Senin, 21 Desember 2009

Pegiat Aswaja Ajak Bikin Ebook agar Bisa Didownload

Madiun, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Dihadapan perwakilan MWCNU, guru-guru PAI, siswa- siswi tingkat SLTA se Madiun, Yusuf Suharto, ketua Aswaja NU Center Jombang menyampaikan bahwa saat ini penguasaan IT adalah keniscayaan. Namun, minat baca, dan menulis juga harus diutamakan. Selanjutnya ia mengajak agar bisa membuat ebook sehingga buku aswaja bisa didownload.

Pegiat Aswaja Ajak Bikin Ebook agar Bisa Didownload (Sumber Gambar : Nu Online)
Pegiat Aswaja Ajak Bikin Ebook agar Bisa Didownload (Sumber Gambar : Nu Online)

Pegiat Aswaja Ajak Bikin Ebook agar Bisa Didownload

"Muslim di luar Ahlussunnah telah memanfatkan IT sedemikian rupa, karena itu kita juga musti menguasai IT, tapi jangan lupa membaca dan menulis. Karena itu penting untuk dilaksanakan pelatihan jurnalistik atau kepenulisan," ujar dosen bahasa Indonesia STIKES Pemkab Jombang ini dalam Kajian Aswaja yang diselenggarakan Takmir Masjid Gede Al-Arifiyyah Carubandan IPNU IPPNU Madiun, Ahad (05/07). ?

"Buku-buku di luar Aswaja di internet bisa didownload secara gratis, dan melimpah. Sudah saatnya buku-buku Aswaja juga bisa lebih banyak lagi didownload secara gratis, terutama yang diperuntukkan para generasi muda NU," ujar penerjemah buku Nasehat Pernikahan KH Hasyim Asyari ini di hadapan puluhan orang yang memenuhi lantai dua masjid Gede Al-Arifiyyah.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Dinyatakan oleh Yusuf, kaum aswaja yang diperkirakan berjumlah 90 persen dari komunitas Muslim sedunia itu tengah mendapati tantangan wacana dari kaum Muslim yang ekstrim. Di antaranya adalah ada sementara aliran yang sampai saat ini mendiskreditkan para sahabat, ada pula yang secara serampangan menafsirkan Quran dan sunnah tanpa bimbingan ulama.

"Inilah pentingnya kajian aswaja, agar kita bias mengetahui landasan amaliyah kita, dan mantap menggunakannya."

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Sementara itu, mewakili yayasan, Kiai Muhairomain dalam sambutannya menyatakan bahwa kajian Aswaja ini telah rutin dilaksanakan beberapa kali dalam momen Ramadhan. Kiai yang juga Syuriyah ini menyampaikan bahwa ilmu itu sedemikian penting nilai gunanya.

"Sekali lagi ? saya katakana, ilmu, ? dan ilmu. Tapi jangan salah niat. Karena sekarang ini banyak yang salah nawaitu, yaitu golek ilmu karena ? golek (mencari) ijazah. Ijazah itu sangat penting, tapi jangan dijadikan yg paling utama. Karena itu carilah ilmu sesuai dengan aturan agama, insyaallah hidupnya diatur Allah.

Kiai penasehat ISNU Madiun ini menyampaikan bahwa masjid Gede ini bukan milik organisasi NU, tetapi ia adalah aset NU, karena sebelum berdiri NU dan sampai saaat ini tetap istiqamah mengamalkan amaliyah NU.

"Ini bukan masjid NU, bukan masjid Muhammadiyah. Ini masjid pertama di Madiun utara. Belum ada NU, kaifiyahnya gak berubah, qunut, tahlilan, masjid ini berdiri pada tahun 1800-an. Ini mestinya aset NU, jadi NU ? harus tanggung jawab. Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Halaqoh, Sunnah, Tokoh Ustadz Felix Siauw Terbaru

Jumat, 04 Desember 2009

Maarif akan Bikin Sekolah Unggulan

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Terbaru
Untuk meningkatkan citra LP Maarif sebagai sekolah yang memiliki kualitas bagus dan dipercaya masyarakat saat ini sedang dikembangkan sekolah Maarif unggulan mulai dari SD/Ibtidaiyah sampai dengan SMA/Aliyah.

“Fokusnya sekarang di setiap wilayah ada sekolah unggulan mulai dari SD sampai SMA. Ada beberapa kriteria yang disiapkan dan saat ini Jawa Timur sudah mempersiapkan 12 sekolah. Mungkin Ibtidaiyah di Malang, Tsanawiyah di Probolingo, paling tidak ada satu unggulan disetiap daerah,” tandas Ketua LP Maarif Nadjid Muhtar.

Jika sudah ada keteladanan dari sekolah unggulan tersebut, maka nantinya diharapkan sistem yang dimilikinya dapat disebarluarkan ke berbagai daerah. “Maarif mengelola ribuan madrash, tetapi kalau orang bertanya apa manfaatnya bergabung dengan Maarif, kita belum bisa menjawab,” tandasnya.

Salah satu kendala yang dihadapi adalah masalah dana. Untuk bisa membuat sekolah yang berkualitas, dibutuhkan banyak proses yang membutuhkan banyak dana. “Kita harus pinter-pinter carinya karena kalau mengharapkan dari warga, cukup berat. Perlu meyakinkan banyak fihak, kita yakinkan rencana ini baik dan pantes dibantu,” imbuhnya.

