipete, Jakarta Selatan, Senin, Presiden menyatakan Indonesia telah kehilangan salah satu putra terbaik bangsa dengan meninggalnya Idham Chalid pada usia 88 tahun Ahad 11 Juli 2010 pukul 08.00 WIB.

"Kita mengenal beliau adalah tokoh besar dengan pemikiran besar dan jasa sangat besar pula," ujar Kepala Negara yang datang melayat tanpa didampingin Ani Yudhoyono.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Di bidang pemerintahan, kata Presiden, Idham Chalid telah aktif bergelut sejak usia muda dengan dua kali menjabat wakil perdana menteri II pada era mantan Presiden Soekarno.

Setelah pergantian kepemimpinan kepada Presiden Soeharto, Idham pun melanjutkan pengabdiannya kepada negara dengan menjabat sejumlah posisi menteri, Ketua MPR/DPR, dan Ketua Dewan Pertimbangan Agung (DPA).

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Di bidang pergerakan dan organisasi Islam, kata Presiden, Idham yang meninggal dunia setelah sepuluh tahun berjuang melawan penyakit stroke dideritanya juga meninggalkan nama besar karena 28 tahun memimpin Nadhlatul Ulama dengan segala kepemimpinan dan prakarsanya.

"Kita mengenang beliau pada saat penataan kehidupan politik di Indonesia pada masa pemerintahan Soeharto. Beliau juga seorang tokoh arsitek yang dengan kearifan luar biasa ikut menata kehidupan partai politik dan diterima dengan ikhlas oleh semua," tutur Presiden.

Menurut Presiden, jasa Idham Chalid terlalu banyak untuk diungkapkan dalam bidang pemerintahan, kehidupan negara, serta kemajuan berpikir umat Islam.

"Sampai dengan kegiatan politik yang penuh dengan amanah dan pikiran-pikiran yang aplikatif dan bisa diterima oleh semua pihak," ujarnya.

Atas nama negara, pemerintah, dan pribadi, Presiden yang mengenakan setelan safari hitam dan peci hitam mengucapkan belasungkawa sedalam-dalamnya kepada keluarga besar Idham Chalid.

Kepala Negara yang melayat sekitar 15 menit juga mendoakan agar mendiang mendapat tempat kembali yang baik di sisi Allah SWT.

Setelah Presiden Yudhoyono melayat, jenazah Idham Chalid dishalatkan di masjid kompleks Darrul Maarif tak jauh dari rumah duka untuk kemudian dimakamkan di kompleks Pondok Pesantren Darul Quran milik keluarga di Cisarua, Jawa Barat. (ant/mad)Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Khutbah Ustadz Felix Siauw Terbaru

Sabtu, 30 Desember 2017

PBNU Tak Sepakat Warga Indonesia Pergi Jihad ke Palestina

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengutuk keras aksi brutal militer Israel baru-baru ini terhadap rakyat Palestina yang mengakibatkan puluhan korban jiwa dari kalangan penduduk sipil, termasuk ibu-ibu dan anak-anak.

PBNU Tak Sepakat Warga Indonesia Pergi Jihad ke Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Tak Sepakat Warga Indonesia Pergi Jihad ke Palestina (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Tak Sepakat Warga Indonesia Pergi Jihad ke Palestina

“Dari dulu Israel selalu seperti itu, tidak pernah mengindahkan kecaman dunia internasional, termasuk Dewan Keamanan PBB,” kata Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj di Jakarta, Kamis (10/7).

Meski demikian, kiai yang akrab disapa Kang Said ini menyerukan kepada warga Indonesia untuk tetap cerdas dalam menyikapi situasi tersebut. Ia mengatakan tak sepakat apabila ada warga Indonesia hendak pergi jihad ke Palestina.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Menurutnya, pergi jihad ke sana justru akan menambah runyam persoalan. Kontribusi warga Indonesia terhadap Palestina, katanya, bisa diwujudkan dengan berdoa atau penggalangan bantuan kemanusiaan.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

“Kita minta pemerintah Indonesia mengeluarkan sikap tegas terhadap tragedi di Palestina,” ujarnya.

PBNU juga mengaku prihatin terhadap kemelut yang terjadi di Iraq belakangan ini. Namun demikian, Kang Said menegaskan, baik konflik yang menimpa Palestina, Iraq, Suriah, Afganistan, dan Somalia, semuanya berlatar belakang politik, bukan agama.

“Konflik sudah membawa agama, padahal konflik tersebut tidak ada hubungannya sama sekali dengan substansi ajaran agama,” ujarnya. (Mahbib Khoiron)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Amalan, Tegal Ustadz Felix Siauw Terbaru

Bibir Seksi

Pejalanan pulang melalui jalur darat selesai menunaikan haji. Pilihan kami ini bukan tanpa alasan, guru kami pernah berpesan; kalau pun harus terbang jangan sampai hal itu membuatmu merasa tinggi. 

Ingatlah bahwa di bawah sana banyak kekasih-kekasih Allah yang hidupnya sederhana. Selain itu, perjalanan darat menawarkan kepada kami tentang rihlah sejarah.

Bibir Seksi (Sumber Gambar : Nu Online)
Bibir Seksi (Sumber Gambar : Nu Online)

Bibir Seksi

Jalur yang kami lewati antara kota suci Mekah dan Tarim melalui kota tua Sana’a, ibu kota Yaman, dan tempat bersejarah lainya seperti daerah Darwan yang terletak di sebelah barat daya Sana’a. Daerah Darwan oleh para pakar sejarah Islam diperkirakan adalah daerah pemukiman Ashabul Jannah yang disebut-sebut Allah dalam dalam kitab suci Nya. Konon, Darwan memiliki kwalitas tanah tersubur yang berada di muka bumi, sehingga tidak sedikit buah-buahan, kurma, anggur, dan berkah bumi lainnya dihasilkan dari daerah tersebut.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Pagi hari kami telah melewati perbatasan. Kala itu, urusan imigrasi di perbatasan rada tersendat, tampaknya ada sedikit masalah dengan paspor kami, sebelum akhirnya uang dapat mempermudah urusan. Dari perbatasan ke Sana’a kami menyewa travel. Biaya yang ditawarkan si sopir cukup mahal, yaitu 15 dinar. Satu dinar pada saat itu senilai sama dengan sekitar 75 ribu rupiah, atau sekitar 30 riyal. Namun setelah jadi tawar-menawar yang cukup ulet, si sopir menurunkan 1 dinar per orang. Aku, Xafi dan Umar, masing-masing membayar  120 riyal.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Travel yang kami tumpangi tak lain adalah mobil SUV tua peninggalan penjajahan Rusia. Mula-mula kami ragu, namun setelah berjalan beberapa saat kemudian kami mulai menikmati. Ternyata mobil Eropa sangat nyaman walaupun segi fisik terlihat usang. Di luar dugaanku, mobil sangat cepat melibas jalanan, terkadang juga harus melintasi gurun untuk menempuh jalan pintas. Masih sekuat mobil-mobil Rally Paris Dakkar yang sering aku lihat di televisi dulu. 

Debu-debu mengepul di sisi kanan-kiri kaca, sesekali mobil melakukan jumping ketika menabrak gundukan-gundukan kecil. Suspensi yang masih baik membuat kami tidak begitu merasakan benturan yang keras di dalam mobil.

Ketika aku mulai berbicara heart to heart, menceritakan tentang masa laluku, Xafi akhirnya mulai terbuka. Ia kali ini tidak lagi menghindar dari pertanyaanku. Sepanjang perjalanan ia bertutur tentang masa lalunya yang penuh dengan kegelapan dan kebimbangan, sebelum akhirnya datang petunjuk Tuhan.

“Aku tidak tahu bagaimana mulanya. Saat itu umurku menginjak 15 tahun, seperti kebanyakan remaja lainnya di negeriku, aku hidup dalam kebebasan dan mulai berani mengekspresikan hayalan liar. Aku tidak tahu siapa ayahku. Aku hanya tinggal bersama ibuku di sebuah apartemen tua. Pada suatu malam aku bermimpi mendengar sebuah nyanyian, namun entah nyanyian apa itu? Semacam bunyian-bunyian akapela, kedengaran seperti paduan suara di gereja-gereja.” 

“Semenjak itu, mimpi yang sama sering hadir dalam tidurku. Semakin sering terjadi aku semakin penasaran. Ada satu lirik yang aku coba ingat, dan lirik itulah yang kemudian aku tanyakan kepada ibuku. Namun ibuku tidak tahu. Aku coba bawa masalahku ini ke sekolah dan aku tanyakan kepada guruku. Tapi apa jawaban yang kudapat? Katanya aku mengalami gangguan jiwa. Aku disarankan menajalani terapi. Aku merasa baik-baik saja. Aku tak merasa menyimpang dari sebelumnya, selain aku mulai malas datang ke gereja, dan bagiku itu wajar, seperti kebanyakan teman sebayaku yang mulai kenal dengan kehidupan luar. Tak sengaja ada seorang guru sejarah yang mendengar masalahku. Ia kemudian menemuiku dan menjelaskan apa yang sebenarnya kualami. 

“Nak, lirik itu adalah bunyi-bunyian dalam Islam,” jelasnya tentang apa yang kudengar dalam mimpi. 

“Ya, aku tahu ada Agama Islam, tapi aku tak tahu kalau ada suara seindah itu dalam Islam. Lalu aku tanyakan kembali, “Sesungguhnya apa yamg kudengar ini, Pak? Lagu, novel, atau apa?” 

Guru sejarah itu tersenyum kecut, “Lupakan saja. Itu hanya nyanyian peperangan, dalam sejarah kelam bangsa kita!”.

Di lain hari aku menemui seorang biarawan, aku rasa dialah yang alim dalam urusan agama. Barangkali ia pernah mendapat pelajaran tentang perbandingan agama, dan pasti dia sedikit banyak tahu tentang Islam, dan tentunya ia tahu lagu apa yang sering kudengar dalam mimpiku. Biarawan itu kaget mendengar pertanyaanku. 

“Baiklah, akan aku beritahu. Mimpimu adalah sadarmu, dan yang kau dengar itu sebenarnya bukan nyanyian, melainkan ayat-ayat dalam Al-Qur’an, seperti Injil dalam agama kita. Ayat yang kau dengar itu menerangkan tentang siapa Tuhan menurut agama mereka? Allah adalah Tuhan, dan yang disebut Tuhan pastilah baik. Hanya saja konsep Tuhan menurut kita beda dengan konsep Tuhan menurut mereka yang cuma satu.” 

Nak, kata guru sejarah, mimpimu itu adalah teguran dari Tuhan agar kau rajin-rajin beribadah!

Setelah mendapat jawaban dari biarawan itu, aku mulai belajar tentang Islam. Sampai akhirnya aku benar-benar yakin. Dua tahun kemudian aku pergi ke Casablanca untuk meresmikan keyakinan baruku. Aku mengucapkan Syahadat di bawah bimbingan seorang Syeikh. Dan Sekarang, ya seperti yang kau lihat sendiri, dan Alhamdulillah aku sudah menenuaikan rukun ke lima ini bareng Kamu” Begitulah kira-kira cerita Xafi yang bisa kutangkap.

“Lega bukan rasanya sudah menenunaikan kewajiban?” tanyaku mengomentari ceritanya.

