Kamis, 13 November 2008

Ustadz Cepot Sampaikan Taushiyah Kemerdekaan RI

Bandung, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Himpunan Mahasiswa Aswaja (Hima) Bandung pada tasyakuran Hari Kemerdekaan Ke-69 RI membuka pengajian akbar bertajuk “Nusantara Bersatu” di masjid Ikomah UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Mereka dalam kesempatan ini berdoa untuk warga di Gaza Palestina yang dipandu oleh penyampai taushiyah Ustadz Ahmad Ihsan yang dikenal sebagai ustadz Cepot.

Ustadz Cepot Sampaikan Taushiyah Kemerdekaan RI (Sumber Gambar : Nu Online)
Ustadz Cepot Sampaikan Taushiyah Kemerdekaan RI (Sumber Gambar : Nu Online)

Ustadz Cepot Sampaikan Taushiyah Kemerdekaan RI

Menurut ustadz Cepot, kemerdekaan sebuah bangsa diraih tidak dengan mudah. Dengan senjata bambu runcing, orang Indonesia mengadakan perlawanan dengan pasukan NICA yang bersenjatakan teknologi canggih.

“Tapi ternyata dengan rahmat Allah tepat pada Jum’at hari yang barokah Indonesia berhasil mengibarkan benderanya, teriakan suara rakyat terkenal ke seluruh dunia, menggegerkan api jagad, merdeka dan merdeka,” kata ustadz Cepot, Sabtu (16/8) malam.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Sedangkan upaya mempertahankan dan mengisi alam kemerdekaan tidak kalah sulitnya. Pengasuh pesantren Ibadur Rahmah, Tangerang ini menambahkan, upaya yang perlu dilakukan dalam mengisi kemerdekaan adalah menuntut ilmu.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Ilmu, kata ustadz Cepot, kunci semua kebaikan. “Untuk itu, sumber daya manusia rakyat Indonesia harus meningkat. Ibu boleh miskin, bapak boleh miskin, tapi anak harus pintar, cerdik, dan mapan,” tegasnya.

Di akhir taushiyah, ia mengingatkan perihal cara kader Aswaja mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Zikir, tahlil, dan doa-doa merupakan cara tasyakuran yang baik. “Ini contoh Aswaja pada malam ini, diisi dengan pengajian,” tandas ustadz Cepot. (Muhammad Zidni Nafi’/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Nahdlatul Ulama, Pendidikan, Nasional Ustadz Felix Siauw Terbaru

Minggu, 12 Oktober 2008

Hasil Drawing Babak 16 Besar LSN Region Jawa Timur 1

Ponorogo, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Sebanyak 32 Tim peserta Liga Santri Nusantara (LSN) Region Jawa Timur 1 dipertemukan dalam acara Manajer Meeting di Gedung Korpri, Pendopo Agung Kabupaten Ponorogo, Selasa (16/8) lalu. Mereka berkomitmen untuk menjunjung tinggi sportifitas dalam pertandingan yang akan digelar mulai 25 Agustus mendatang.

Koordinator region LSN Jatim 1 Habib Mustofa berharap, Liga Santri Nusantara agar menjadi ajang pembuktian kalangan pesantren kepada dunia sepakbola bahwa santri pesantren mampu bermain dengan sportif dengan mentaati regulasi yang ada. Regulasi yang ketat, menurutnya, bukan bermaksud menyulitkan pesantren, namun semata-mata untuk kemajuan persepakbolaan pesantren ke depan agar lebih baik lagi.

Hasil Drawing Babak 16 Besar LSN Region Jawa Timur 1 (Sumber Gambar : Nu Online)
Hasil Drawing Babak 16 Besar LSN Region Jawa Timur 1 (Sumber Gambar : Nu Online)

Hasil Drawing Babak 16 Besar LSN Region Jawa Timur 1

“Mari kita jadikan LSN ini sebagai ajang silaturrahmi pesantren. Spirit permainya harus spirit pesantren. Namun tata cara permainan dan sistemnya harus sesaui regulasi yang ada,” tegasnya dihadapan manajer tim dan official perwakilan pesantren.