Warga NU tentunya akan bangga jika memiliki lembaga pendidikan yang berkualitas, tapi kebanyakan mereka maunya hanya menunggu dan tak mau turut berusaha. Menurut Nadjid. Warga nahdliyyin kalau diajak istighotsah atau tahlilan, semangat, tapi untuk pendidikan masih belum.

Saat ini sekolah madrasah di Jawa Timur yang berkualitas adalah Madrasah Ibtidaiyah Sabilillah dan SMA Salahuddin yang terletak di Malang. Sekolah tersebut dikelola oleh KH Tolhah Hasan yang merupakan wakil rais aam PBNU. “Kalau sudah bagus, orang membayar mahal pun tidak apa-apa bahkan rebutan untuk bisa menyekolahkan anaknya disitu,” tambahnya.

Kualitas LP Maarif di berbagai daerah juga bertingkat-tingkat, ada yang lemah, tetapi ada yang maju dan banyak kreatifitas. Jawa Tengah merupakan contoh yang bagus, mereka bisa mengadakan jambore siswa se-Jateng, perlombaan matematika dan lainnya. “Ini bisa menjadi teladan. Kalau ada sekolah yang ingin bangkit, saya tunjukkan di Jawa Tengah atau Jawa Timur,” tandasnya.(mkf)

 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Pahlawan, Kyai, Ahlussunnah Ustadz Felix Siauw Terbaru

Maarif akan Bikin Sekolah Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)
Maarif akan Bikin Sekolah Unggulan (Sumber Gambar : Nu Online)

Maarif akan Bikin Sekolah Unggulan

Rabu, 26 Agustus 2009

Ini yang Perlu Diperhatikan dalam Oral Seks

Dalam rangka memuaskan pasangan antara suami istri, Islam membebaskan trik dan gaya bercinta antara keduanya selama tidak bertentangan dengan aturan syariat. Termasuk pula dalam melakukannya dengan gaya oral seks. Hal ini tidak termasuk larangan dalam agama.

Baca: Hukum Oral Seks di Bagian Kewanitaan

Ini yang Perlu Diperhatikan dalam Oral Seks (Sumber Gambar : Nu Online)
Ini yang Perlu Diperhatikan dalam Oral Seks (Sumber Gambar : Nu Online)

Ini yang Perlu Diperhatikan dalam Oral Seks

Orang yang melakukan oral, sebagian dari mereka, sudah banyak yang dalam kondisi ereksi atau tegang sehingga tidak jarang para pasangan suami-istri ini sudah mengeluarkan pelumas berupa cairan bening atau biasa disebut dengan istilah madzi.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Jika ditelisik lebih dalam, selain air kencing, ada tiga jenis air yang keluar dari kemaluan manusia. Pertama, air sperma (mani). Sperma bisa diidentifikasi dari salah satu beberapa cirinya, yaitu keluar dengan memancar dan tersendat, ada bau yang khas seperti adonan roti/kue, terasa nikmat saat air itu keluar.

Kedua, air wadi, yaitu air keruh, kental yang biasa keluar setelah orang mengeluarkan air kencing mungkin disebabkan faktor capai atau hal lain.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Ketiga, air madzi, yaitu air bening yang keluar dari kemaluan, baik dari seorang pria maupun wanita yang biasanya disebabkan karena faktor syahwat. Baik disebabkan karena membayangkan, melihat atau sedang pemanasan (foreplay).

Di antara semua air yang keluar tersebut hukumnya najis kecuali sperma. Seseorang yang mengeluarkan sperma, wajib mandi. Sedangkan wadi dan madzi hanya mewajibkan wudhu, tidak harus mandi, serta harus dibersihkan sebagaimana membersihkan najis seperti biasanya.

Bagi pasangan yang sedang melakukan hubungan intim, tentu sangat kesulitan jika harus menghindari madzi ini. Karena madzi memang diciptakan Allah untuk melengkapi kegiatan jima yang dilegalkan dalam syara bagi pasangan yang sah. Ia menjadi pelumas untuk sebuah lancarnya hubungan senggama.

Padahal apabila kita melihat fiqih dasarnya, ada sebuah aturan bahwa seseorang tidak diperkenankan mengotori tubuh dengan najis tanpa ada alasan yang jelas, apalagi memasukkan najis tersebut ke dalam tubuh, tentu tidak diperbolehkan.

Madzi merupakan cairan najis. Ia berlaku hukum yang sama. Artinya tidak boleh sampai masuk ke dalam tubuh, termasuk masuk ke kelamin seorang istri. Tetapi karena hal ini sangat sulit dihindari, maka syara memberikan toleransi sehingga madzi bagi pasangan yang sedang melakukan hubungan suami-istri hukumnya dimafu (diampuni).

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Tempat sucinya sperma itu jika memang kepala batang dzakar dan farji yang keluar murni berupa mani yang suci. Jika tidak murni suci, hukumnya (mani itu) najis dan haram bersenggama dengan kondisi seperti demikian sebagaimana orang orang istinja dengan batu ketika air sperma keluar dari situ. Karena hal itu menjadikan najis. Iya, diampuni dari orang yang kesulitan menghindari hal tersebut dengan nisbat untuk jima,” (Lihat Ianatuth Thalibin, juz I, halaman 85).