“Belum.” Xafi kulihat membuang pandangannya ke luar mobil.

“Kenapa?” tanyaku kembali.

“Aku selalu berdoa, agar ibuku mendapat petunjuk!” Xafi lalu diam. Suaranya agak serak ketika menjawab pertanyaanku. Dan aku, tahu, semua orang pasti ingin ibunya bahagia.

Umar yang mengajak pulang naik pesawat rupanya sangat kesal karena aku dan Xafi memilih perjalanan darat. Sepanjang perjalanan ia hanya diam, cemberut. Mungkin karena aku tidak memihak kepadanya. Aku bisa memaklumi. Namun aku sengaja memberinya pelajaran seperti ini. Biar dia tidak mudah menghina orang-orang miskin. 

Mobil berhenti di kota Harad untuk mengisi bahan bakar. Si sopir memberi kami waktu sebentar untuk membeli perbekalan, atau sekadar istirahat sejenak. Karena setelah ini kami akan menempuh perjalanan yang sangat panjang, ratusan mil jauhnya. Melewati gurun sahara, padang pasir yang tak bertuan, dan lembah-lembah yang sangat tandus. Mungkin senja hari kami baru sampai di kota Hamr, itu pun jika tidak terjadi gangguan dalam perjalanan, seperti ban kempes dan lainnya. Kami gunakan jeda tersebut untuk mandi. Betapa segarnya yang kurasa, tubuh tidak lagi terasa gerah. Plikat-plikat keringat telah luruh dibasuh air suci. Umar lalu pergi ke rumah makan untuk membeli perbekalan, barangkali roti dan air minum. Aku dan Xafi melakukan relaksasi sejenak dengan saling memijat bergantian.

Tidak sampai satu jam kami istirahat si sopir mengajak kami untuk melanjutkan perjalanan. Kota Harad tidak begitu besar, namun kota Harad adalah satu-satunya kota yang paling besar yang kami lewati semenjak dari perbatasan. Dari kota ini  mobil mendapat tambahan satu penumpang. Ia duduk di depan bersama sopir, sedangkan kami tetap pada posisi semula.

Mobil berjalan meninggalkan kota, lalu desa dan lepas meninggalkan pemukiman. Dari balik kaca depan mobil yang tampak hanya genangan air yang menggeliat di atas permukaan tanah. Sebenarnya aku kasihan pada Umar. Aku yang kurus saja merasa gerah, apalagi dia. Tapi bagi saya pribadi, perjalanan ini adalah pengalaman yang sangat berharga. Bagai suku-suku Arab nomaden dalam melakukan surfive kehidupan. Ada banyak sejarah, tetesan keringat dan darah yang perlu aku renungi dari perjuangan islam sepanjang perjalanan ini. Beginikah rasanya mereka dahulu dalam menyebarkan agama? Memangkas potongan-potongan siksa untuk menebarkan pahala. Sungguh, aku merasa tidak ada apa-apa, bahkan debu yang mereka injak pun aku tak sebanding.

Perasaan jenuh gerah dan yang tak enak-enak sudah mulai berdatangan, namun kota Hamr masih jauh di ujung mata. Bosan memang membosankan, tapi di saat seperti inilah saat yang tepat untuk melatih kesabaran. Bau tak sedap keringat bercampur kunyahan daun ghot penumpang dari Harad menambah memperburuk suasana. untung saja dulu aku sudah terlatih dengan semacam ini ketika naik kereta ekonomi jurusan Jakarta. Hanya saja panas dan debunya tak separah di sini.

Di tengah-tengah perjalanan kami berhenti sebentar untuk melaksanak shalat Jamak Ta’khir, dhuhur di waktu ashar. Mobil menepi, dan semua penumpang turun. Kami mengambil air wudlu dari sebotol aqua ukuran 1,5 mili liter yang telah kami persiapkan sebelumnya. Hanya sebentar mobil kebali berjalan. Suasana sudah tak sepanas sebelumnya. Satu jam perjalanan nampak mentari mulai menuruni balik bukit dan mulai menjauhi arah laju mobil.

Di depan jauh sana aku melihat seperti ada sesosok manusia berjalan. Aku perhatikan benar siluet tersebut. Jika benar-benar orang, mungkin dialah satu-satunya pejalan kaki yang kami temui di sepanjang perjalanan. Aku mulai yakin ketika mobil semakin dekat. Nampaknya seorang wanita sebatang kara. Entahlah apa ia tertinggal dari rombongannya, atau penduduk setempat? Tapi sepanjang aku memutar mata, tidak kudapatkan pemukiman di sekeliling jalan yang kami lalui.

Mobil melintasinya perlahan. Dari dalam aku melihat wanita itu berjalan sempoyong tak berdaya. Seketika hatiku terketuk tak tega. Aku meminta sopir untuk berhenti, pedal gas diinjaknya dalam, dan ban menggasut tanah liat memunculkan asap debu.

Aku bergegas turun menghampirinya.

“Assalamualaikumm..”.

“Salamun qaulan min rabbir rahim..”[1] jawab wanita itu atas salam yang kuucapkan.

“Yarhamukillah.. wahai fulanah, apa yang kau perbuat di tempat seperti ini?”

“Wa man yudllil fala haadiya lah!”[2] jawabnya.

“Maksudmu apa?”

 “Wa man yudllil fala haadiya lah!”[3] Jawaban sama yang kudapatkan darinya.

Aku tidak paham. Lalu memanggil Xafi untuk membantu menanyainya. Xafi turun dari mobil dan berdiri di sampingku. Tapi tetap saja wanita itu menjawab dengan kalimat yang sama “Wa man yudllil fala haadiya lah!”[4] Xafi yang cerdas segera tanggap dengan jawaban tersebut. “Mungkin maksudnya: dia sedang tersesat!”

“Emm..baiklah. terus antum hendak kemana?” tanyaku lagi kepada wanita itu.

“wa atimmulhajja wal ‘umrata lillah… fa man lam yajid fashiyamu tsalatsati ayyamin filhajji wa sab’ati idza raja’tum..ala bu’dan li’adin qaumi hud…”[5] jawabnya.

Xafi tampak berpikir memahami jawaban wanita itu, lalu setelah mendapatkan ia coba menjelaskan kepadaku. “Mungkin maksudnya; ia baru saja menunaikan ibadah haji, dan sekarang ia dalam perjalanan pulang ke rumah yang kemungkinan berada di sekitar Syi’eb Hud.”

Aku mulai memahami cara berbicara wanita ini. Dia selalu menggunakan ayat-ayat Al- Qur’an dalam memberikan jawaban. Ini seperti bermain sanepo. Tidak ada jawaban yang diutarakan secara langsung. Untung saja xafi mudah tanggap dengan jawabannya.

“Wahai Fulanah, mengapa kau tak menjawab dengan biasa? Bisakah kau berbicara sepertiku? Maksudku dengan bahasa percakapan.” Aku membujuk agar dia tak lagi menggunakan bahasa Sanepo, dan percakapan kami dapat berlangsung dengan mudah.

“ma yulfadzu min qaulin illa ladaihi raqibun ‘atiid….”[6]

Astaghfirullah.. jawaban yang mematikan, aku menyerah. Sudahlah, aku tidak bisa memaksa orang untuk memahamiku, tapi bagaimana sebaiknya aku sekarang bisa memahaminya.

“Anda berasal dari mana?” lanjutku.

“wa la taqifu ma laisa laka bihi..”

“cukup..cukup” putusku. Aku semakin pusing dengan jawabannya yang tidak membantu.

Baiklah, begini saja. Beri aku jawaban yang mudah, agar aku bisa menolong, atau setidaknya membantumu?! Ee, sudah berapa hari anda tersesat?”

“tsalatsa layalin sawiyya; .” [7]

Hah, tiga hari?! 

“Emm, kelihatannya kau kehabisan makanan?”

“Huwa yuth’imuni wa yasqin: .”[8] jawabnya seolah tak perduli.

Sebenarnya aku sebal dengan percakapan yang kaku ini. Tapi aku tak tega melihatnya. 

Aku coba menggiring percakapan ini ke yang lebih baik, tentunya untuk dia. Bagaimana dia sudah tiga hari tersesat di gurun tanpa tersisa bekal. Akan tetapi bagaiman aku bisa membantunya jika percakapan masih berlangsung seperti ini. 

“Maukah kau kuambilkan makan dan minuman?”

“Tsumma atimmus shiyama ilal laili”[9]

Penolakan yang halus. Tapi aku berusaha membujuknya untuk menerima bantuan dari kami. Baiklah jika dia ingin berpuasa, tapi apakah dia tidak memikirkan kondisi tubuhnya yang sudah tak berdaya seperti itu.

“Tapi sekarang bukan bulan Ramadan!” bujukku.

“wa man tathawwa’a khairan fa innallaha syakirun ‘alim..”[10]

“Hemm.. pintar! Tapi bukankah kita diperbolehkan tidak berpuasa dalam perjalanan!” desakku.

“wa an tashumu khairun lakum in kuntum ta’lamun..”[11]Lagi-lagi hujah yang ia katakan membuatku mati kutu. Mendengar jawaban-jawaban yang tak membantu itu xafi menyuruhku untuk meninggalkan saja. Aku sendiri masih bimbang.

“Baik lah.. mohon maaf jika kami telah menganggu perjalanan anda? Sekali lagi mohon maaf..”

“La tatsriba ‘alaikum alyauma yaghfirullahu lakum….. la tatsriba ‘alaikum alyauma yaghfirullahu lakum….. la tatsriba ‘alaikum alyauma yaghfirullahu lakum..///”[12] 

Begitu aku mendengar dia memaafkanku dengan cara yang sama, hatiku tiba-tiba tersentak. Ini orang bukan sembarangan, pikirku. Jarang sekali orang berbicara demikian. Al-Qur’an dan Al-Qur’an, tidak ada yang lain.

Aku yang sebenarnya sudah mulai putus asa timbul niatan untuk memberinya tumpangan. Tapi aku tidak berhak sepenuhnya atas itu. Jadi aku perlu minta ijin lebih dahulu pada si sopir, dan penumpang lainnya. “Itu terserah kamu? Tapi apa yang lainnya setuju?” kata Xafi. “Mangkanya itu?” jawabku lalu menemui si saik. “Asalkan membayar? Sepuluh orang pun boleh?” katanya. Tapi rupanya temanku yang satunya lagi keberatan. Aku memaklumi karena Umar memang orang yang kaku, kolot, cenderung fundamentalis dalam bermazhab.

“Ini bukan soal mahrom dan tidak. Juga bukan soal halal haram, Mar! Cobalah sedikit lebih toleran..! Ini soal nyawa perempuan itu, Mar?!”

“Tetap saja tidak bisa!” jawab Umar bersikukuh pada pendiriannya.

“Baiklah, kalau tidak boleh, aku dan saleh akan tetap tinggal!” kata Xafi membelaku.

“Oh, jangan.. jangan..!” Umar ketakutan. Karena ia sebenarnya jarang bepergian dan takut bila sendiri. “Ya sudah.. Tapi jangan kau dudukkan wanita itu bersamaku!”“Kebetulan,” kata hatiku.

Xafi nyengir. Umar cemberut membuang mukanya ke kaca sebelah. Aku lalu menghampiri wanita tersebut untuk menawarkan tumpangan.

