Senin, 25 April 2016

Bantu Rohingya, Ketua AKIM: Bukan Hanya Jangka Pendek

Tangerang Selatan, Ustadz Felix Siauw Terbaru



Ketua Pelaksana Aliansi Kemanusiaan Indonesia untuk Myanmar (AKIM) M Ali Yusuf mengatakan, pihaknya memberikan bantuan kepada warga Rohingya bukan hanya yang berorientasi jangka pendek, tetapi juga jangka panjang.

“Program kita berjangka pendek dan jangka panjang untuk mereka,” kata Ali saat mengisi acara diskusi di UIN Syarif Hidyatullah Tangerang Selatan, Selasa (19/9).

Bantu Rohingya, Ketua AKIM: Bukan Hanya Jangka Pendek (Sumber Gambar : Nu Online)
Bantu Rohingya, Ketua AKIM: Bukan Hanya Jangka Pendek (Sumber Gambar : Nu Online)

Bantu Rohingya, Ketua AKIM: Bukan Hanya Jangka Pendek

Salah satu program bantuan jangka pendeknya adalah pemberian makanan, logistik, dan obat-obatan. Sedangkan program jangka panjangnya seperti membangun sekolah, rumah sakit, hingga melakukan diplomasi-diplomasi kepada pihak terkait agar tercipta perdamaian yang berkelanjutan.

Selain itu, Ali juga menuturkan kalau merenovasi pasar dan jalan juga termasuk ke dalam program-program jangka panjang yang disusunnya. 

Ustadz Felix Siauw Terbaru

“Niatnya kita adalah solusi jangka panjang,” tegasnya.

Ketua Lembaga Penanggulangan Bencana dan Perubahan Iklim Nahdlatul Ulama (LBBI NU) itu berharap, AKIM bisa menjadi pendorong atas terciptanya solusi di Rakhine State sehingga antara satu pihak dengan yang lainnya bisa saling menerima kembali.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Di satu sisi, Pemerintah Indonesia melakukan diplomasi dengan Pemerintah Myanmar untuk menyelesaikan konflik di Rakhine. Sedangkan di sisi lain, masyarakat Indonesia dan masyarakat Myanmar juga seharusnya lebih intensif untuk mendiskusikan hal ini. Indonesia bisa menjadi contoh bahwa beda agama dan suku bisa hidup bersama dalam satu wilayah. 

Ali menerangkan, dulu etnis Rohingya dengan warga Myanmar lainnya, terutama suku Rakhine, sempat untuk hidup bersama meski ada perselisihan kecil di sana-sini. Namun, setelah junta militer menguasai pemerintaha, etnis Rohingya menjadi termarjinalisasikan bahkan dipersekusi. (Muchlishon Rochmat/Abdullah Alawi)  

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru RMI NU, Kiai, Daerah Ustadz Felix Siauw Terbaru

Senin, 11 April 2016

Delegasi Indonesia Hanya Raih Juara Harapan MTQ di Libya

Tripoli, Ustadz Felix Siauw Terbaru
Dalam acara Musabaqah Tilawatil Quran (MTQ) Hifdhan wa Tajwidan untuk perempuan di Libya pada 19-24 Ramadhan yang diikuti oleh lebih dari 48 negara, satu-satunya delegasi Indonesia yang diwakili oleh Bahirah Najah hanya meraih juara harapan I. Juara pertama diraih oleh peserta dari Maroko, kedua dari Mesir dan ketiga dari Al Jazair.

Cewek asal Pasuruan yang merupakan alumni Pondok Pesantren Al Fattah Singosari itu sebelumnya merupakan juara MTQ Gorontalo untuk kategori putri. Sebagai juara harapan I ia memperoleh hadiah uang sebesar 20.250 Dinar Libya yang jika dirupiahkan senilai sekitar 170 juta rupiah.

Perlu diketahui, pada perlombaan sebelumnya, delegasi-delegasi Indonesia dapat maraih juara. Untuk katagori Tahfidz. H Martomo asal Sumatera, Mahasiswa PTIQ Jakarta ini menempati juara kedua dengan hadiang uang sekitar 500 juta, sedangkan untuk katagori tajwid. Moch Sofyan Ats-Tsaury, bocah berumur 13 tahun asal Sidoarjo yang merupakan peserta termuda pada perlombaan waktu itu meraih juara kedua harapan dengan hadiah uang senilai 40 juta rupiah. Mereka berdua juga merupakan juara MTQ Gorontalo.

"Musabaqah Watashimu An-Nisaiyah Al-Ula" yang bertempat di hotel Al Mahari Tripoli Libya ini dibuka langsung oleh putri pimpinan Libya, Dr. Aisyah Muammar Qoddhafi selaku ketua panitia dan sekaligus pimpinan yayasan "Watashimu. Perlombaan ini sudah berlangsung untuk ketiga kalinya dengan jadual terpisah antara laki-laki dan perempuan, bulan September lalu merupakan penyelenggaraan untuk laki-laki.
 