Hukum mafu hanya mempunyai arti diampuni, tidak mengubah status najis menjadi suci. Maksudnya najis tetap najis, tidak bisa berubah menjadi suci. Madzi itu najis. Selamanya, hukum madzi tetap najis. Tidak bakal berubah menjadi suci. Hanya saja, bagi suami istri yang sedang bercinta, cairan ini diampuni. Sedangkan madzi jika dalam kondisi selain jima, hukumnya tetap najis.

Contoh, darah nyamuk yang sedikit itu hukumnya najis, tetapi dimafu jika terkena tubuh atau pakaian. Ini dinisbatkan untuk shalat. Jadi orang yang tangannya terkena darah nyamuk, boleh langsung melaksanakan shalat tanpa harus membersihkan darah tersebut karena dimafu.

Diampuninya darah pada tangan untuk shalat ini tidak berlaku apabila tangan yang terkena darah nyamuk kemudian dicelupkan ke dalam air satu gelas untuk kemudian diminum. Jika dicelupkan ke dalam air segelas, semua air dalam gelas menjadi najis. Ia dimafu untuk shalat namun tidak dimafu untuk diminum.

Kembali tentang pembahasan madzi. Madzi merupakan kebutuhan wajib bagi pasangan senggama dan sangat sulit menghindarinya. Oleh karena itu hukumnya dimafu. Tetapi dimafunya ini tidak berlaku jika madzi masuk mulut bagi orang yang melakukan oral seks. Karena mulut itu bukan tujuan utama orang bercinta yang madzi tidak diciptakan untuk menjadi pelumas mulut, namun pelumas vagina.

Di sinilah alasan sebagian ulama yang tidak memperbolehkan oral seks itu karena hampir pasti akan ada pelumas yang masuk ke mulut. Ini tidak boleh.

Adapun ulama yang memperbolehkan oral seks, mereka tidak melihat dari sudut pandang najis tidaknya madzi. Mereka lebih melihat pada hukum dasar bahwa hal tersebut diperbolehkan tanpa memandang hukum madzi. Mungkin saja ada orang yang hubungan senggamanya kering sehingga ia tidak punya madzi. Jadi tidak mempunyai alasan untuk melarang hubungan oral seks.

Kesimpulannya, pertama, madzi atau air lubricant yang diproduksi tubuh hukumnya najis tetapi dimafu jika masuk ke vagina istrinya karena hal ini sangat susah untuk dihindari.

Kedua, oral seks diperbolehkan namun tidak boleh mengabaikan hukum bahwa madzi atau cairan yang masuk ke mulut hukumnya adalah najis. Ia dimafu jika masuk ke liang vagina saja. Jika masuk ke mulut, itu bukan keadaan yang sulit dihindari, maka hukumnya tetap najis tidak dimafu.

Ketiga, pasangan yang ingin melakukan hubungan oral seks bisa memakai kondom yang suci supaya yang masuk ke mulut adalah benda suci. Jika tidak memakai kondom, apabila ada najis yang masuk ke mulut, harus segera dikeluarkan kembali, tidak boleh ditelan. Setelah itu mulutnya harus disucikan secepatnya dengan mekanisme pembersihan najis sebagaimana pada umumnya yaitu dengan berkumur dan lain sebagainya. (Ahmad Mundzir)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Kyai Ustadz Felix Siauw Terbaru

Senin, 22 Juni 2009

Saling Hujat karena Beda Pilihan Politik dalam Islam

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Redaksi Ustadz Felix Siauw Terbaru, saya ingin bertanya seputar pemilihan umum. Banyak orang sekarang ini saling hujat dan menjatuhkan karena perbedaan pilihan politik. Bahkan tidak sedikit diskusi mereka yang berujung pada putusnya silaturahmi. Bagaimana keterangan agama perihal ini? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Syukur/Klaten)

Jawaban

Saling Hujat karena Beda Pilihan Politik dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Saling Hujat karena Beda Pilihan Politik dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Saling Hujat karena Beda Pilihan Politik dalam Islam

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT selalu menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Kita sekarang ini telah memasuki zaman di mana masyarakat memiliki hak secara konstitusi untuk memilih pejabat publiknya baik itu seperti pemilihan kuwu, anggota dewan, bupati, gubernur, maupun presiden.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Kondisi ini amat berbeda dengan masa raja-raja zaman dahulu di mana masyarakat hanya menyaksikan peralihan dari satu ke lain raja, dari satu ke lain bupati tanpa memiliki pengaruh apapun dalam proses pergantian para pejabat itu. Dengan kata lain, kondisi terkahir kita ini patut disyukuri.

Meski demikian, kondisi sekarang ini juga perlu dibarengi dengan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan pilihan. Ekses negatif dari pemilihan langsung pejabat publik itu antara lain adalah munculnya upaya saling menjatuhkan oleh masing-masing pihak. Bahkan tidak sedikit fenomena saling hujat dan saling hina kita temukan sekarang ini di tengah masyarakat hanya karena perbedaan calon misalnya kuwu yang diusung.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Tindakan saling menghina, saling hujat, dan saling merendahkan bukan akhlak yang diajarkan oleh Islam. Ada baiknya kita membuka kembali Surat Al-Hujurat ayat 11 berikut penjelasannya oleh Syekh Jalaluddin As-Suyuthi berikut ini.

"? ? ? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? "?" ? ? ? "? ? ? ? ? ? ?" ? ? "? ?" ? "? ? ? ? ? ? ? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ?" ? ? ? ? ? ? "? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? "? ? ?" ? ? ? ? ?