“Maukah kau ikut bersama kami?” kataku menawari.

“wa ma taf’alu min khairin ya’lamhullah; ..”[13] jawabnya berkali-kali.

Niat yang tidak sia-sia, besitku dalam hati.

Akhirnya dia menerima tawaranku. Aku mengajaknya ke mobil. Aku bukakan pintu. Lalu wanita itu segera masuk. Tanpa sengaja ketika naik kepala wanita itu terbentur ke dinding pintu. “Inna lillahi..” wanita itu terjatuh ke tanah. Jubahnya semakin penuh dengan balutan debu. Ia berusaha bangkit sendiri. Aku semakin tak tega.

“Wa ma ashabakum min mushibatin fa bima kasabat min aidikum;..” ujarnya sambil meraih badan mobil untuk bangkit.

“Ishbirii, Ya ukhti..”[14]

“Fa fahimnaha sulaiman;..”[15] balasnya santun.

Aku mempersilakan ia kembali masuk ke dalam mobil.

“Qul lil mu’minina yaghudldlu min absharihim;..”[16] perintahnya menggunakan perintah Tuhan. Ia sepertinya mau membuka khimar yang menghalangi pandangannya.

“Baiklah, kami akan memejamkan mata. Silakan masuk, Ya Ukhti!”

Saat aku buka mata wanita itu telah berada di dalam mobil. Aku segera masuk menyusulnya. Si sopir menjalankan mobilnya kembali.

“Subhanalladzi sakhkhara lana hadza wama kunna lahu muqrinin, wa inna ila rabbina lamunqalibun;..”[17] ucap wanita itu di awal laju.

Xafi yang berpindah di jok belakang melantunkan Qasidah dari diwan haddad kesukaannya. Suaranya begitu merdu, meliuk-liuk serupa seruling. Tapi entah mengapa wanita itu tidak begitu suka, dan menghentikan dengan membaca ayat “waqshid fi masyika waghdluld mis shautik.. waqra’uu ma tayassara minal qur’an;…”[18]

Xafi berhenti bersenandung, dan si saik memelankan laju mobilnya. Aku menengok ke belakang, kulihat umar semakin cemberut. Aku senang, setidaknya ia mau toleran dengan sesama umat manusia. Hehehe, aku tersimpul di samping wanita itu, di dalam mobil yang melaju yang terasa nyenyap, tidak ada qasidah yang disenandungkan, tidak ada diantara kami yang hafal alqur’an, sedangkan wanita itu sendiri juga diam.

“Apakah anda sudah mempunyai suami?” Tanyaku coba mencairkan suasana.

“Ya ayyuhalladzina amanuu la tas`aluu ‘an asyya`a in tubda lakum tasu`kum:..”[19]

Hehehe.. Aku sudah kehabisan akal untuk mencari cara. Lagi-lagi ayat-ayat Al-Qur’an yang ia lantunkan bagai senjata mematikan. Dan hal itu juga membuatku semakin yakin akan mukjizat Al-Qur’an dalam mengalahkan lawan bicara.

Kami semua diam seiring mentari tenggelam. Mobil merangkak di atas jalanan padang pasir, bagai siput menuju kota Himr. Kesunyian semakin bertambah ketika langit semakin gelap. Tidak ada suara lain di dalam keheningan senja, kecuali derum mobil yang menabuh dinding penjuru. Diantara kesepian itu, sesekali terdengar si saik dan penikmat daun ghot berbincang-bincang dengan bahasa yang tak kupahami. Bahasa arab dalam intonasi mereka terdengar seperti bahasa madura saja, membuatku geli ingin tertawa, tapi kutahan, aku takut mengganggu ketenangan wanita di sampingku. Setelah yakin memasuki waktu Maghrib aku tawarkan air dan roti. Ia menerimanya. Aku minta kepada umar untuk berbagi madu dengan wanita itu. Barangkali rasa manis dapat membantu mengembalikan staminanya.

Sungguh banyak sekali orang di negeriku yang hafal Al-Quran, namun sedikit sekali yang seperti dia. Aku teringat kata Alhabib; Al yamanu ilmu wal amal. Yaman adalah tempat ilmu dan amal. Mungkin karena itu orang di negeriku tidak, atau belum ada yang sepertinya. 

Ketika sampai di pemukiman kami segera mencari kafilah, barangkali ada diantara mereka yang mengenal perempuan yang bersama kami. Kami sadar bahwa dia tidak bisa berlama-lama bersama kami. Dalam budaya dan tradisi arab perempuan yang bukan muhrim tidak mungkin bersama lelaki lain, kecuali dalam keadaan memaksa (dlarurat). Maka aku minta kepada si saik untuk membawa kami ke penginapan yang ada di desa tersebut. Setelah bertanya pada penduduk setempat mobil bergerak pelan menuju ke tengah-tengah pemukiman, tempat satu-satunya penginapan itu berada.

“Ya Fulanah! Adakah kau mempunyai seseorang yang bisa aku hubungi?” Tanyaku dalam bahasanya.

Perempuan yang sampai saat ini belum ku tahu namanya itu hanya mengangguk. “pelit amat kau!” besitku dalam hati. Sungguh padahal di negeriku ada pepatah; barang siapa malu bertanya maka sesat di jalan. Ini orang sudah tersesat, masih pelit bicara. Aduh, pasti orang seperti ini di negeriku akan selamanya tersesat. Bukan karena dia tidak baik, melainkan apalagi di daerah sumatera, konon orang yang paling baik adalah orang yang menyesatkan penanya jalan.

“Siapa?”

“Wa qad Ahsana bii idz akhrajanii min assijni wa ja~a bikum min albadwi min ba’di an nazagha asysyaithanu bainii wa baina ikhwatii”[20]

Dengan jawaban tersebut aku tahu kalau dia terpisah dari saudaranya dalam perjalanan. Tidak mungkin orang yang ketat beragama seperti orang-orang Yaman macam dia keluar dari rumah sendirian, seperti yang sudah menjadi kebiasaan perempuan di negeriku, itu tidak mungkin. Setiap kali perempuan-perempuan Hadramiy itu keluar dari sarangnya, pasti ada satu dua keluarga yang menyertai, entah itu ayah atau saudara lelakinya. Tapi ia tidak menyebutkan siapa saudaranya itu.

“Adakah nama yang bisa aku gunakan untuk memanggil saudaramu, Ya Fulanah?”

Mendengarku mengulang pertanyaan aku berharap kali ini yang keluar dari mulutnya adalah sebuah nama, dan bukan teka-teki ayat yang harus membuatku berpikir terlebih dahulu untuk menangkap jawaban. Ia segera menjawab, tapi suara bising mobil menelan mentah-mentah suaranya yang rendah dan pelan itu. 

“Ma? Qul jahran Ya Fulanah!” bentak Umar tidak sabar.

Wanita itu sedikit terkaget dengan suara keras umar, sembari memagangi jantung lalu mengulangi jawaban. Kali ini dengan suara yang cukup keras untuk kami dengar.

“Wa attakhada Allahu Ibrahima khalila…. Ya Yahya khudzi alkitaba bi quwwah.”[21]

Hemm.. Aku kira dia akan menyebutkan namanya saja, namun ternyata nama saudaranya itu juga ada dalam deretan ayat-ayat kitab suci. Aku memandang Umar, umar mengangguk. “Yahya dan Ibarahim,” lanjutku.

“Mungkin?”

“Coba kau cari di penginapan!” ujarku kepada Umar.

“Ah, tidak. Kau saja yang keluar!” kelitnya.

“Banci!”

“Ma huwa banci?” Tanya Xafi atas bahasa asing kami.

“Banci ‘inda lughatil arab; khuntsa, ya Xafi!” jelasku

Xafi tertawa mendengarnya.

“Amma inda lughat Asbaniyyah: Afimanado” lanjut Xafi memberi dalam bahasa Spanyol.

“Tak pantas kau bernama Umar! Lebih baik jika kau kujuluki Afimanado, benarkan seperti itu?”

“Na’am.. Afimanado. Hahaha” Xafi tertawa terpingkal-pingkal.

“Kenapa tak pantas?” tampik Umar nampak marah ditertawakan.        

“Memang tak pantas. Umar itu nama seorang yang pemberani, bukan cuman keras doank! Kalau Cuma keras, Abu Lahab juga keras, alias kolot!”

Umar melawan, mencoba membantah tuduhanku atas dirinya. Dia coba memintaku untuk diam di dalam mobil. Xafi melerai percekcokan kami. Tapi aku tak hiraukan, lalu keluar menuju penginapan. Si sopir menyusul di belakangku, dan mendahuluiku ketika masuki pintu penginapan.

Perasaanku sangat jengkel terhadap Umar. Aku suka orang yang teguh dalam beragama, keras dalam mempertahankan prinsip, tapi aku tak suka dengan orang yang ‘sok’ seperti Umar. Teramat jauh perangainya bila dibandingkan dengan Umar yang habib, guru kami. Umar ini bisanya cuma meniru kerasnya saja, tidak alim apalagi saleh. Beda dengan guru kami, keteguhannya mendasar, murah senyum dan murah hati dengan umat, kendati berdisiplin keras akan tetapi untuk pribadi dan keluarganya sendiri.

Seorang syeikh yang mempunyai penginapan tersebut keluar menemui kami. Aku masih ingat, saat itu ia menyebut serta marga keluarganya. Ya, nama marga yang tidak asing bagi telinga orang indonesa macam aku, satu-satunya keluarga bermarga Baswedan di desa tersebut, seperti nama seorang tokoh yang cukup terkenal di negeriku.

Syeikh Aqil si tuan penginapan itu meminta maaf pada kami karena kamar di penginapannya sudah penuh.

“Oh, bukan itu maksud kedatangan kami ke sini?” kataku coba meluruskan kesalah-pahaman tersebut.

“Sukurlah jika memang seperti itu!” balasnya dengan logat lahm khas Yamannya.

Aku menjelaskan maksud kedatangan kami. Syeikh Aqil sangat khidmat menyimak bahasaku yang agak payah, sembari membelai-belai jenggotnya yang tak lagi hitam, bahkan sudah tampak uban pada alisnya. 

Beliau lalu mengajak kami ke atas. Aku mengikutinya menaiki tangga, sedangkan si syekh tidak ikut masih tetap di bawah. Sesampai di atap loteng kudapati  tamu-tamu penginapan sedang bersantai-santai menikmati angin malam. Beberapa orang di saftah sebelah kiri tangga duduk melingkar, membuat semacam riungan. Di tengah-tengah mereka tersaji cangkir-cangkir yang kemudian aku ketahui ternyata berisi kopi bun. Syeikh Aqil mempersilakan. “Ya, mereka lah tamu-tamu ku. Coba anda Tanya sendiri..” 

“Baik Syeikh”

Dengan harapan salah satu diantaranya adalah saudara wanita yang bersama kami, aku menghampiri mereka.

“Assalamualaikum..”

“Waalaikum salam wa rahmah..”

“Afwan, apakah di antara kalian ada yang bernama Ibrahim dan Yahya?” tanyaku dalam bahasa mereka.

Mereka tidak segera menjawab, saling pandang, berbicara sangat cepat dengan bahasa lahm, terdengar seperti cericau burung manyar. Yang terdengar jelas cuma ketika mengulangi nama yang kutanyakan, “Ibrahimm,. Ibrahimm.. wa yahya.. mitsla anbiya..” ulang salah-satunya.