Gus Tofa, sapaan akrabnya melanjutkan, dibandingkan region lain di Jawa Timur, peserta LSN Jatim 1 termasuk yang banyak diikuti oleh peserta perwakilan pesantren. Panitia sangat mengapresiasi keikutsertaan pesantren tersebut. Sebagai bentuk apresiasi kepada para peserta, panitia telah menjadwalkan kehadiran Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi untuk membuka kick off LSN Jatim 1 yang dirangkai dengan Piala Bupati Ponorogo di Stadion Batoro Katong Ponorogo pada 25 Agustus mendatang.

“Menpora bapak Imam Nahrawi rencananya akan hadir untuk membuka LSN Jatim 1 di Ponorogo ini. Kita semua berharap, mudah-mudahan liga santri ? ini berlangsung dengan aman, meriah, dan barokah,” tandasnya.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Sementara itu pada manajer meeting yang dipimpin oleh Panitia Pelaksana Khotamil Anam ini, menghasilkan drawing untuk tim 16 besar LSN Jatim 1 yang meliputi, Kabupaten Madiun, Kota Madiun, Ngawi, Magetan, Ponorogo, Trenggalek, dan Pacitan.

Berikut ini adalah hasil drawing tim 16 besar LSN Jatim 1:

Ustadz Felix Siauw Terbaru

1. PP Darul Huda, Mayak, Ponorogo VS PP Roudlotul Ulum, Lambeyan, Magetan

2. PP Darul Ahkam, Geger, Madiun VS PP Tremas, Pacitan

3. PP Ittihadul Ummah, Ponorogo VS PP Darul Qur’an, Ngawi

4. PP Darul Hikam, Njorsan, Ponorogo VS PP Al Basyariyah, Pilangkenceng, Madiun

5. PP Cokro Kertopati, Takeran, Magetan VS PP Daris Sulaimaniyah, Trenggalek

6. PP Darul Muttaqin, Trenggalek VS PP Ainul Ulum, Ponorogo

7. PP Hudatul Muna, Ponorogo VS PP Hidayatul Mubtadiin, Trenggalek

8. PP Tarbiyatun Nasihin, Wayut, Madiun VS PP Subulul Huda, Kebonsari, Madiun

9. PP Darul Ulum, Poncol, Magetan VS PP Bumi Hidayah Attaqwa, Pogalan, Trenggalek

10. PP Thoriqul Huda, Cekok, Ponorogo VS PP Arridwan, Kelutan, Trenggalek

11. PP Al Hidayah, Kendal, Ngawi VS PP Hidayatullah, Pule Trenggalek

12. PP Hidayatul Mubtadiin, Tegalarum, Magetan VS PP Hidaatul Mubtadiin, Klego, Magetan

13. PP Qomarul Hidayah, Gondang Tugu, Trenggalek VS PP Nurul Qur’an, Pakunden, Ponorogo

14. PP Wisma Wisnu, Balerejo, Madiun VS PP Al Fattah, Kikil, Pacitan

15. PP Miftahul Nurul Huda, Panekan, Magetan VS PP Al Basmalah, Wonoasri, Madiun

16. PP Al Muttaqin, Babadan, Ponorogo VS PP Al Mujaddadiyah, Kota Madiun





(Zaenal Faizin/Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Kyai Ustadz Felix Siauw Terbaru

Kamis, 02 Oktober 2008

Mendefenisikan Ulang Makna Ilmu, Ulama, dan Mu’allim

Oleh: Najib Mubarok

Akhir-akhir ini kita dihadapkan pada permasalahan-permasalahan yang tidak biasa. Biasanya, suatu masalah timbul karena kebodohan. Namun, yang terjadi akhir-akhir ini permasalahan terjadi justru karena orang-orang berilmu, lulusan pendidikan tinggi.Timbul perdebatan-perdebatan tak berujung tentang akar masalah. Namun tidak ditemukan solusi dikarenakan masing-masing pihak menganggap dirinya paling benar. 

Atau mungkin yang sebenarnya terjadi bukanlah demikian. Mungkin permasalahan-permasalahan yang timbul semuanya disebabkan karena kebodohan. Namun, tidak satu pun yang menyadari dirinya dalam kebodohan, orang bodoh yang bodoh akan kebodohannya.