Artinya, “(Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mengolok-olok) ayat ini turun perihal rombongan tamu Banu Tamim ketika mereka meremehkan orang Muslim yang fakir seperti sahabat Ammar RA dan Suhaib RA. “Olok-olok” bermakna mengejek dan merendahkan (oleh suatu kaum) di antara kalian (terhadap kelompok lainnya. Boleh jadi mereka [yang diejek] lebih baik dari mereka [yang mengejek]) di sisi Allah SWT. (Jangan pula perempuan-perempuan) di antara kalian ([mengejek] terhadap kelompok perempuan lainnya. Boleh jadi mereka [yang diejek] lebih baik dari mereka [yang mengejek]. Jangan pula kalian saling mencela) jangan kalian mencela orang lain sehingga berujung saling mencela. Jangan sebagian kalian mencela sebagian lainnya. (Janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar buruk) Janganlah salah seorang kalian memanggil kawannya dengan sebutan-gelar yang ia tidak berkenan seperti panggilan “Hai fasiq” atau “Hai kafir”. (Seburuk-buruk nama) tersebut yang mengandung olok-olok, ejekan, celaan, dan gelar yang buruk (adalah panggilan yang buruk setelah beriman) “al-fusuqu” merupakan badal dari “al-ismu” untuk menegaskan bahwa gelar-sebutan penghinaan itu merupakan perbuatan buruk karenanya kata-kata itu diulang sebagaimana lazimnya. (Siapa saja yang belum bertobat) dari semua itu, (maka mereka itulah orang-orang yang aniaya),” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Tafsirul Quranil Azhim lil Imamainil Jalalain [Tafsirul Jalalain], Beirut, Darul Fikr, tanpa tahun, halaman 424).

Keterangan di atas merupakan peringatan bagi umat Islam dalam menjaga etika komunikasi. Islam mengajarkan kesetaraan. Suatu kelompok masyarakat baik laki-laki maupun perempuan tidak boleh merendahkan kelompok masyarakat lainnya hanya karena perbedaan kelas sosial, atau perbedaan lain.

Sementara kalau masyarakat memang sedang menggeluti hobi baru seperti suka menghujat dan senang mencemooh kelompok lain di luar diri mereka karena perbedaan calon kuwu atau bupati yang diusung, maka sebaiknya kita tidak perlu mencampuri pokok pembicaraan tersebut.

Dalam kondisi masyarakat telah diselimuti oleh fanatik buta dan fanatik tuli, maka sebaiknya kita mengangkat masalah lain di luar masalah politik praktis. Hal ini kita pilih agar kita dapat terhindar dari pertikaian dan debat kusir yang tak perlu sebagaimana anjuran Imam Al-Ghazali di bawah ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? !

Artinya, “Bab Ketiga Perihal Kepemimpinan. Pandangan dalam kepemimpinan juga bukan bagian dari perkara penting (prinsip/ushul), juga bukan bagian dari kajian ilmu aqli, tetapi lebih pada masalah fiqhiyah (furu’). Di samping itu masalah kepemimpinan mengobarkan kefanatikan. Karenanya orang yang menghindarkan diri dari (pembicaran) berlarut-larut di dalamnya lebih selamat dibanding mereka yang larut tenggelam di dalamnya meskipun ia benar. Terlebih lagi kalau keliru!” (Lihat Abu Hamid Al-Ghazali, Al-Iqtishad fil I‘tiqad, Beirut, Darul Fikr, 1997 M/1417 H, halaman 166-167).

Imam Al-Ghazali mengajurkan kita mengganti tema lain pembicaraan di luar politik sekalipun kita benar dalam pertimbangan kita. Kalau benar pun, kita sebaiknya diam atau mengambil tema lain. Apalagi kalau tidak mengetahui persis masalah politik, sebaiknya kita tidak perlu terlibat dalam perbincangan tersebut. Sebaiknya kita menjaga silaturahmi dan menjaga etika dalam berkomunikasi.

Demikian jawaban dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru IMNU, Ulama, Kajian Sunnah Ustadz Felix Siauw Terbaru

Selasa, 16 Juni 2009

Menaker Minta Polri Perkuat Pengawasan Pekerja Asing dan TKI Ilegal

Bandung, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Kementerian Ketenagakerjaan mengajak Kepolisian RI untuk meningkatkan kerjasama penegakan hukum terkait perlindungan dan pengawasan keberangkatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal, perdagangan orang (human trafficking) serta pencegahan masuknya tenaga kerja asing ilegal.?

"Kemnaker masih memiliki banyak tugas terkait pengiriman TKI ilegal, human trafficking yang terkait pengiriman TKI ke luar negeri serta pencegahan masuknya tenaga kerja asing illegal. Kami mengajak Polri untuk bekerjasama menyelesaikan,” ? kata Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri saat memberikan kuliah umum di Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi Polri di Lembang, Bandung, Jawa Barat, Selasa (8/8)?

Menurut Menaker, kerjasama dengan Polri sudah dilakukan. Namun seiring meningkatnya tuntutan, kerjasama harus ditingkatkan.

Menaker Minta Polri Perkuat Pengawasan Pekerja Asing dan TKI Ilegal (Sumber Gambar : Nu Online)
Menaker Minta Polri Perkuat Pengawasan Pekerja Asing dan TKI Ilegal (Sumber Gambar : Nu Online)

Menaker Minta Polri Perkuat Pengawasan Pekerja Asing dan TKI Ilegal

"Salah satu hal yang Kemnaker lakukan bersama Polri adalah upaya dalam menekan TKI non prosedural dan juga upaya pencegahan perdagangan manusia," katanya.