“Ma fi ismina Ibrahim,” jawab yang lain.

Pandanganku terjatuh. Seketika harapanku buyar kala mendapat jawaban yang nihil. Kasihan kalau tak sampai aku menemukan saudara perempuan itu. Kami tak mungkin membawanya dalam perjalanan malam ini. Sialnya lagi kamar penginapan juga sudah penuh.

“Syukran..”

Aku kembali kepada tuan penginapan. Aku berpikir meminta tolong agar memberitahukan kabar ini kepada semua tamu penginapan yang masih ada di dalam kamar. Syeikh Aqil tidak berani. Pantangan baginya mengganggu pelanggan yang sedang beristirahat, karena salah satu pelayanan yang ditawarkan penginapannya adalah kenyamanan pengunjung. Aku coba mendesaknya, merayunya, agar mau memudahkan. Tapi beliau masih bersikukuh. Lebih panjang lagi, beliau menghadirkan hadits; ma yu’min bi yaumil akhir fal yukrim dlaifahu..aku jadi tak berkutik mendengarnya.

Syeikh Aqil menawarkan untuk datang lagi besok, kami tidak bisa, sebab kami akan langsung melanjutkan perjalanan yang masih bermil-mil jauhnya, mengingat waktu sewa, karena bukan mobil pribadi. Aku sudah menyerah, dan bermaksud membawa serta perempuan itu ke Sana’a. Mungkin lewat tengah kami baru akan sampai tempat tujuan, dan waktu yang sangat lama untuk bersama wanita asing. Tapi mau bagaimana lagi? Aku sudah mengambilnya, dan aku pula sekarang yang bertanggung jawab atas keselamatan dirinya.

Ketika turun ke lantai dua terdengar suara pintu yang dibuka. Suara tersebut berasal dari lorong ujung. Aku meminta ijin pada Syeikh Aqil untuk menunggu sebentar. Barangkali ada seseorang yang bakal keluar dari kamarnya, dan tentu harapanku orang tersebut adalah Ibrahim atau Yahya.

Suara jejakan kaki di atas lantai semakin mendekati tempatku berhenti. Lorong yang gelap tanpa penerang membuat wujud suara itu belum juga nampak, mungkin berasal dari kamar yang paling ujung. Antara sesaat kemudian lelaki berbadan tegap muncul dari belik kegelapan. Aku memberanikan diri untuk menyapa dan menghentikannya.

Betapa syukur hatiku ketika kuketahui orang tersebut bernama Ibrahim. Lantas saja ku beritahukan apa yang terjadi. Mendengar penjelasanku Ibrahim juga sangat senang. Ia jabat tanganku dan menariknya kedalam dekapannya. Seperti salaman orang pulang haji. Ia merasa bersyukur.

Aku ajak Ibrahim untuk turun ke mobil memastikan apakah perempuan tersebut adalah saudarinya. Hampir tiap langkahnya ia sertai dengan ucapan terima-kasihnya kepadaku. Aku jadi tak enak sendiri dengan sifat berlebihan itu, walau pun sebagai awam aku juga senang.

Di sudut ruang tamu si saik sudah terkapar tak sadarkan diri. Aku mengajak Ibrahim langsung keluar menuju tempat mobil diparkirkan. Xafi dan Umar kulihat sedang isis di atas permadani yang sengaja mereka gelar di belakang mobil. Sedangkan penikmat daun Ghot sudah tak bernyawa di jok depan. Pikirku juga, mungkin Umar memilih di luar karena tidak nyaman dengan wanita asing dalam satu ruangan, dan bagiku itu juga baik.

Ibrahim segera membuka pintu mobil untuk menghampiri saudaranya. Kudengar dari luar mereka berdua menangis. Barangkali adalah tangis kebahagiaan karena mereka telah dipertemukan kembali. Aku ikut terharu. Xafi dan Umar tiba-tiba telah berdiri di sampingku. Ibrahim keluar menemui kami, dan bilang kalau wanita itu benar-benar saudarinya. Aku mempersilakan ia membawanya dari kami.

Kami bertiga lalu masuk ke penginapan guna memenuhi undangannya. Lagian kami juga perlu membangunkan si sopir yang masih tertidur pulas di ruang tamu.

“Kami tunggu di sini saja..” ujarku ke pada Ibrahim.

“Baiklah. Mau kubuatkan kopi?” tawarnya kepada kami.

“tidak..tidak..” serempak kami bertiga menjawab. Karena tahu, kopi yang dimaksud Ibrahim adalah kopi bun. Ia tidak lebih manis dari jamu bagi lidah kami.

“Ya..ya,, aku tahu” sambungnya. “Kalau sahi kalian pasti suka?”

Ibrahim mengajak saudarinya naik ke kamar meninggalkan kami. Aku membangunkan si sopir. Kali ini aku lihat wajah Umar tak setegang sebelumnya. Ia sudah mulai bisa tersenyum kembali. Xafi memilih berbicang-bicang dengan Syeikh Aqil di ruang sebelah untuk menunggu. Antara beberapa saat Ibrahim telah turun kembali menyapa kami. Sesaat kemudian disusul lelaki lain yang nampaknya adalah Yahya, membawakan sahi dan roti untuk jamuan kami. Aku minta umar memanggil xafi untuk ikut bergabung.

“Bagaimana ceritanya, sampai bisa terpisah dengan saudari anda?” tanyaku untuk memulai percakapan.

“Awalnya kami pulang Haji. Dalam perjalanan di gurun terjadi badai. Kami serombongan berpencar untuk mencari tempat berlindung masing-masing. Badai berlangsung cukup lama dan parah menerjang kami. Saking parahnya, apa yang kami lihat seperti dinding tampak di depan muka. Aku sendiri berusaha menyelamatkan apa yang kami bawa, dan Yahya memegang Kendali onta. Ya, itulah kira-kira yang terjadi saat itu. Setelah badai mereda kami telah kehilangan Wudah. Kami terpisah sejak itu. 

Aku berusaha menacarinya tapi tak menemukan. Kami juga sudah menunggunya lama, tapi Wudah tidak segera muncul. Mengingat perbekalan menipis, kami memutuskan untuk singgah di desa terdekat sebelum mencarinya kembali. Rencana besok pagi kami berangkat mencarinya. Sukurlah kalian telah membawanya terlebih dahulu kepada kami.” Jawab ibrahim dalam bahasanya, menceritakan apa yang sebenarnya terjadi.

Setelah bercakap-cakap seantara dan telah pula menikmati jamuan kami meminta undur diri. Sebenarnya Ibrahim meminta kami duduk lebih lama, namun kami memaksa berangkat, mengingat perjalanan masih cukup jauh. 

“Masya Allah, aku hamper lupa! Apakah saudari anda tidak berbicara selain itu?”

“Apa? Maksud anda, cara adik saya berbicara dengan menggunakan Ayat-ayat Qur’an?”

“Iya.”

“Seingatku, itu sudah lama, sekitar tujuh tahun yang lalu. Sejak itu ia  tidak lagi bicara kecuali dengan ayat-ayat suci.”

“Subahanallah.. Mengapa?”

“Entahlah.. mungkin dia takut kalau hafalannya hilang!” 

Ibrahim mengantarkan kami sampai mobil.

“Terimakasih.. atas jamuannya..”

“Terimakasih juga, telah membawa Wudah kepada kami..”

“Mohon doanya.. semoga selamat di perjalanan..”

“Amin.. Ma’assalamah wassahalah..”

Aku lepaskan jabat tangan Ibrahim kemudian segera menyusul Xafi dan Umar yang terlebih dahulu masuk. Mobil bergerak melanjutkan perjalanan. Ibrahim tampak masih berdiri mematung melepas kepergian kami. Perasaan menjadi lega, selega perasaan mereka.

Sekitar pukul 23: 30, mobil yang kami naiki melintas melewati Raydah. Tidak ada yang bisa kami lihat atas kota itu kecuali warna gelap malam dengan sedikit pernak-pernik lampu. Sayang perjalanan antara Himr dan Raydah kami tempuh pada malam hari. Andai saja lebih awal kami tiba, setidaknya sebelum petang, tentu kami bisa singgah ke daerah Darwan untuk menengok tempat Ashabul Jannah  berada.

Aku dengar Umar telah mendengkur tidur di jok belakang.  Sedangkan Xafi nampaknya sedang asik menyenandungkan kasidah-kasidah dari Diwan Hadad. Aku sendiri masih terngiang-ngiang akan wanita mulia itu. Bagaimana bisa dia berbicara hanya dengan ayat-ayat Al-Qur’an? Apa dia tidak bosan? Aku tak habis pikir. Hehehe..akhlak yang sangat cantik. Walaupun aku tak sempat melihat wajahnya, aku rasa perempuan itu mempunyai bibir yang seksi. 

Sebentar kemudian aku tak sadarkan diri. Dan terbangun kembali ketika mobil telah berhenti di depan sebuah penginapan di kota Sana’a. aku lihat jam menunjukkan pukul 01.50 dini hari.

_________ [1] .Yasin 58[2] .Al A’raf 186[3] .Idem[4] .Idem [5] . Albaqarah 196 – Hud  60[6] .Qaf 18[7] .Maryam 9 [8] .Assyu’ara 79[9] .Albaqarah 187[10] .Idem 158 [11] .Idem 184 [12] .Yusuf  92[13] .Albaqarah 197[14] . “Sabarlah wahai saudara..”[15] .Al Anbiya 79[16] .Annur 30[17] .Azzukhruf 13 / 14[18] . Luqman 10 – Muzammil 20[19] .Almaidah 104[20] . Yusuf 100[21]. Annisa’ 125 – Maryam 12

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru AlaNu, Pahlawan, Kajian Islam Ustadz Felix Siauw Terbaru

Bentengi Aqidah Nahdliyin, GP Ansor Tlanakan Bincang Aswaja

Pamekasan,Ustadz Felix Siauw Terbaru. Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor Kecamatan Tlanakan, Kabupaten Pamekasan, Jawa Timur, menggelar talk show keaswajaan dengan tema Mengokohkan Faham Aswaja di Tengah Benturan Peradaban (Tradisionalis, Modernis dan Kebangsaan pada Ahad (23/2).  

Kegiatan yang diselenggarakan di Pendopo Kecamatan Tlanakan ini dihadiri oleh Pengurus MWC NU Tlanakan, lembaga, lajnah, Badan Otonom beserta seluruh jajaran Penguruss Ranting (PR) NU se-Kecamatan Tlanakan dan diikuti pemuda, mahasiswa, santri dan pelajar.

Bentengi Aqidah Nahdliyin, GP Ansor Tlanakan Bincang Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
Bentengi Aqidah Nahdliyin, GP Ansor Tlanakan Bincang Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

Bentengi Aqidah Nahdliyin, GP Ansor Tlanakan Bincang Aswaja

Moh. Wahyudi, S.Pd Ketua PAC. GP. Ansor Tlanakan dalam sambutannya mengatakan, talk show ini dilaksanakan untuk membentengi kader NU, juga untuk mematahkan pendapat-pendapat Salafi Wahabi yang mengusung jargon berdiri diatas sunnah yang menganggap salah amaliah yang dilakukan oleh warga NU.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Acara tersebut dilaksanakan dalam dua sesi, pada sesi pertama hadir sebagai narasumber adalah Dr. H. Nor Hasan M.Ag (Dosen STAIN Pamekasan)yang memaparkan tentang sosio historis dan sumber ajaran aswaja An-Nahdliyah dan Drs. H. Zainol Hasan, M.Ag (Pengurus PC. NU Pamekasan) yang berbicara Aswaja dari sisi tradisionalis moderenis.

