Senin, 05 Maret 2018

Kontras Pesimis Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia

Bandung, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Dari data yang diperoleh Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), angka kasus pelanggaran toleransi di Indonesia mengalami lonjakan dan penurunan. Tahun 2010 ada 34 peristiwa, tapi 2011 melonjak lima kali lipat hingga 174 kasus. Lalu tahun 2012 mengalami penurunan menjadi 117 kasus, sementara tahun 2013 terdapat 118 kasus, dan 116 kasus di tahun 2014.

Fenomena ini menunjukkan persoalan toleransi beragama bukanlah persoalan yang timbul tahap demi tahap, tapi persoalan yang awalnya adem, damai, tenang, tiba-tiba terbakar begitu saja. Ada hal yang perlu diperhatikan untuk melihat lonjakan drastis tentang perubahan apa yang terjadi di negeri ini sehingga menimbulkan permasalahan toleransi beragama yang terjadi hingga saat ini.

Kontras Pesimis Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Kontras Pesimis Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Kontras Pesimis Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia

Demikian disampaikan Satrio Wiratanu, Divisi Hak Sipil dan Politik Kontras, sebagai pemateri dalam acara Diskusi Publik bertajuk "Masalah dan Masa Depan Toleransi Beragama di Indonesia" yang berlangsung di aula fakultas Adab dan Humaniora, UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Jumat siang (13/3).

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Satrio menjelaskan, pelanggaran toleransi beragama pada tahun 2011 motifnya cenderung berbentuk kekerasan, penganiayaan, pengrusakan harta benda, penutupan hingga pembekaran tempat ibadah, bahkan sampai pembunuhan terhadap kelompok-kelompok minoritas.

"Setelah tahun 2011, pelanggaran lebih cenderung pada bentuk ucapan atau seruan penyesatan yang secara akademis dinamakan hate speech (syiar kebencian). Misalnya memvonis kafir atau sesat yang disertai dengan pernyataan (fatwa) layak dibunuh atau halal darahnya," sambungnya dalam acara yang bekerja sama dengan PC PMII Kota Bandung itu.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Dalam konteks internasional, mengutip data yang diperoleh Kontras, Satrio mengungkapkan hasil penelitian tentang kadar konflik keagamaan di suatu Negara. Dari 198 negara pada tahun 2012, Indonesia menempati posisi kesepuluh dalam hal konflik keagamaan. Sedangkan Pakistan berada di posisi pertama, disusul Afghanistan dan India di tempat kedua dan ketiga. Sementara tahun 2013, Indonesia turun pada posisi ketiga belas.

Sedangkan dalam hal pembatasan praktik keagamaan yang dilakukan Pemerintah, tahun 2012 Indonesia tercatat posisi kelima, di bawah Mesir, China, Iran dan Saudi Arabia. Namun Indonesia naik di peringkat kedua pada tahun 2013, dan China menduduki posisi pertama.

“Tapi saya ragu, misalkan (posisi) kita akan turun pada tahun-tahun setelahnya. Karena melihat pada tahun 2014, banyak bermunculan peraturan-peraturan syariah yang sifatnya banyak membatasi praktik-praktik atau hak-hak keagamaan. Dalam posisi kita, bagaimana cara memperbaikinya?” ujarnya di hadapan puluhan mahasiswa yang memenuhi diskusi tersebut.

Usai pemateri menyampaikan paparannya, peserta diskusi publik yang didominasi kader-kader PMII Kota Bandung itu menanyakan berbagai hal terkait fenomena inteloransi beragama, cara menangani konflik keagaman, maupun soal pengalaman Kontras dalam mengadvokasi kelompok minoritas yang mengalami diskriminasi. (Muhammad Zidni Nafi’/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Halaqoh Ustadz Felix Siauw Terbaru

Sabtu, 03 Maret 2018

Rakyat Tidak Bisa Terlalu Lama Dibohongi

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Terbaru

Rakyat Thailand sebenarnya mendukung kudeta militer atas pemerintahan Thaksin Shinawatra. Hanya sedikit kalangan yang tidak setuju adanya kudeta militer itu karena dianggap tidak sesuai dengan prinsip demokrasi, yakni kalangan aktivis Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) dan mahasiswa.

Demikian disampaikan KH. Abdurrahmad Wahid (Gus Dur) saat berbicara di hadapan para santri dan masyarakat sekitar pesantren dalam Pengajian Rutin Ramadlanan di Pesantren Ciganjur yang dipimpinnya, bertempat di Masjid Al-Munawwarah, Ciganjur, Jakarta Selatan, Senin (25/9).

Para aktivis LSM dan mahasiswa tidak terlalu mendalam dalam memahami demokrasi. “LSM di sana ya kayak LSM sini lah! Padahal rakyatnya adem ayem saja. Itu tandanya mereka mendukung kudeta militer dan percaya kepada raja,” kata Gus Dur.

Rakyat Tidak Bisa Terlalu Lama Dibohongi (Sumber Gambar : Nu Online)
Rakyat Tidak Bisa Terlalu Lama Dibohongi (Sumber Gambar : Nu Online)

Rakyat Tidak Bisa Terlalu Lama Dibohongi

Namun khusus untuk Thailand, wilayah ini sangat rentan dengan aksi militer. Dikatakan Gus Dur, Thailand adalah wilayah daratan sehingga mobilitas pasukan untuk melakukan tindakan-tindakan militeristik seperti penangkapan para penentang pemerintahan mudah sekali dilakukan.

“Di Indonesia terlau sulit karena negara kepulauan. Memang, sering terjadi upaya sistematis untuk mengkotak-kotakkan orang melalui militer. Dan dalam soal ini kita belum jelas masalah lampau kita sendiri,” kata Gus Dur sembari menyinggung kesimpangsiuran sejarah pemberontakan Partai Komunis Indoensia (PKI) pada tahun 1960-an.

Terkait peristiwa penting menjelang kudeta militer di Thailand, menurut Gus Dur, kudeta itu disebabkan karena sebagai Perdana Menteri Thaksin telah melakukan kesalahan besar. Raja Thailan bersama Jenderal Sonthi (pemimpin kudeta: Red) mempunyai pendapat bahwa demokrasi bisa ditegakkan jika semua orang bayar pajak, tanpa kecuali.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Mentang-mentang punya suara banyak, perusahaan dijual kepada Singapura, Thaksin nggak mau bayar. Padahal itu minimal 200 juta dolar pajeknya,” kata Gus Dur.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Kesalahan Thaksin yang lain, ia juga terus melakukan penganiyaan terhadap kelompok muslim di Thailand Selatan. Padahal Raja Thailand menghendaki adanya negoisasi dan bukan cara kekerasan. “Dibilangin berkali-kali tetap ngawur ya dikudeta saja,” kata Gus Dur.

Sementara itu beberapa pengamat menilai komentar-komentar Gus Dur atas kudeta militer di Thailand mengisyaratkan dukungannya atas adanya kudeta militer yang sama di Indonesia.

“Mereka menyimpulkan begitu ya terserah saja. Itu kan cuma penafsiran. Tapi yang penting untuk menjadi pelajaran bagi Indonesia adalah bahwa rakyat itu tidak bisa lama-lama dibohongi,” pungkas Gus Dur. (nam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Pertandingan, AlaNu Ustadz Felix Siauw Terbaru