Ditambahkannya, selain melakukan pengawasan yang ketat di pintu pemberangkatan TKI yang resmi, pemerintah ? juga perlu melakukan pengawasan jalur-jalur tikus yang biasanya digunakan untuk memberangkatkan TKI non prosedural. Sebagai negara kepulauan, Indnesia memiliki banyak jalur diperbatasan menuju negara tetangga. Kerjasama dengan Polri dan TNI mutlak diperlukan

Selain pengawasan di jalur tikus, Kemnaker juga memperbaiki tata kelola pemberangkatan TKI yang lebih mudah, melakukan pengawasan yang terintegrasi, pengawasan di bandara, pelabuhan, dan pernatasan.?

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Hal lain yang dilakukan adalah koordinasi dengan pemerintah daerah, khususnya daerah kantong TKI, serta aparat penegak hukum untuk ? melakukan deteksi dini pengiriman TKI illegal, human trafficking serta memberantas praktik percaloan dan premanisme terkait pengiriman tenaga kerja ke luar negeri. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Ustadz Felix Siauw Terbaru Sholawat, News Ustadz Felix Siauw Terbaru

Senin, 15 Juni 2009

Tantangan Baru, Perlu Strategi Dakwah Baru

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Pada tingkat global, saat ini agama yang mengalami pertumbuhan paling cepat adalah agama Islam. Namun disisi lain, perkembangan yang cepat tersebut telah menyebabkan terjadinya shock pada umat Islam. Dalam menghadapi situasi baru ini, perlu pendekatan dakwah baru yang lebih cocok.

Demikian diungkapkan oleh Khatib Aam PBNU Prof. Dr. Nasaruddin Umar  dalam acara workshop Revitalisasi Peran NU sebagai Gerakan Dakwah Islam Rahmatan Lil Alamiin di Wisma Haji Jakarta, Senin.

Secara teologis, umat Islam Indonesia yang dalam sejarahnya banyak menggunakan pendekatan jabariah atau percaya pada takdir kini dihadapkan pada pandangan muktazilah yang sangat rasional. “Saat ini muballigh mana yang diikuti di TV, banyak umat yang kebingungan,” paparnya.

Tantangan Baru, Perlu Strategi Dakwah Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Tantangan Baru, Perlu Strategi Dakwah Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Tantangan Baru, Perlu Strategi Dakwah Baru

Pengamalan agama yang dulunya sangat berorientasi pada fikih juga mengalami perubahan. Kini banyak orang yang lebih mengikuti pendekatan spiritualisme atau yang penting bertuhan, tak perlu agama atau agama apa saja sama serta ajaran semacamnya.

Agama kini juga bukan lagi pengatur segalanya. Jika zaman dahulu semua hal diatur oleh ajaran agama atau religiousness. Kini pendekatannya berubah menjadi religious mindedness. Orang memiliki kebebasan dan peran agama menjadi sangat berkurang.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Jika pada zaman dahulu orang sangat berorientasi pada teks al Qur’an, kini masyarakat mulai berfikir ke arah konteks. Pendekatan hermenetika berkembang untuk memaknai kitab suci. “NU menolak hermenetika karena kalau salah dalam menafsirkannya bisa berbahaya,” tandasnya.

Menurut Nasaruddin, jika semua ajaran agama dimaknai secara sembarangan nantinya akan kehilangan warna asli Islam. “Rasionalisasi yang berlebihan juga akan menurunkan agama sekedar menjadi ajaran filsafat,” paparnya.

Secara kultural, warga NU juga mengalami shock. Jika dahulu, lebih berorientasi pada elit pesantren, kini terjadi perubahan dengan kecenderungan orientasi pada elit kampus. “Kalau kyai yang ngasih ijasah kan Allah, tapi dalam pekerjaan formal diperlukan mereka yang memiliki ijasah,” tandasnya.

Hal yang sama juga terjadi dalam aspek kepemimpinan. Pada masa lalu, Lingkungan NU bersandar pada kepemimpinan kharismatik. Namun sekarang terjadi perubahan kebutuhan dengan dibutuhkannya para manajer professional.

“Perubahan-perubahan ini harus diantisipasi oleh LDNU. Harus dibuat visi, misi, nilai, dan strategi baru dalam menjalankan dakwahnya agar sesuai dengan konteks zaman,” imbuhnya. (mkf)

Ustadz Felix Siauw Terbaru



Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Kajian Islam, Makam Ustadz Felix Siauw Terbaru

Senin, 20 April 2009

IPNU-IPPNU Gondosari Cetak Pemimpin Berkarakter Aswaja

Kudus, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Pimpinan Ranting Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nadlalatul Ulama (IPPNU) Desa Gondosari, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mengadakan Latihan Dasar Kepemimpinan (LDK) sekaligus rapat kerja (Raker) di Gedung Majelis Wakil Cabang (MWC) NU Gebog pada Kamis-Jumat (1-2/5).

Acara yang diikuti 30 anggota pengurus ini mengangkat tema “Kaderisasi Pemimpin Tangguh Berkarakter Aswaja”. Menurut Ketua PR IPNU Ranting Gondosari Jama’ah, tema ini merupakan pengejawantahan harapan kepemimpinan yang ada di ranting. Dikatakan bahwa Ranting Gondosari butuh pengurus yang berwawasan Ahlussunnah wal Jama’ah.