Mendefenisikan Ulang Makna Ilmu, Ulama, dan Mu’allim (Sumber Gambar : Nu Online)
Mendefenisikan Ulang Makna Ilmu, Ulama, dan Mu’allim (Sumber Gambar : Nu Online)

Mendefenisikan Ulang Makna Ilmu, Ulama, dan Mu’allim

Sebelum masa kerasulan Muhammad SAW, bangsa arab berada dalam kerusakan moral, ketidakadilan, bahkan penindasan dalam wujud perbudakan dan kepemimpinan yang lalim. Satu masa yang disebut zaman kebodohan, zaman jahiliyah. Disebut zaman kebodohan tidak lain karena kerusakan-kerusakan yang terjadi adalah akibat ketidaktahuan. Di masa penjajahan, bangsa Indonesia sangat mudah diperalat menjadi boneka-boneka kolonial, diadu domba, diperbudak penjajah. Akar permasalahan paling utama adalah kurangnya wawasan, ketidaktahuan, minimnya informasi karena minimnya pendidikan. 

Lalu, zaman pun berubah dan bergerak maju, dari kebodohan menuju keilmuan. Pendidikan sekolah tidak lagi menjadi barang langka, sebaliknya menjadi kwajiban bahkan kebutuhan. Wawasan dan akses informasi yang dahulu amat mahal, sekarang menjadi mudah atau bahkan terlalu mudah untuk didapatkan. Namun, semua seperti fatamorgana. Kemajuan-kemajuan dalam bingkai modernisasi di zaman ini seakan tidak menemukan tujuannya. Kita mengatakan zaman ini maju dalam keilmuan jauh dari kebodohan. Namun kerusakan-kerusakan yang terjadi di zaman kebodohan masih terulang, bahkan boleh jadi lebih rusak lagi. Jika dahulu kerusakan terjadi akibat ketidaktahuan, maka sekarang terjadi justru karena mengetahui dan bersengaja melakukan kerusakan. Mungkin bisa dikatakan, kerusakan yang terjadi dizaman ini dilakukan oleh mereka dengan pengetahuan dan wawasan luas, dilakukan dengan sengaja dan terencana, sangat sulit diperbaiki karena para pelakunya bersembunyi dalam kedok intelektualitas. 

Dalam upaya perbaikan dengan disertai niatan introspeksi oleh setiap diri dari kita, hal pertama yang dapat diupayakan adalah menanyakan kembali pemahaman kita tentang ilmu dan semua variabelnya, menanyakan kembali sudahkah upaya-upaya kita dalam mengamalkan ilmu menemukan tujuannya. Setidaknya terdapat tiga hal yang sangat penting untuk kita renungkan lagi makna dan pemahamannya, cakupan dan tujuannya. Ilmu, ulama sebagai subjek ilmu, dan mu’allim sebagai pengemban amanat ilmu, perlu kita kaji ulang berdasarkan fakta-fakta praktik di lapangan. Dan tentu saja, disertakan pula firman Allah SWT dan sabda rasulullah SAW sebagai dasar pijakan berpikir. 

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Ada tiga nash Al-Quran dan Hadits yang saya gunakan dalam tulisan ini. Penggunaan nash Al-Quran dan Hadits tidak saya maksudkan untuk saya tafsirkan, karena saya mengakui tidak memiliki kemampuan cukup untuk menafsirkan. Penggunaan nash Alquran dan Hadits kita gunakan sebagai refleksi atas fakta pemahaman yang terjadi, sebagai parameter sudahkah pemahaman kita terkait ilmu dan variabelnya menemukan tujuan pensyariatannya. Terdapat hal menarik pada nash-nash yang disertakan dalam tulisan ini. Semuanya mengandung ‘adatul qashri “?”  yang memiliki arti “anging pestine” dalam bahasa Jawa. 