Pada sesi kedua, hadir sebagai pembicara adalah Badrut Tamam, S.Psi (Sekretaris F-KB DPRD 1 Jawa Timur) yang mengupas Aswaja dari sisi Kebangsaan. Dalam pemaparannya, Ra Badrut, begitu dia biasa disapa, mengharapkan supaya kader NU pada umumnya, dan Ansor pada khususnya bisa menjadi faktor kepemimpinan pada level kabupaten, propinsi hingga nasional dan bisa membawa misi kemakmuran untuk NKRI. (Ach. Mudani/Abdullah Alawi)

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Ulama, Makam Ustadz Felix Siauw Terbaru

Jumat, 29 Desember 2017

Saepul dan Esti, Nahkoda Baru IPNU-IPPNU Sumedang

Sumedang, Ustadz Felix Siauw Terbaru. IPNU-IPPNU Kabupaten Sumedang telah selesai melaksanakan Konferensi Cabang (Konfercab), Sabtu (3/10) lalu di aula Kemenag Kabupaten Sumedang. Dalam Konfercab ini berhasil menetapkan Saepul Hamdan serta Esti Siti Nurrobi’ah sebagai Ketua IPNU dan IPPNU yang baru.

Saepul dan Esti, Nahkoda Baru IPNU-IPPNU Sumedang (Sumber Gambar : Nu Online)
Saepul dan Esti, Nahkoda Baru IPNU-IPPNU Sumedang (Sumber Gambar : Nu Online)

Saepul dan Esti, Nahkoda Baru IPNU-IPPNU Sumedang

Sebelumnya, hadir dalam pembukaan Konfercab kali ini antara lain Ketua PCNU Sumedang, Ketua Pimpinan Wilayah IPNU Jawa Barat, Perwakilan DPD KNPI Sumedang, Sekretaris LP Ma’arif Kabupaten Sumedang, Alumni, dan Senior.?

Harapan-harapan agar IPNU-IPPNU Sumedang lebih baik di periode selanjutnya banyak terucap ketika para tamu undangan memberikan sambutan, walaupun tidak sedikit yang memberikan apresiasi kepada Salman dan Irma selaku Ketua cabang sebelumnya.?

Ustadz Felix Siauw Terbaru

“Regenerasi IPNU dan IPPNU Sumedang kali ini sangat baik, terbukti dengan selalu tepatnya melaksanakan Konfercab. Saya ucapkan terima kasih kepada Salman dan Irma dengan karakter mereka berdua bisa memimpin IPNU dan IPPNU Sumedang dengan baik, mudah-mudahan periode Saepul dan Esti, IPNU-IPPNU Sumedang bisa lebih baik lagi,” ujar KH Sa’dullah, Ketua PCNU Sumedang.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Acara yang dihadiri sekitar 150 orang tersebut memutuskan Saepul dipilih secara aklamasi karena dua calon pesaing ? tidak memenuhi persyaratan sebagai calon ketua cabang IPNU yang baru. Sedangkan pada kesempatan yang lain, sidang pemilihan ketua IPPNU yang baru terjadi persaingan ketat antara Esti dengan Nuri Noor Azizah, terbukti perbandingan suara yang diperoleh keduanya berbeda tipis.

Ada hal unik dari kedua orang pimpinan IPNU dan IPPNU Sumedang yang baru ini, dimana pada saat menjadi pengurus di periode sebelumnya, keduanya sama-sama menjadi Sekretaris Cabang IPNU-IPPNU Sumedang. Kemudian di Konfercab kali ini, mereka berdua sama-sama menjadi ketua.

Selain sidang-sidang, acara pada konfercab juga diisi dengan Stadium General tentang Pendidikan dan Organisasi yang disampaikan oleh Bapak Asep Kurnia, SH,MH (Ketua KPU Sumedang). Stadium General yang dilaksanakan kurang lebih 30 menit ini banyak membahas tentang pentingnya pendidikan dan manfaat yang didapat dalam organisasi. (Ayi Abdul Kohar/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Cerita, AlaSantri Ustadz Felix Siauw Terbaru

Rayakan Harlah, IPNU-IPPNU Lasem Gelar Khotmil Qur’an

Rembang, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Mengawali peringatan harlah, para pengurus IPNU dan IPPNU Lasem mengkhatamkan 30 juz Al-Qur’an di luar kepala. Upacara khataman itu kemudian dilanjutkan dengan pembacaan tahlil sebelum dialog terbuka dengan para Pembina di Gedung PCNU Lasem, Senin (3/3).

Ketua PC IPNU Lasem Syaiful Anam menyampaikan, peringatan harlah ke-60 IPNU dan ke-59 IPPNU ini diadakan bertujuan membakar semangat kader baru pelajar NU.

Rayakan Harlah, IPNU-IPPNU Lasem Gelar Khotmil Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Rayakan Harlah, IPNU-IPPNU Lasem Gelar Khotmil Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Rayakan Harlah, IPNU-IPPNU Lasem Gelar Khotmil Qur’an

“Ini menjadi langkah awal dalam pengaderan pada periode ini di mana penggalakan kaderisasi merupakan prioritas,” kata Syaiful.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Pembina IPNU Arif Dimyati menegaskan, “Penggalakkan kaderisasi sangat perlu. Tetapi pendalaman terhadap NU tidak kalah penting. Kita pun harus menata niat perjuangan di IPNU dan IPPNU, bahwa kita khidmah di NU juga melestarikan aswaja.”

Peringatan ini ditutup dengan pemotongan nasi tumpeng. (Akhmad Sayuti/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Ustadz Felix Siauw Terbaru Humor Islam, Budaya, Cerita Ustadz Felix Siauw Terbaru

Ratusan Siswa dan Guru SMK Plus NU Sidoarjo Shalat Ghoib untuk KH Mas Subadar

Sidoarjo, Ustadz Felix Siauw Terbaru - Sekitar 280 siswa kelas X dan XI beserta dewan guru SMK Plus NU Sidoarjo menunaikan shalat ghoib untuk pengasuh pesantren Raudlatul Ulum, Besuk Kabupaten Pasuruan KH Mas Subadar. Mereka melangsungkan shalat itu di aula sekolah setempat. Sebelum shalat ghoib, mereka membacakan surat Yasin.

"Kegiatan ini merupakan bentuk pembelajaran kepada para siswa agar mengikuti instruksi dari PBNU. Di samping itu, kami juga ingin mengenalkan ulama NU kepada para siswa SMK Plus NU terutama kepada siswa baru (kelas X)," kata Guru BK SMK Plus NU Sidoarjo M Zakariya, Senin (1/8).

Ratusan Siswa dan Guru SMK Plus NU Sidoarjo Shalat Ghoib untuk KH Mas Subadar (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Siswa dan Guru SMK Plus NU Sidoarjo Shalat Ghoib untuk KH Mas Subadar (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Siswa dan Guru SMK Plus NU Sidoarjo Shalat Ghoib untuk KH Mas Subadar

Menurutnya, Kiai Mas Subadar merupakan sosok ulama yang konsisten di NU dan telaten membimbing umat di garis bawah. Pihaknya juga turut berbelasungkawa atas wafatnya salah satu kiai NU ini.

"Semoga keluarga almarhum diberikan Allah kesabaran, ketabahan, dan mampu meneruskan perjuangan almarhum baik di pesantren maupun di masyarakat NU," ia berdoa.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Lebih lanjut Zakariya mengatakan, para siswa, dewan guru beserta karyawan SMK Plus NU Sidoarjo juga rutin setiap hari menunaikan shalat dhuha, zhuhur dan ashar berjamaah. Kegiatan ini dilakukan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. (Moh Kholidun/Alhafiz K)

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru PonPes, Humor Islam Ustadz Felix Siauw Terbaru

GP Ansor Mulai Pra Kongres di Makassar

Makassar, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Menjelang pelaksanaan kongres ke-XV Gerakan Pemuda Ansor, acara pendahuluan berupa kegiatan pra kongres dilaksanakan di beberapa daerah yang dibagi per region. Kali ini yang menjadi pelaksanaan adalah regional III yang meliputi seluruh Sulawesi, Maluku, Maluku Utara, dan Papua. Acara dilaksanakan di Makasar pada Sabtu-Ahad (31/10—1/11/2015).?

GP Ansor Mulai Pra Kongres di Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)
GP Ansor Mulai Pra Kongres di Makassar (Sumber Gambar : Nu Online)

GP Ansor Mulai Pra Kongres di Makassar

Kongres ke XV GP Ansor akan dilaksanakan di Pesantren Sunan Pandanaran, Jl Kaliurang Km 12,5 Sardonoharjo, Sleman, Yogyakarta, 25-27 November 2015.

Fathul Maskur, wasekjen PP GP Ansor mengatakan pra kongres adalah bagian dari persiapan atau semacam warming up, agar kongres ? yang merupakan forum permusyawaratan dan pemegang kekuasaan tertinggi dalam organisasi itu berjalan sukses.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Pra kongres ini akan dibuka oleh Ketua Umum PP GP Ansor, H. Nusron Wahid.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Fathur menjelaskan pra kongres ini mempunyai arti sangat penting, yakni sebagai forum sosialisasi persiapan teknis kegiatan kongres XV, penyampaian materi dan pembahasan materi kongres, pembahasan sejumlah program, kendala dan solusinya, hingga soal teknis seperti registrasi peserta.

Sosialisasi persiapan teknis kegiatan Kongres XV akan disampaikan oleh panitia pelaksana, adapun penyampaian materi kongres akan dibawakan oleh panitia pengarah.?

"Di sini, para peserta diberikan kesempatan untuk membahas bersama-sama," tambahnya.

Pra kongres juga akan membahas implementasi dan evaluasi program Akreditas Pimpinan Cabang (PC) dan Pimpinan Wilayah (PW), yang akan dipandu secara khusus oleh Tim Akreditas Pimpinan Pusat GP Ansor.

Tak kalah penting, panitia juga akan membuka registrasi peserta Kongres XV. "Nah, ini tentu bagi PC dan PW yang sudah lolos akreditasi organisasi," kata Fatkhul Maskur.

Setelah pra kongres di regional III, PP GP Ansor selanjutnya akan menggelar pra kongres lanjutan untuk wilayah di regional II, dan regional I.

Kongres diselenggarakan untuk (1) menilai pertanggungjawaban Pimpinan Pusat, (2) menetapkan program umum organisasi, (3) menetapkan Peraturan Dasar/Peraturan Rumah Tangga, (4) merumuskan ? kebijaksanaan ? organisasi berkaitan dengan kehidupan, kebangsaan, kemasyarakatan dan keagamaan, dan (5) memilih Pimpinan Pusat. (Anwar Muhammad/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Syariah, Meme Islam Ustadz Felix Siauw Terbaru

Kamis, 28 Desember 2017

Ratusan Santri Rembang Galang Aksi Seribu Foto Selfie Antiradikalisme

Rembang, Ustadz Felix Siauw Terbaru - Rastusan santri di Kecamatan Sedan Kabupaten Rembang menolak penyebaran radikalisme di Indonesia. Mereka mengadakan aksi “Seribu Foto Selfie Gerakan Santri Antiradikalisme” yang berpusat di aula MA YSPIS Desa Gandrirojo Kecamatan Sedan, Kamis (18/2) pagi.