IPNU-IPPNU Gondosari Cetak Pemimpin Berkarakter Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)
IPNU-IPPNU Gondosari Cetak Pemimpin Berkarakter Aswaja (Sumber Gambar : Nu Online)

IPNU-IPPNU Gondosari Cetak Pemimpin Berkarakter Aswaja

“Tidak semua anggota kami belajar di bangku madrasah NU. Sebagian masih ada yang berlatar belakang dari sekolah umum. Jadi di antaranya masih ada yang awam sama sekali tentang Aswaja, sehingga butuh pengukuhan karakter pada diri mereka agar benar-benar menjadi kader pelajar Aswaja yang bisa mengabdikan diri di organisasi dan masyarakat,” papar Jama’ah, Jumat (2/5).

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Selepas kegiatan LDK dan Raker ini diharapkan para pengurus mampu mengemban amanah selama periode kepengurusan. “Ini adalah bekal dan modal awal bagi para pengurus baru. Andai sebuah bangunan, ini merupakan fondasinya. Dengan apa dan bagaimana nanti membangun, akan dibentuk seperti apa, maka terserah pada pengurus yang ada,” kata Mahfudz Siddiq, Sekretaris Pimpinan Anak Cabang IPNU Kecamatan Gebog.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Namun, lanjutnya, tak layak jika organisasi hanya mengandalkan ketua saja. Butuh kerja sama sesuai dengan pembagian tugas antarmasing-masing pengurus untuk memajukan pelajar NU.

Agenda ini merupakan kelanjutan dari pelantikan pengurus baru yang dilantik pada tanggal 30 Januari lalu. Meski LDK dan Raker ini tergolong terlambat, namun selama tiga bulan setelah pelantikan tersebut pengurus sudah menjalankan program.

“Para pengurus sudah saling berkoordinasi dalam beberapa pertemuan. Program kerja juga telah kami jalankan, di antaranya tiga kali selapanan rutin yang diikuti oleh antaranggota masing-masing dukuh,” terang Naily, salah satu pengurus kepada Ustadz Felix Siauw Terbaru. (Istahiyyah/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Lomba Ustadz Felix Siauw Terbaru

Kamis, 16 April 2009

Nursiah Ismail, Qoriah Kebanggaan Kalbar

Pontianak, Ustadz Felix Siauw Terbaru. “Kuncinya adalah berlatih keras dan berguru kepada banyak orang,” aku Nursiah, qoriah nasional-internasional asal Pontianak, Kalimantan Barat, ketika ditanya kunci kesuksesannya dalam seni baca Al-Quran.

Tak tangugung-tanggung, Nursiah mencapai reputasi tertinggi di bidang itu. Pada tahun 1969, ketika usianya 12 tahun, ia menggondol juara I pada MTQ Nasional tingkat kanak-kanak, di Bandung, Jawa Barat. 

Nursiah Ismail, Qoriah Kebanggaan Kalbar (Sumber Gambar : Nu Online)
Nursiah Ismail, Qoriah Kebanggaan Kalbar (Sumber Gambar : Nu Online)

Nursiah Ismail, Qoriah Kebanggaan Kalbar

Pada tahun yang sama, ia mewakili Indonesia pada MTQ Internasional di Kuala Lumpur, Malaysia. Pada waktu itu, ia memperoleh juara kedua. Pada tahun 1973, ia menyabet juara pertama tingkat remaja, pada MTQ Nasional di Mataram, Nusa Tenggara Barat.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Kemudian 1975 pada MTQ Nasional di Palembang, Sumatera Selatan, ia kembali meraih juara I tingkat dewasa. Di tahun itu pula, puncaknya prestasinya ia genapkan dengan sebagai Juara I MTQ Internasional di Kula Lumpur.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Faktor lain, Nursiah ditunjang kemerduan suara dan kemahiran dalam membawakan variasi-variasi baca Al-Quran. Menurut Nursiah, hal itu diwariskan dari darah seni ayahnya yang juga menyukai seni tarik suara. 

“Ayah saya memang orang seni. Dia salah seorang pemain gambus, senang nyanyi Melayu dan seni zapin Melayu. Dia orang seni sejak bujangan,” ujar Nursiah, menjelaskan profil ayahnya.

Masaa muda Nursiah juga sering menyanyi gambus dan kasidah grup Irhamni pimpinan Ahmad Mahmud. “Ibu masuk semua. Dangdut, pop juga bisa, kasidah apa lagi,” aku pengagum Umu Kultsum Mesir dan Nur Aisyah Jamil Sumatera Utara ini.

Tapi, lanjut penyuka lagu Ifroh ya Albi ini, menyanyi waktu itu hanyalah sampingan saja. Yang diutamakan adalah seni baca Al-Quran.  

Kemerduan suaranya, meski menginjak usia 56 tahun, masih diakui sesama qoriah lain. “Bu Nursiah itu seangkatan saya di tahun 75, ketika saya ikut MTQ Nasional remaja. Suaranya sampai sekarang masih bagus. Qoriah-qoriah nasional yang saya ngefans itu, salah satunya Bu Nursiah,” aku Hj. Maslahah Zen, qoriah nasional asal Surabaya, Jawa Timur.