Kontributor Libya : Moch Syamsuddin AM

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru News, Berita Ustadz Felix Siauw Terbaru

Delegasi Indonesia Hanya Raih Juara Harapan MTQ di Libya (Sumber Gambar : Nu Online)
Delegasi Indonesia Hanya Raih Juara Harapan MTQ di Libya (Sumber Gambar : Nu Online)

Delegasi Indonesia Hanya Raih Juara Harapan MTQ di Libya

Jumat, 08 April 2016

PMII: Pemuda Jauh dari Cita Pendiri Bangsa

Pamekasan, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Di bawah terik matahari pukul 10.00 aktivis Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Cabang Pamekasan, satu per satu menaiki pondasi monumen Arek Lancor di jantung kota Pamekasan Ahad (27/10). Mereka berpidato.

Salah seorang aktivis, Mohammad Elman menegaskan, PMII miris kondisi pemuda hari ini. “Pemuda Indonesia, kini jauh dari cita-cita penegak kemerdekaan bangsa ini. Termasuk pemuda Madura sendiri. Tak sedikit yang masih terbelenggu oleh sifat menuhankan uang, pragmatis, dan karakter yang lebih mementingkan diri sendiri,” terang Ketua I PC PMII Pamekasan ini.

PMII: Pemuda Jauh dari Cita Pendiri Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
PMII: Pemuda Jauh dari Cita Pendiri Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

PMII: Pemuda Jauh dari Cita Pendiri Bangsa

Dikatakan, orasi yang menjadi perhatian banyak pengendara tersebut, merupakan salah satu upaya untuk merajut kesadaran para pemuda. Kesadaran betapa pemuda saat ini harus bangkit kembali. Pemuda Madura harus beranjak dari zona nyaman.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

“Jangan sampai, pesatnya teknologi dan informasi, menjadikan pemuda abai dalam belajar. Pemuda Madura yang sejauh ini belum begitu menjadi kiblat keilmuan dan kecakapan, bisa menunjukkan taringnya,” tekan Elman dengan wajah serius.

Pantauan Ustadz Felix Siauw Terbaru, massa PMII tampaknya tidak peduli dengan sinar matahari yang terasa membakar kulit. Hingga azan Dhuhur berkumandang, mereka tetap mendengungkan sekaligus mengajak pemuda agar sadar dan bangkit untuk semangat membangun negeri ini.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

“Salah satu langkah positif yang bisa dilakukan pemuda sekarang ialah memandirikan diri sendiri. Membikin dirinya hebat dengan ilmu pengetahuan serta kecakapan yang bersumber dari potensi dan bakatnya. Ketika sudah bisa mandiri dan sejahtera, maka baru ia bisa bicara dan melangkah untuk memandirikan serta menyejahterakan masyarakat,” ujar alumnus STAIN Pamekasan ini.

Menurutnya, pemuda saat ini, termasuk pemuda Madura, cenderung semangat melakukan kritik dan kontrol terhadap orang lain. Sedangkan dirinya terperangkap dalam keterpurukan.

Sudarsono, aktivis PMII lainnya, menyatakan betapa pemuda itu tidak boleh seperti lilin. “Jangan sampai ia menerangi sekelilingnya, tetapi dirinya sendiri terbakar. Jadilah matahari. Ia setia menebar sinar sepanjang waktu, hingga tiba nantinya akhir dari segala kehidupan ini,” tukasnya.

Refleksi Sumpah Pemuda PMII Pamekasan ini diikuti oleh kader yang tersebar di penjuru Kabupaten Pamekasan. Terdiri dari lima komisariat. “Hanya Komisariat STAI Al-Khairat yang tidak hadir. Sebab, saat ini sedang melangsungkan Mapaba (Masa Penerimaan Anggota Baru, red),” pungkasnya.

Dalam kesempatan itu, para aktivis pergerakan menghayati makna Sumpah Pemuda. Sempat disentil bahasa-bahasa presiden SBY yang seringkali dicampur dengan bahasa asing dalam pidato resminya. Disinggung pula betapa tanah air ini penuh dengan penindasan karena belum meratanya keadilan. (Hairul Anam/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Kajian Islam, Ubudiyah, IMNU Ustadz Felix Siauw Terbaru

Sabtu, 02 April 2016

Dedi Mulyadi: Soal Fakir Miskin, Mubalig Salah Jika Tidak Menekan Negara

Purwakarta, Ustadz Felix Siauw Terbaru



Bupati Purwakarta yang dikenal kontroversi karena pemikiran-pemikirannya kembali menawarkan gagasan. Usai menemui tokoh-tokoh dari lintas agama dalam rangka pembentukan Satuan Kerja Sekolah Ideologi, Selasa (19/1/2016) di Pendopo Kabupaten Purwakarta, ia sempat menyampaikan beberapa pandangan terkait dengan peran mubalig atau juru dakwah.