Ketua Panitia Pelaksana Aan Ainun Najib mengatakan, aksi ini merupakan buntut dari maraknya pemberitaan tentang bahaya penyebaran kelompok-kelompok radikalisme yang sebagian besar juga menyerang pesantren dan madrasah tertentu.

Ratusan Santri Rembang Galang Aksi Seribu Foto Selfie Antiradikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Ratusan Santri Rembang Galang Aksi Seribu Foto Selfie Antiradikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Ratusan Santri Rembang Galang Aksi Seribu Foto Selfie Antiradikalisme

Pihaknya berharap dengan adanya kegiatan semacam ini, para santri akan mengetahui bahaya perilaku dan paham radikalisme. "Memang kami menyosialisasikan bahaya perilaku dan paham radikal ini dengan berfoto selfie karena remaja sekarang hobi berfoto selfie," jelas Wakil Ketua IPNU Rembang tersebut.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Aksi ini juga menggalang dukungan dari para pengguna media sosial, baik facebook, twitter maupun instagram dengan menggunakan hashtag #GerakanSantriAntiRadikalisme atau #Ge_SAR.

"Kami berharap partisipasi para pengguna media sosial agar turut peduli dalam aksi pencegahan perilaku dan paham radikal ini dengan menggunakan hashtag #GerakanSantriAntiRadikalisme atau #Ge_SAR," pungkasnya.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Dengan menggunakan kertas yang bertuliskan pesan penolakan paham radikal para santri mengekspresikan diri lewat foto selfie. Mereka juga diwajibkan untuk mengikuti hashtag yang telah ditentukan pihak panitia sebagai upaya sosialisasi pencegahan perilaku dan paham radikal lewat media sosial.

Ketua MWCNU Sedan Muhtar Nur Halim mengatakan, pihaknya akan terus mengawal upaya untuk menangkal paham dan perilaku radikal.

"Nanti malam kita akan mengadakan talkshow dengan tema menggugat paham dan perilaku radikal yang mana akan dihadiri ratusan peserta dari remaja-remaja NU yang peduli terhadap upaya penolakan radikalisme," ujar Muhtar di sela-sela mengikuti sesi acara foto selfie.

Peserta yang mayoritas merupakan anggota Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) tampak begitu sangat semangat dalam menggelorakan penolakan terhadap perilaku dan paham radikali.

Turut hadir para pengurus harian IPNU-IPPNU Rembang, serta aktivis pelajar NU dari komisariat IPNU-IPPNU MA YSPIS Gandrirojo. (Red Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Nasional Ustadz Felix Siauw Terbaru

Subhanallah, Bupati Pringsewu dan Putera-Putrinya Hafal Al-Qur’an

Pringsewu, Ustadz Felix Siauw Terbaru?

Selama bulan Ramadhan 1438 H ini, Bupati Pringsewu KH Sujadi menggelar Ngaji Tafsir Al-Qur’an di kediamannya, di Desa Gemah Ripah Kecamatan Pagelaran yang juga merupakan kompleks Pondok Pesantren Nurul Ummah. Pada Kamis (22/6) rangkaian pengajian yang langsung diasuhnya tersebut ditutup dengan semaan Al-Quran bil Ghoib.

Ada yang spesial dari semaan yang dilaksanakan setelah Shalat Shubuh di Aula Kediaman Bupati yang juga Hafidz Al-Qur’an ini. Abah Jadi, begitu ia biasa dipanggil, meminta kepada tiga putera-puterinya yang juga hafidz dan hafidzah yaitu Ahmad Zaini, Syafiah Musyafaah dan Hilyana Marufah untuk membaca Al-Qur’an bilghoib (dihafal) dan disimak oleh para jamaah yang hadir.

Subhanallah, Bupati Pringsewu dan Putera-Putrinya Hafal Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)
Subhanallah, Bupati Pringsewu dan Putera-Putrinya Hafal Al-Qur’an (Sumber Gambar : Nu Online)

Subhanallah, Bupati Pringsewu dan Putera-Putrinya Hafal Al-Qur’an

Dari jamaah yang hadir, tampak istri bupati, Nyai Nurrohmah khusyuk mendampingi dan menyimak ketiga putera-puterinya bergantian menghafal Al-Qur’an. Terlihat juga Rita, isteri Wakil Bupati Pringsewu H. Fauzi.

Ditemui di sela-sela kegiatan, salah satu putra Mustasyar PCNU Pringsewu ini, Ahmad Zaini, mengatakan bahwa kegiatan selama Ramadhan di tempat tersebut sangat padat. Selain tadarus Al-Quran dan tahfidzul Qur’an, kajian kitab Muhtarul Hadits setiap habis Isya dan kitab Safinatunnaja dan Talimul Muta’alim habis subuh, juga dilaksanakan.

"Padatnya kegiatan sebagai Bupati dan jadwal pesantren tidak menghalangi Abah untuk mengisi jadwal ngaji," kata alumnus dari Yaman ini.?

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Gus Ahmad, begitu ia biasa disapa, menambahkan bahwa pada bulan puasa tahun ini, selain rutin mengimami shalat tarawih, KH Sujadi juga istiqomah mengisi kajian hadits usai shalat Subuh.

Sementara itu Abah Sujadi, pada saat sambutan pembukaan kegiatan semaan tersebut berpesan agar Ramadhan tahun ini menjadi motivasi untuk meningkatkan ibadah kepada Allah SWT.?

Ustadz Felix Siauw Terbaru

"Mari kita tutup kegiatan di pondok ini dengan harapan, semoga di puasa tahun berikutnya lebih hebat lagi," katanya di hadapan para santri dan ? tetangga yang turut berjamaah Subuh.

Kegiatan semaan yang tepat dilaksanakan pada satu bulan kepemimpinan H. Sujadi sebagai Bupati Pringsewu di periode kedua ini berakhir pada pukul 16.00 WIB. Setelah kegiatan tersebut, di tempat yang sama, dilanjutkan dengan buka puasa bersama pegawai Pemerintahan Daerah Kabupaten Pringsewu. (Muhammad Faizin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru PonPes, Berita Ustadz Felix Siauw Terbaru

Awal Sya’ban 1438 H Jatuh pada Jumat 28 April

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Terbaru

Lembaga Falakiyah Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengumumkan bahwa awal bulan Sya’ban 1438 Hijriah jatuh pada Jumat (28/4). Ikhbar ini berdasarkan hasil observasi langit oleh tim rukyah Lembaga Falakiyah PBNU.

Awal Sya’ban 1438 H Jatuh pada Jumat 28 April (Sumber Gambar : Nu Online)
Awal Sya’ban 1438 H Jatuh pada Jumat 28 April (Sumber Gambar : Nu Online)

Awal Sya’ban 1438 H Jatuh pada Jumat 28 April

Ketua Lembaga Falakiyah PBNU KH Ghazalie Masroeri mengatakan, rukyat yang dilakukan pada Rabu (26/4) petang atau bertepatan dengan 28 Rajab berkesimpulan bahwa hilal tidak terlihat di seluruh wilayah Indonesia. Sehingga, bulan Rajab disempurnakan menjadi tiga puluh hari (istikmal).

“Terima kasih atas partisipasi dan kontribusi Nahdliyin (dalam rukyat kali ini),” katanya dalam siaran pers.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Ikhbar ini sesuai dengan data hisab Lembaga Falakiyah PBNU yang memprediksi bahwa tanggal 1 Sya’ban akan berlangsung pada Jumat Pon, 28 april 2017. Tinggi hilal pada pantauan Rabu petang mencapai -0 derajat 23 menit 37 detik.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Syaban adalah bulan kedelapan dalam hitungan kalender hijriah. Dalam bahasa Arab ia berasal dari kata syiab yang artinya jalan di atas bukit. Di bulan ini umat Islam dianjurkan mengamalkan amalan-amalan tertentu, khususnya pada malam pertengahan Sya’ban atau populer disebut Nisfu Sya’ban. (Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Pendidikan, Kajian Islam Ustadz Felix Siauw Terbaru

Rabu, 27 Desember 2017

Doa Rasulullah SAW saat Lunasi Utang

Kita bagaimanapun berutang budi pada orang yang meminjamkan uang. Karenanya kita dianjurkan untuk mendoakan orang yang meminjamkan uang sebagai bentuk balas budi kepadanya di samping ucapan terima kasih.

Berikut ini adalah doa yang diajarkan Rasulullah SAW ketika kita membayar utang.

Doa Rasulullah SAW saat Lunasi Utang (Sumber Gambar : Nu Online)
Doa Rasulullah SAW saat Lunasi Utang (Sumber Gambar : Nu Online)

Doa Rasulullah SAW saat Lunasi Utang

? ? ? ? ? ? ? ?

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Bârakallâhu laka fî ahlika wa mâlika, wa jazâka khairan

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Artinya, “Semoga Allah menurunkan keberkahan bagimu terutama untuk keluarga dan hartamu. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan-Nya.”

Doa ini merupakan bentuk terima kasih kepada orang yang telah berbuat baik. Doa ini disebutkan Imam Nawawi dalam karyanya Al-Adzkar. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Nasional, Makam Ustadz Felix Siauw Terbaru

Mendes: Keberhasilan Pembangunan Desa Bakal Tekan Radikalisme

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Terbaru

Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi Eko Putro Sandjojo menyatakan keberhasilan pembangunan perdesaan bakal menjadi salah satu kunci menekan maraknya tindak radikalisme. Selain persoalan ideologi, tindak radikalisme dipicu tingginya tingkat kesenjangan sosial yang memicu rasa frustasi masyarakat.

Mendes: Keberhasilan Pembangunan Desa Bakal Tekan Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendes: Keberhasilan Pembangunan Desa Bakal Tekan Radikalisme (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendes: Keberhasilan Pembangunan Desa Bakal Tekan Radikalisme

“Tindak radikalisme menjadi salah satu masalah yang bisa memecah belah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kondisi itu terjadi salah satunya akibat tingginya kesenjangan antara si kaya dan si miskin di Indonesia,” ujar Eko Putro Sandjojo saat menjadi pembicara dalam rangkaian kegiatan Kongres III Pencak Silat Nahdlatu Ulama Pagar Nusa di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta, Kamis (4/5).

Eko Putro Sandjojo mengatakan tindak radikalisme merupalan salah satu persoalan serius yang dihadapai bangsa saat ini. Umumnya paham radikalisme ini diimpor dari negara lain dengan embel-embel bagian dari perjuangan agama. Paham ini mudah diterima oleh sebagian warga yang memiliki cara pandang keagamaan sempit dan terbelit persoalan ekonomi. “Kesenjangan antara kaya dan miskin bisa memicu rasa frustasi publik. Kekalutan ini kemudian dimanfaatkan oleh para pembawa paham radikal untuk merekrut pengikut,” jelasnya.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Keberadaan Nahdlatul Ulama beserta badan otonomnya termasuk Pagar Nusa, lanjut Eko menjadi benteng untuk menghalau eskalasi paham radikal di masyarakat. Selama ini NU dikenal sebagai organisasi keagamaan yang selalu mengedepankan prinsip-prinsip tawassut, tassamuh, dan I’tidal dalam menyikapi berbagai persoalan bangsa. Pendekatan tersebut terbukti selalu membawa kesejukan di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang beragam. “NU (Nahdlatul Ulama) sejak ada di negara ini selalu menjaga pluralisme dan NU punya Pagar Nusa yang selalu siap menjaga kalau NKRI diganggu,” ujarnya.