Hal itu dikuatkan pula oleh HM Tuwok, seorang qori asal Kalimantan Barat. “Meski sudah berumur, suaranya masih bagus,” terang Ketua Umum JQH NU Kalimantan Barat ini.

Karena itulah pada saat pembukaan MTQ Nasional VII, MTQ Nasional I dan Musyawarah Nasional IV JQH NU, ia didaulat mengumandangkan ayat-ayat suci al-Quran di hadapan ribuan orang, di stadion Sultan Syarif Abdurahman, Pontianak. 

“Walaupun nafas sudah pendek, tapi kita masih bisa memainkan variasi-variasi lagu,” terang Nursiah.

Masa kecil susah

Nama lengkapnya Nursiah Ismail. Ia lahir 15 Agustus 1956 di Kampung Kapur, Desa Saigon, Kecamatan Pontianak Timur, Pontianak, Kalimantan Barat. “Letak kampung ibu di tepi sungai Kapuas,” tambahnya.

Seperti anak-anak lain di kampungnya, Nursiah bersekolah di sebuah SD, 1 km dari rumahnya. Setamat SD, melanjutkan ke Madrasah Tsanawiyah. 

“Sewaktu di Tsanawiyah, tiap pagi ibu nyeberang sungai Kapuas, memakai sampan. Karena sering tak punya uang, ibu sering berhutang kepada tukang sampan. Kemudian setelah menumpuk, ayah membayarnya. Sempat sekolah di SMA, tapi tak tamat. Jadi nggak sempat kuliah,” jelasnya.

“Sekolah waktu itu susah, putus-putus. Memang udah keadaan begitu. Ibu juga tak bisa menyalahkan orang tua. Keadaan rumah itu adik ramai. Kita mau nuntut sekolah tinggi juga nggak bisa.

Nursiah mengaku, hal itu disebabkan biaya. Sebagai seniman di kampung, ayahnya tidak terlalu mencukupi kebutuhan hidup keluarga. Sehingga ia nyambi juga sebagai seorang tukang bangunan. Tapi itu pun tidak mencukupi. Sementara ibunya adalah petani sawah.

“Ayah harus menghidupi 14 anak-anaknya. Ibu nomor 10. Kalau hidup semua ada 18 orang. Jangankan untuk beli baju, untuk makan pun susah. Banyak yang nggak lancarlah! Sekarang tinggal 6 bersaudara. Semua tinggal di Pontianak.” 

Berguru kepada para ahli qori

Meskipun demikian, Nursiah tidak putus asa, kesenangan kepada seni suara, ia lampiaskan untuk belajar lebih giat kepada seorang qori terkenal, ahli tajwid di kampungnya, Ustad Fauzi Arsyad. 

Fauzi Arsyad adalah qori nomor satu di Kalbar yang disegani KH Abdul Aziz Muslim, seorang qori di Tegal, Jawa Tengah. Selain kepadanya, ia juga berguru kepada ustadz Haji Ja’far Yahya, terkenal dalam bidang lagu. Ia sampai menguasai 14 lagu. Selain itu, ada ustadz H Abdul Rasyid Mahmud yang mengusai bidang fashohah.

“Ibu berguru juga kepada KH Abdul Aziz Muslim, Kiai Asyiri. Beliau-beliau itulah yang melatih kita tahun 1969 dan 1975. Pernah juga berguru kepada Syekh Azra’i Abdur Rauf Deli, Sumatera Utara. Pokoknya siapa pun kiai, qori, ibu datangi semua,” ujarnya. 

Umur 18 tahun, Nursiah menikah dengan Drs H Nurdin Mikhrad  yang bertugas di Departemen Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat. Meskipun demikian, kehausan menimba ilmu tidak kurang. 

Ia masih menyempatkan belajar kepada juara I MTQ Nasional I KH Syahid di Cicalengka, Bandung, Jawa Barat. 

“Ibu belajar kepadanya sampai setengah bulan. Bersama istrinya, pernah diajak beliau ke Cirebon untuk mengisi acara sama istrinya. Pokoknya di mana guru, dimana kiai, ibu datangi,” 

Ia bersyukur karena suaminya sangat mendukung aktivitasnya itu. “Suami ibu itu, kemana pun ibu pergi, silakan. Asal tujuan baik. Tidak pernah menghalangi, Alhamdulillah.

Selain itu, ia sering bolak-balik Jakarta-Pontianak, misalnya untuk rekaman bersama qori-qoriah lain dan atau rekaman selawat.

“Muammar pernah ngajak rekaman. Pernah juga rekaman duet dengan Mawadah, Sarini Abdullah, Nur Aisyah Amin. Cuma beberapa tahun ini udah dapat cucu, susah mau berangkat,” ujar nenek dari lima cucu ini.

Karena aktivitasnya itu, pergaulannya menjadi luas. “Kalau ke Jakarta, ibu senang mampir di umi Sayidah Ahmad, bibinya Tuti Alawiyah. Sama Tuti Alawiyah juga akrab. Ia yang mendampingi ibu ke MTQ Internasional di Kuala Lumpur.”

Karena prestasinya itu, ia sering diundang ke luar negeri seperti Thailand, Kerajaan Brunei Darus Salam, Malaysia misalnya ke Serawak dan Kuching. 

“Pernah mengajar qori-qoriah di Malaysia di Miri sampai setahunan. Tiga bulan, pulang. Tiga bulan, pulang. Pernah juga melatih di Batam, di Natuna hingga sekarang juga masih.