Kepada Ustadz Felix Siauw Terbaru, Bupati yang juga Wakil Ketua Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama Purwakarta ini mengatakan, selama ini peranan mubalig kurang optimal sebagai penyampai, atau penyeru kebaikan ke masyarakat. Ketidakoptimalan itu karena para mubalig kebanyakan kurang bergerak memasuki kawasan substansial dari nilai-nilai Islam dan terjebak pada kebiasaan-kebiasaan lama yang tidak menukik pada penyelesaian problem di masyarakat.

Dedi Mulyadi: Soal Fakir Miskin, Mubalig Salah Jika Tidak Menekan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)
Dedi Mulyadi: Soal Fakir Miskin, Mubalig Salah Jika Tidak Menekan Negara (Sumber Gambar : Nu Online)

Dedi Mulyadi: Soal Fakir Miskin, Mubalig Salah Jika Tidak Menekan Negara

"Misalnya, para kiai itu tidak perlu keliling menyampaikan pesan agar masyarakat zakat ke fakir-miskin. Lebih baik ia sampaikan pesan itu kepada anggota DPRD atau ke Bupati, Walikota, Gubernur dan Presiden. Para kiai akan lebih baik kalau menekan negara agar membenahi anggaran untuk fakir-miskin. Toh fakir-miskin juga secara konstitusi menjadi kewajiban negara. Kalau para ulama justru tidak berjuang menekan negara untuk kepentingan fakir-miskin itu, saya malah jadi curiga, jangan-jangan mereka bagian dari kekuasaan. Keliling ke mana-mana berdakwah soal nasib fakir-miskin seolah-olah kewajiban masyarakat melalui, padahal itu urusan negara," paparnya.

Dalam pandangan Dedi Mulyadi, dirinya sebagai Bupati tidak merasa pusing untuk mengurus zakat karena tanggung jawab dirinya bukan mengurus zakat, melainkan menyejahterakan rakyatnya. Karena itu ia selalu berjuang agar tidak ada fakir miskin di Purwakarta. Melalui anggaran yang ada, fakir-miskin harus dibebaskan dari beban kehidupannya.

"Apakah di Jepang misalnya ada pembicaraan siapa yang bertugas mengurus fakir-miskin? Tidak. Apakah di Inggris dibicarakan? Tidak. Di Indonesia ini saja yang aneh. Sudah jelas fakir-miskin dan anak-anak terlantar wajib diurus negara tapi ada orang miskin dibiarkan dan tidak melakukan protes ke negara," terangnya.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Fatwa substansial

Dedi Mulyadi menambahkan, bahwa urusan peranan kemasyarakatan ini juga sering rancu sehingga tidak ditemukan substansinya. Banyak kiai terutama mubalig yang kurang substansial dalam mendakwahkan nilai-nilai agama sehingga agama yang disyiarkan cenderung formal.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

"Kalau ngomong fatwa jangan urusan ibadah saja. Tetapi bagaimana seharusnya jalan yang rusak dan bikin orang terjungkal itu apa hukumnya? Kalau pemerintah terlambat membenahi jalan berlubang dosa atau tidak? Kalau pemerintah membiarkan orang terserang penyakit akibat kebanjiran dan hartanya hilang dosa atau tidak? Jika dosa, apa hukumanya? " terang Dedi.

Pemikiran Dedi yang seperti itu diakui olehnya karena ia menginginkan ajaran Islam itu tegak secara subtansial sebagai agama yang membebaskan manusia dari belenggu-belenggu kejahiliyahan atau ketidakberadaban. Ia mengharapkan agar Islam bisa berkembang sebagai agama yang memberikan rahmat, kebaikan dan kasih-sayang terhadap manusia dan alam semesta.

"Kalau hari ini kita bicara tentang fiqih, maka harus bicara tentang fiqih yang lebih luas. Misalnya, apa yang membuat orang Indonesia tidak tertib berlalu lintas? Apa yang membuat tata ruang dan juga ruang publik tidak beradab? Mengapa orang Indonesia tidak tertib dalam urusan kebersihan? Bagaimana hukum buang sampah sembarangan dan bagaimana mengatasi agar kebiasaan buruk itu berganti dengan kebiasaan yang beradab? Kalau kita ini mengaku beragama tapi tidak mengurus hal-hal seperti itu, saya curiga jangan-jangan kita ini tidak beragama. Sebab keimanan kita ternyata tidak dibuktikan melalui tindakan atau amal," terangnya.(Haris Azami/Mukafi Niam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Fragmen, Santri, Ulama Ustadz Felix Siauw Terbaru