Eko berharap nilai-nilai NU akan terus berkembang di tengah masyarakat. Di samping itu pembangunan perdesaan yang saat ini gencar dilakukan diharapkan mampu menekan kesenjangan sosial di masyarakat. Dana Desa dari tahun ke tahun yang terus bertambah harus memberikan dampak positif bagi peningkatan kesejahteraan warga desa. Komitmen Pemerintah Presiden Joko Widodo untuk membangun Indonesia dari pinggiran harus bisa dimanfaatkan untuk membangun wilayah perdesaan yang selama ini selalu terpinggirkan dalam gegap gempita pembangunan nasional.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

“Tahun ini dana desa jumlahnya Rp60 Triliun. Tahun depan naik menjadi Rp120 Triliun. Saya minta Pagar Nusa ikut menjaga supaya dana desa tidak dikorupsi oleh kepala desa dan perangkatnya,” tegasnya.

Di sisi lain, Eko mengatakan, pemerintah saat ini telah mampu melampaui target Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) pemerintah, untuk dapat meningkatkan 5000 desa tertinggal menjadi desa mandiri, dan sebanyak 2000 desa mandiri menjadi desa maju. “Sekarang Sudah ada 7000 desa mandiri menjadi desa maju. Mungkin saat menyususn RPJM belum memasukkan unsur dana desa,” ujarnya. (Red: Mahbib)



Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Habib Ustadz Felix Siauw Terbaru

Lima Pemberhentian Bersejarah

Di tengah perjalanan Rasulullah saw dari Makkah menuju Baitul Maqdis, tiba-tiba jibril mengintruksikan kepada buraq untuk berhenti di suatu tempat dan mempersilahkan Rasulullah saw turun untuk bersembahyang. Setelah itu Jibril menerangkan bahwa tempat ini nantinya akan menjadi tujuan hijrah-mu, inilah kota yang akan dikenal dengan sebuatan Madinah. Nabipun tidak terlalu banyak bertanya. Jibril selaku penunjuk jalan mengisyaratkan bahwa perjalanan akan segera dilanjutkan, dan rasulullah saw dipersilahkan untuk naik kembali ke tempat semual.

Beberapa saat kemudian, jibril kembali memberhentikan perjalanan. Dia menunjukkan bahwa tempat inilah yang disebut dengan kota madian. Kota bersejarah bagi nabi Musa a.s. Kembali Jibril menganjurkan Rasulullah saw untuk melakukan sembahyang di tempat tersebut. Setelah itu perjalanan kembali dilanjutkan.

Setelah sampai di sebuah gunung buraqpun kembali berhenti dan Jibri menerangkan bahwa gunung ini adalah satu-satunya gunung yang terpilih sebagai tempat dimana Allah berbicara langsung dengan nabi Musa as. Maka segeralah Nabi Muhammad saw mendirikan shalat di sana.

Lima Pemberhentian Bersejarah (Sumber Gambar : Nu Online)
Lima Pemberhentian Bersejarah (Sumber Gambar : Nu Online)

Lima Pemberhentian Bersejarah

Pemberhentian keempat kalinya terjadi di Betlehem (baitullahmi) tempat kelahiran Nabi Isa as. Seperti ketiga tempat lainnya Rasulullah saw pun dianjurkan Jibril untuk bersembahyang di sana. Tidak diterangkan dengan lengkap berapa raka’at Rasulullah saw mendirikan shalat dalam keempat pemberhentian tersebut. Tetapi momentum ini menunjukkan kepada umatnya betapa pentingnya napaktilas dan berziarah ke tempet-tempat bersejarah. Karena sejarah mengandung satu pelajaran yang tidak bisa diajarkan oleh yang lain.

Dan terakhir Rasulullah saw berhenti di Baitul Maqdis, di sana Rasulullah saw melaksanakan jama’ah bersama para nabi, para rasul dan juga para malaikat. Mengenai proses jama’ah ini akan diterangkan dalam tulisan lanjutan. (red. Ulil H)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Ustadz Felix Siauw Terbaru News, Daerah, RMI NU Ustadz Felix Siauw Terbaru

Selasa, 26 Desember 2017

"The Suffering Grasses" Dibedah Gusdurian Jakarta

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Film The Suffering Grasses akan dibedah Gusdurian Jakarta pada Forum Jumat Pertama. Bedah film tersebut dilaksanakan di Aula Wahid Institute pada Jumat malam ini, (3/5) mulai pukul 18.30 sampai dengan selesai.

The Suffering Grasses Dibedah Gusdurian Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)
The Suffering Grasses Dibedah Gusdurian Jakarta (Sumber Gambar : Nu Online)

"The Suffering Grasses" Dibedah Gusdurian Jakarta

Menurut pers rilis yang dikirim Seknas Gusdurian, tema diskusi bulanan ini mengangkat politik Timur Tengah yang akan dipantik film tersebut. Didaulat sebagai narasumber, Hasibullah Satrawi (alumni Al-Azhar Kairo, pengamat politik Timur Tengah).

Film yang mengisahkan Revolusi Suriah tersebut mengajak untuk melihat lebih dalam akar konflik dan? masalah-masalah yang muncul akibat ketengangan politik di Suriah, “Bukan hanya citra negara saja yang rusak, melainkan pelanggaran HAM, kekerasan pada masyarakat sipil, lingkungan yang buruk bagi anak-anak dan wanita,” papar Alissa Wahid, Seknas Gusdurian.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Film besutan Iara Lee ini, sambung Alissa, mengampanyekan nilai-nilai kemanusiaan melalui tragedi Suriah. Film tersebut bicara bahwa konflik tidak akan selesai melalui kekerasan, sejatinya revolusi di Suriah adalah anti-kekerasan.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

“Acara ini terbuka untuk umum dan gratis. Senang sekali para sahabat mau meluangkan waktunya untuk kumpul dan berdiskusi dalam Forum Jumat Pertama,” kata Alissa.

Forum Jumat Pertama Gusdurian berupaya melanjutkan pemikiran KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Forum tersebut digelar tiap bulan.

Penulis: Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru News, Pemurnian Aqidah, Ulama Ustadz Felix Siauw Terbaru

JK Dipastikan Akan Hadir

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Wakil Presiden Republik Indonesia H Jusuf Kalla (JK) dipastikan akan menghadiri Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama atau Munas-Konbes NU di areal gedung kantor PBNU, Jakarta. Mustasyar PBNU itu dijadwalkan akan menutup agenda Munas-Konbes pada Ahad, 2 November 2014.

“Pak JK sudah memastikan hadir pada penutupan Munas-Konbes,” kata H Agus Salim Thoyyib kepada Ustadz Felix Siauw Terbaru, di kantor PBNU, Kamis (30/10).

JK Dipastikan Akan Hadir (Sumber Gambar : Nu Online)
JK Dipastikan Akan Hadir (Sumber Gambar : Nu Online)

JK Dipastikan Akan Hadir

Presiden Joko Widodo juga telah dijadwalkan hadir dan membuka secara resmi acara Munas-Konbes NU 2014, namun sampai berita ini ditulis pihak kepresidenan belum menyampaikan konfirmasi. Menurut Agus Salim, undangan sudah disampaikan ke Istana namun presiden belum memberikan kepastian akan hadir.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Menurut Ketua Panitia H Arvin Hakim Thoha, jika Presiden Jokowi berhalangan hadir, Munas-Konbes NU 2014 akan dibuka langsung oleh Rais Aam PBNU KH Musthofa Bisri atau Gus Mus. (Fathoni/Anam)

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Pesantren, RMI NU, IMNU Ustadz Felix Siauw Terbaru

Semangat Lampung Timur Kelola Zakat di Setiap Kecamatan

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Terbaru. NU Care-LAZISNU Lampung mengagendakan terbentuknya seluruh struktur kepengurusan UPZISNU se-Lampung Timur. Untuk menyukseskan agenda tersebut dilakukan sosialisasi sejak September 2017.

Mengingat banyaknya kecamatan sebagai sasaran sosialisasi, tim NU Care-LAZISNU Lampung Timur mengunjungi kecamata-kecamatan tersebut setiap Ahad. Seperti pada 10 Desember lalu sosialisasi dilakukan di Pesantren Miftahul Ulum, Desa Raman Aji, Kecamatan Raman Utara.

“Ada 24 MWC (kecamatan) dan 264 desa di Lampung Timur. Insyaallah, sosialisasi dan pembentukan UPZISNU akan selesai awal bulan April 2018,” kata Ketua LAZISNU Lampung Timur, Makruf, Senin (11/12).

Semangat Lampung Timur Kelola Zakat di Setiap Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Semangat Lampung Timur Kelola Zakat di Setiap Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Semangat Lampung Timur Kelola Zakat di Setiap Kecamatan

Setelah sosialisasi dan pembentukan UPZISNU di semua desa, akan diadakan pelatihan Managemen Pengelolaan Zakat, Infak, dan Sedekah bulan Mei 2018.

“Pelatihan akan diikuti oleh seluruh pengurus UPZISNU se-Lampung Timur.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Sosialisasi sambil berbagi

Di sela-sela kegiatan sosialisasi, NU Care-LAZISNU Lampung Timur juga mengadakan penyaluran, salah satunya lewat Jumat Berkah Berbagi. Pada program tersebut rata-rata dibagikan 40 paket sembako setiap minggunya.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

“Kegiatan Jumat Berkah Berbagi sangat membantu masyarakat kurang mampu yang selama ini kesusahan dalam memenuhi kebutuhan pokoknya,” kata Imam Mutakkin, salah satu pengurus LAZISNU Lampung Timur.

Kegiatan berbagi sendiri bergeliat semenjak mulai terbentuknya kepengurusan UPZISNU di setiap kecamatan Lampung Timur.

Hal ini bisa dilihat dari beberapa waktu, kepengurusan MWCNU Pasir Sakti bersama pengurus NU Care LAZISNU Kecamatan Pasir Sakti telah berhasil menghimpun bantuan dari masyarakat dengan pencapaian 180 juta untuk program peduli Rohingnya.

“Atas perolehan itu, oleh PBNU diberangkatkan dua orang pengurus UPZISNU Pasir Sakrti untuk presentasi pada Munas Konbes NU di NTB, tentang keberhasilan menggalang donasi tersebut,” Makruf menambahkan.

Mengikuti keberhasilan Pasir Sakti, desa-desa lain mulai bergerak untuk melaksanakan program gerakan Koin NU. Makruf optimis, upaya tersebut akan mampu membangun kemandirian NU di Lampung Timur. (Kendi Setiawan)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Meme Islam, Pesantren Ustadz Felix Siauw Terbaru

PBNU Soroti Sejumlah Kebijakan Ekonomi Nasional

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Menjelang pelaksanaan Musyawarah Nasional dan Konferensi Besar atau Munas dan Konbes NU Mei 2014 mendatang, diskusi terbatas Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyoroti kebijakan ekonomi nasional di Kantor PBNU jalan Kramat Raya, Jakarta Pusat, Kamis (10/4).