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Berkenaan dengan ilmu, saya teringat dengan cerita seorang teman saat dia hendak berangkat kuliah dan mendapat nasehat dari ayahnya, “Niatkan kuliahmu untuk menuntut ilmu, menghilangkan kebodohan, lillahi ta’ala.” Cerita berbeda saya dapatkan dari salah satu teman saya yang lain saat berkonsultasi dengan keluarganya terkait rencana pilihan jurusan kuliahnya. “Kalau kamu ambil jurusan itu kamu mau kerja apa nanti?” Tanya sang ayah. Mungkin demikianlah yang saat ini dialami oleh kebanyakan dari kita. Kita mengalami degradasi standar nilai untuk memaknai sesuatu, terutama ilmu. Seakan-akan, ilmu dimaknai hanya dari sudut pandang potensi materialistisnya, peringkat nilai, ijazah, kemudahan kerja, kedudukan sosial dan kemapanan finansial. Terdapat sebuah hadits riwayat Imam Bukhari yang dapat kita gunakan untuk mengantarkan kita pada pemahaman yang lebih baik tentang ilmu.

? ?:? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? 

Artinya: “Imam Bukhari berkata: Rasulullah SAW bersabda: Barangsiapa yang Allah kehendaki terhadapnya kebaikan, maka Allah akan memahamkannya di dalam agama, dan bahwasannya ilmu itu diperoleh hanya dengan belajar.” 

Ilmu dan belajar tidak dapat dipisahkan. Satu-satunya cara agar kita berada di jalan menuntut ilmu adalah dengan belajar, hanya dengan belajar. Belajar memiliki banyak dimensi. Membaca buku atau mendengarkan ceramah hanya bentuk formalnya. Belajar muncul dari kerendahan hati merasa bodoh. Karena merasa bodohlah seseorang mampu meniatkan diri belajar. Karena merasa bodohlah seseorang yang belajar tidak akan mungkin menemukan keangkuhan dalam perjalanan menuntut ilmu. Lalu, siapakah mereka orang-orang di belakang kedok intelektualitas yang dengan angkuhnya mudah memberi label salah dan sesat kepada sesamanya?. 

Ilmu yang hanya bisa didapat dengan belajar mengajarkan kita berorientasi pada usaha dan proses menuntut ilmu, mengajarkan tidak adanya jalan pintas. Peringkat nilai, ijazah, gelar akademik, bahkan kedudukan dan pekerjaan dapat diperoleh dengan jalan pintas. Namun ilmu tidak. 

Ulama sebagai subjek ilmu, pelaku dari suatu cabang ilmu. Dia yang ahli dalam ilmu ekonomi adalah ulama ekonomi. Dia yang ahli dalam ilmu matematika adalah ulama matematika. Dia yang ahli dalam ilmu tambal ban adalah ulama tambal ban. Dia yang ahli memungut sampah, yang dengan baju kumuh dan gerobak sampahnya ahli mengelola sampah, adalah ulama bidang ilmu persampahan. 

Namun sepertinya, pemahaman tentang ulama di lapangan berkata lain. Ulama adalah sebutan bagi mereka yang ahli beretorika, yang memiliki keahlian menuai tepuk tangan dari setiap kalimatnya.

Seseorang disebut ulama hanya dilihat dari gelar dan kepintaran otaknya. Akibatnya, tidak sedikit ulama ilmu keuangan menjadi pelaku korupsi, tidak sedikit ulama ilmu kedokteran menjadikan orang sakit tidak lebih sebagai lahan ekonominya, tidak sedikit ulama -ulama yang menjabat di pemerintahan melupakan rakyatnya. Firman Allah SWT dalam surah Al-Fathir:28, sebagai berikut:

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: “Dan demikian (pula) diantara manusia, binatang-binatang melata, dan binatang-binatang ternak ada yang bermacam-macam warnanya (dan jenisnya). Bahwasannya yang takut kepada Allah dari hamba-hamba-Nya hanyalah para ulama. Sesungguhnya Allah maha perkasa lagi maha pengampun.”