Hingga kini, aktivitasnya masih padat. Ia sering diundang menjadi dewan juri nasional, pendamping perwakilan dari Kalimantan Barat. Pembina di Jam’iyyatul Qurra wal-Huffaz Nahdlatul Ulama Kalimantan Barat, mengisi pengajian dan memimpin selawat di majelis-ta’lim ibu-ibu.  

Kebanggaan Kalbar 

“Wah, Umi Nursiah itu kebanggaan Kalbar, Mas. Bukan Kalbar saja, tapi nasional dan internasional juga,” aku Salbiyah, seorang murid yang sering mengikuti majelis ta’lim Nursiah. 

Menurut Salbiyah, belum ada suaranya yang seperti Nursiah. “Dari Kalbar memang sudah ada yang mendapat juara, baik nasional maupun internasional, tapi belum ada yang suaranya seperti Umi,” tambahnya.  

Selain itu, Salbiyah memuji pilihan Nursiah yang tidak meninggalkan Kalbar. Padahal ia sangat memungkinkan untuk itu. 

Menurut Nursiah, hal itu disebabkan kecintaannya kepada Kalbar.“Saya menetap di sini karena masih tetap cinta dengan Kalbar. Banyak yang minta pindah ke Jakarta,” aku Nursiah yang dikaruniai dua putera, dua puteri. 

Selain Salbiyah, pengagumnya adalah HM Tuwok, “Saya sejak kecil termotivasi hajah Nursiah Ismail. Ketika kecil, orang tua sering mendorong saya untuk seperti qoriah hajah Nursiah,” ujarnya. 

Kepada generasi muda yang tertarik seni baca Al-Quran, Nursiah berpesan supaya belajar keras, dan banyak berguru kepada ahlinya. 

Redaktur: Mukafi Niam

Penulis   : Abdullah Alawi

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Berita, Quote, Pondok Pesantren Ustadz Felix Siauw Terbaru

Rabu, 07 Januari 2009

FK-GMNU Tuntut Hamid Awaluddin Mundur dari Kabinet

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Terbaru
Sekitar 200 orang yang menamakan diri mereka anggota Forum Komunikasi Gerakan Muda Nahdlatul Ulama (FK-GMNU) melakukan unjuk rasa di depan kantor Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Jalan Imam Bonjol, Jakarta, Selasa siang, menuntut agar kasus dugaan korupsi di lembaga penyelenggara pemilu itu diusut tuntas, termasuk dengan memeriksa seluruh anggotanya.

Unjuk rasa FK-GMNU, yang antara lain beranggotakan mahasiswa dari UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Universitas Assafi’iyah Jakarta, Universitas Bung Karno, Universitas Nasional, Sekolah Tinggi Agama Islam NU dan anggota Gerakan Pemuda Anshor juga menuntut agar Menteri Hukum dan HAM, Hamid Awaluddin, yang mantan anggota KPU, dicopot jabatannya di Kabinet Indonesia Bersatu.

Menurut koordinator aksi, Ali Abel, kasus dugaan korupsi di KPU perlahan-lahan mulai terungkap, bahwa semua anggotanya terlibat dalam penyelewengan dana penyelenggaraan pemilu 2004 namun pengusutan kasus itu mulai menemui ketidakjelasan.

"Sebab, salah satu tonggak penegakan hukum di Indonesia, yaitu Kementerian Hukum dan HAM masih dijabat oleh salah seorang anggota KPU yang ikut menikmati dana taktis sebesar 20 miliar," kata Abel.

Terkait kasus dugaan yang melibatkan Hamid, FK-GMNU menagih komitmen pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono dan Jusuf Kalla dalam pemberantasan korupsi, karena saat pengambilan sumpah para anggota kabinet 20 Oktober 2004 dinyatakan akan mundur jika terlibat korupsi dan siap menerima sanksi hukum yang berlaku.

Selesai menggelar aksi di KPU, rombongan pengunjuk rasa melanjutkan aksinya ke Departemen Hukum dan HAM di Jalan Rasuna Said, Jakarta, guna menyuarakan tuntutan yang sama.

"Kami belum lupa Pak Susilo Bambang Yudhyono berkali-kali menyatakan akan memimpin sendiri pemberantasan korupsi jika terpilih sebagai presiden. Kini kami juga rakyat Indonesia menunggu realisasi janji tersebut," kata Abel.

Dalam aksinya para pengunjuk rasa mengusung sejumlah poster, yang salah satu di antaranya bertuliskan penagihan janji Presiden Yudhoyono untuk memberantas korupsi.

Mereka juga membentangkan spanduk untuk menyatakan empat tuntutan, yaitu "Usut Tuntas Kasus Korupsi di KPU Sampai ke Akar-akarnya, Copot Hamid Awaluddin dari Jabatan Menteri dan Adili Sesuai dengan Hukum yang Berlaku, Tegakkan Supremasi Hukum Tanpa Pandang Bulu, dan Tuntaskan Agenda Reformasi".(ant/mkf) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Anti Hoax, Doa Ustadz Felix Siauw Terbaru

FK-GMNU Tuntut Hamid Awaluddin Mundur dari Kabinet (Sumber Gambar : Nu Online)
FK-GMNU Tuntut Hamid Awaluddin Mundur dari Kabinet (Sumber Gambar : Nu Online)

FK-GMNU Tuntut Hamid Awaluddin Mundur dari Kabinet