PBNU Soroti Sejumlah Kebijakan Ekonomi Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
PBNU Soroti Sejumlah Kebijakan Ekonomi Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

PBNU Soroti Sejumlah Kebijakan Ekonomi Nasional

Selain dihadiri para pengurus tanfiziyah, lembaga, lajnah, dan badan otonom dilingkungan PBNU, diskusi mengundang dua tamu, Siswoni Yudo Husodo (mantan menteri Kabinet Pembangunan V dan VI) dan Ahmad Erani Yustika (ekonom dari Universitas Brawijaya Malang).

Wakil Ketua PBNU H Asad Said Ali mengatakan, PBNU sedang merumuskan draft materi yang akan dibahas dalam Munas dan Konbes NU, termasuk terkait kebijakan ekonomi nasional.

Siswono Yudo Husodo mengusulkan beberapa catatan sebagai rekomendasi NU untuk pemerintah, antara lain, pembukaan lahan pertanian baru dan pemanfaatan energi panas bumi.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Dalam paparannya yang cukup bersemangat dengan menyertakan data statistik, Siswono antara lain mengungkap bahwa selama hampir 10 tahun pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, hutang negara bertambah dari US$ 76 M menjadi US$ 180 M.

"Kita sekarang sudah masuk pada posisi harus menambah hutang baru untuk melunasi hutang lama dengan risiko menambah lubang lebih dalam lagi," tambahnya.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Dalam forum itu Ahmad Erani Yustika melihat kebijakan ekonomi Indonesia terutama setelah reformasi mengalami perubahan cukup mendasar. Model ekonomi Indonesia lebih terbuka terhadap pasar.

“Model ekonomi seperti itu semakin mengecilkan peran negara,” kata Erani.

Bagi Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Brawijaya Malang ini, dampak kebijakan ekonomi yang begitu terbuka terhadap pasar asing memang bisa menciptakan stabilitas makro ekonomi dengan cukup bagus.

“Namun, ketidakadilan ekonomi semakin tajam. Pasalnya, model ekonomi demikian menguntungkan lapisan masyarakat kelas menengah ke atas dan pelaku bisnis asing. Sementara rakyat kecil terabaikan,” terang Erani yang menyebut angka 100% untuk kebijakan impor pestisida oleh pemerintah.

Ketua PBNU Prof Makshum Mahfuzh menilai kebijakan ekonomi pemerintah berbasis impor. Padahal, kebijakan pemerintah harus mengarah pada pemberdayaan rakyat kecil. “Kita harus mengembangkan perekonomian berbasis domestic seperti pangan, pertanian, perikanan,” tegas guru besar ekonomi UGM ini.

Sekjen PBNU KH Marsudi Syuhud mengatkan, pembahasan mengenai kebijakan ekonomi nasional itu merupakan diskusi awal dalam mempersiapkan materi Munas dan Konbes NU 2014 yang rencananya di gelar Mei mendatang di pesantren Al-Hamid, Cilangkap, Jakarta Timur. (Alhafiz K/Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Daerah Ustadz Felix Siauw Terbaru

Senin, 25 Desember 2017

Pidato Amanat Ketum PBNU untuk Hari Santri 2017

Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) mengirimkan surat kepada pengurus NU di tingkat wilayah, cabang, termasuk lembaga dan badan otonomnya di seluruh Indonesia tentang peringatan Hari Santri Nasional.

Surat tersebut dilampiri isi pidato Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj. PBNU mengimbau surat ini dibacakan dalam apel Hari Santri yang digelar serentak di berbagai wilayah di Tanah Air pada 22 Oktober 2017. 

Pidato Amanat Ketum PBNU untuk Hari Santri 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)
Pidato Amanat Ketum PBNU untuk Hari Santri 2017 (Sumber Gambar : Nu Online)

Pidato Amanat Ketum PBNU untuk Hari Santri 2017

Berikut isi utuh dari pidato bersebut:

Amanat Ketua Umum PBNU pada Peringatan Hari Santri 

Tanggal 22 Oktober 2017



Ustadz Felix Siauw Terbaru

Ustadz Felix Siauw Terbaru

? ? ? ? ?

? ? ? ?

? ? ? ? ? ? ? ? ? 

? ? ? ? ? ?

? ? 

Hari ini tahun ketiga Keluarga Besar Nahdlatul Ulama dan seluruh rakyat Indonesia memperingati Hari Santri. Keputusan Presiden Republik Indonesia Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri tanggal 22 Oktober 2015 yang bertepatan dengan tanggal 9 Muharram 1437 Hijriyah merupakan bukti pengakuan negara atas jasa para ulama dan santri dalam perjuangan merebut, mengawal, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan. Pengakuan terhadap kiprah ulama dan santri tidak lepas dari Resolusi Jihad yang dikumandangkan Hadlaratus Syeikh KH. Hasyim Asy’ari, Rais Akbar Nahdlatul Ulama, pada 22 Oktober 1945. Di hadapan konsul-konsul Nahdlatul Ulama seluruh Jawa-Madura, bertempat di Kantor Hoofdbestuur Nahdlatoel Oelama di Jl. Boeboetan VI/2 Soerabaja, Fatwa Resolusi Jihad NU digaungkan dengan pidato Hadlaratus Syeikh yang menggetarkan: 

..Berperang menolak dan melawan pendjadjah itoe fardloe ‘ain (jang haroes dikerdjakan oleh tiap-tiap orang Islam, laki-laki, perempoean, anak-anak, bersendjata ataoe tidak) bagi jang berada dalam djarak lingkaran 94 km dari tempat masoek dan kedoedoekan moesoeh. Bagi orang-orang jang berada diloear djarak lingkaran tadi, kewadjiban itoe djadi fardloe kifayah (jang tjoekoep kalaoe dikerdjakan sebagian sadja…).”  

Tanpa Resolusi Jihad NU dan pidato Hadlaratus Syeikh yang menggetarkan ini, tidak akan pernah ada peristiwa 10 November di Surabaya yang kelak diperingati sebagai Hari Pahlawan.

Kiprah santri teruji dalam mengokohkan pilar-pilar NKRI berdasarkan Pancasila yang bersendikan Bhinneka Tunggal Ika. Santri berdiri di garda depan membentengi NKRI dari berbagai ancaman. Pada 1936, sebelum Indonesia merdeka, kaum santri menyatakan Nusantara sebagai Dârus Salâm. Pernyataan ini adalah legitimasi fikih berdirinya NKRI berdasarkan Pancasila. Tahun 1945, kaum santri setuju menghapuskan tujuh kata dalam Piagam Jakarta demi persatuan dan kesatuan bangsa. Tahun 1953, kaum santri memberi gelar Presiden Indonesia, Ir. Soekarno, sebagai Waliyyul Amri ad-Dlarûri bis Syaukah, pemimpin sah yang harus ditaati dan menyebut para pemberontak DI/TII sebagai bughat yang harus diperangi. Tahun 1965, kaum santri berdiri di garda depan menghadapi rongrongan ideologi komunisme. Tahun 1983/1984, kaum santri memelopori penerimaan Pancasila sebagai satu-satunya asas dalam kehidupan berbangsa-bernegara dan menyatakan bahwa NKRI sudah final sebagai konsensus nasional (mu’âhadah wathaniyyah). Selepas Reformasi, kaum santri menjadi bandul kekuataan moderat sehingga perubahan konstitusi tidak melenceng dari khittah 1945 bahwa NKRI adalah negara-bangsa—bukan negara agama,bukan negara suku—yang mengakui seluruh warga negara memiliki hak dan kewajiban yang sama, tanpa diskriminasi berdasarkan suku, ras, agama, dan golongan. 

Kenyataan ini perlu diungkapkan untuk menginsyafkan semua pihak, termasuk kaum santri sendiri, tentang saham mereka yang besar dalam berdiri dan tegaknya NKRI. Tanpa kiprah kaum santri, dengan sikap-sikap sosialnya yang moderat (tawassuth), toleran (tasâmuh), proporsional (tawâzun), lurus (i’tidâl), dan wajar (iqtishâd), NKRI belum tentu eksis sampai sekarang. Negeri-negeri Muslim di Timur Tengah dan Afrika sekarang remuk dan porak poranda karena ekstremisme dan ketiadaan komunitas penyangga aliran Islam wasathiyyah. 

Momentum Hari Santri hari ini perlu ditransformasikan menjadi gerakan penguatan paham kebangsaan yang bersintesis dengan keagamaan. Spirit “nasionalisme bagian dari iman” (? ? ? ?) perlu terus digelorakan di tengah arus ideologi fundamentalisme agama yang mempertentangkan Islam dan nasionalisme. Islam dan ajarannya tidak bisa dilaksanakan tanpa tanah air. Mencintai agama mustahil tanpa berpijak di atas tanah air, karena itu Islam harus bersanding dengan paham kebangsaan. Hari Santri juga harus digunakan sebagai revitalisasi etos moral kesederhaan, asketisme, dan spiritualisme yang melekat sebagai karakter kaum santri. Etos ini penting di tengah merebaknya korupsi dan narkoba yang mengancam masa depan bangsa. Korupsi dan narkoba adalah turunan dari materialisme dan hedonisme, paham kebendaan yang mengagungkan uang dan kenikmatan semu. Singkatnya, santri harus siap mengemban amanah, yaitu amanah kalimatul haq. Berani mengatakan “iya” terhadap kebenaran walaupun semua orang mengatakan “tidak” dan sanggup menyatakan “tidak” pada kebatilan walaupun semua orang mengatakan “iya”. Itulah karakter dasar santri yang bumi, langit dan gunung tidak berani memikulnya, sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur’an Surat Al-Ahzaab ayat 72.

Hari ini santri jugahidup di tengah dunia digital yang tidak bisa dihindari. Internet adalah bingkisan kecil dari kemajuan nalar yang menghubungkan manusia sejagat dalam dunia maya. Ia punya aspek manfaat dan mudharat yang sama-sama besar. Internet telah digunakan untuk menyebarkan pesan-pesan kebaikan dan dakwah Islam, tetapi juga digunakan untuk merusak harga diri dan martabat seseorang dengan fitnah dan berita hoaks. Santri perlu ‘memperalat’ teknologi informasi sebagai media dakwah dan sarana menyebarkan kebaikan dan kemaslahatan serta mereduksi penggunaannya yang tidak sejalan dengan upaya untuk menjaga agama (? ? ?), jiwa (? ?), nalar (? ?), harta (? ?), keluarga (? ?), dan martabat(? ?) seseorang. Kaidah fikih: al-muhâfadhah ala-l qadîmis shâlih wa-l akhdzu bi-l jadîdi-l ashlah senantiasa relevan sebagai bekal kaum santri menghadapi tantangan zaman yang terus berubah.

Selamat Hari Santri 2017. Santri kuat, NKRI hebat.

? ? ? ? ? ?

? ? ? ? ?

? ? ? ? ?

Jakarta, 22 Oktober 2017

Prof. Dr. KH Said Aqil Siroj, MA.

Ketua Umum

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Ubudiyah, Aswaja, Meme Islam Ustadz Felix Siauw Terbaru