Sangat menarik bagaimana Allah SWT menghubungkan antara ketakutan kepada-Nya dan ulama. Ulama menjadi manusia khusus dari hamba-hamba-Nya yang mampu merasa takut kepada Allah SWT. Satu-satunya yang mampu merasa takut kepada-Nya adalah ulama, hanya ulama. Ulama yang memiliki akar kata yang sama dengan ilmu, yang berasal dari kata dasar “mengetahui”. Dalam pengertian formal, mengetahui memang hanya terkait dengan hasil tangkapan indera dan otak. Namun dalam pengamalan dan implikasi-implikasinya, seorang berilmu diharuskan memiliki kontrol hati, kontrol laku, dan berujung pada ketaqwaan dan ketakutan kepada Allah SWT. Lalu, masihkah kita mampu untuk mengatakan kepada mereka dengan kepintaran dan gelarnya, yang menjadi oknum pejabat yang korup, menjadi oknum dokter pegawai bayaran, menjadi oknum pemimpin yang lali, sebagai orang yang berilmu?.

Mu’allim adalah orang yang mengajarkan ilmu, seorang pengajar, seorang guru. Mengajarkan ilmu adalah kwajiban, amanat bagi siapapun sebagai wujud mengamalkan ilmu. Mu’allim adalah sifat yang melekat bagi siapapun, karena setiap orang memiliki kwajiban mengajarkan ilmu sesuai kadar ilmu yang dipunyai. Namun seiring perubahan zaman, makna mu’allim pun bergeser maknanya. Mu’allim yang semula bermakna sifat yang merupakan amanat, berubah menjadi satu profesi menjanjikan, satu profesi yang menjamin kemapanan finansial dan kedudukan sosial. Tentu saja, masih banyak dari mereka yang berprofesi sebagai pengajar dan tetap berorientasikan pada penyampaian alanat ilmu. Namun, tidak sedikit pula yang menjadikan mengajar sebagai formalitas dalam rangka kegiatan ekonomi. Hadits riwayat Imam Bukhari berikut ini dapat kita jadikan pembelajaran tentang kearifan seorang yang mengajarkan ilmu.

? ? ?: ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?...

Artinya: “Dari Muawiyah berkata: saya mendengar nabi SAW bersabda: Barangsiapa yang Allah kehendaki terhadapnya kebaikan, maka Allah akan memahamkannya di dalam agama. Dan bahwasannya saya hanyalah pembagi, Allah yang memberi...”

Rasulullah SAW memberikan teladan bagaimana semestinya seseorang mengajar. Hal terpenting untuk diperhatikan oleh seorang pengajar adalah kwajiban dalam menyampaikan amanat ilmu, hanya itu. Bahkan, bukan menjadi tanggung jawab seorang pengajar kepahaman mereka yang diajar. Tanggung jawab utama dari seorang pengajar adalah mengajar semaksimal mungkin. Dan tentu saja tidak semestinya, seorang pengajar menjadikan faktor ekonomi sebagiai orientasinya.

Seakan sudah menjadi suatu keniscayaan, mereka dengan pengetahuan dan kecakapan berfikir yang baik akan menempati kedudukan penting dalam kehidupan, posisi-posisi penting yang menjadi garda depan kehidupan. Tentu sangat disayangkan, jika mereka yang berada di garda depan tidak benar-benar berilmu, tidak benar-benar ulama, dan tidak benar-benar mampu memberi keteladanan ilmu. Mungkin sudah terlambat untuk berharap pada zaman saat ini. Namun, kita masih bisa berharap pada generasi muda, generasi berikutnya yang kita semogakan mampu benar-benar berilmu dengan segala

cakupannya. Semoga kelak negeri ini berjalan maju dipimpin oleh mereka para ulama sejati dengan semua kelengkapan moralnya. Semoga kelak generasi-generasi ulama sejati akan terus berlanjut secara kontinu karena terus diwariskan oleh para mu’allim dari generasi ke generasi.

*

Penulis adalah dosen Ekonomi Syariah di Sekolah Tinggi Agama Islam NU (STAINU) Temanggung

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Santri Ustadz Felix Siauw Terbaru

Kamis, 04 September 2008

Peringatan Maulid Nabi ala Biker

Tengerang, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Para pecinta motor atau biker tak mau kalah dengan majelis ta’lim atau pondok pesantren dalam memperingati hari besar Islam. Para biker yang tergabung di MMC Outsiders Banten akan menggelar peringatan Maulid Nabi Muhammad di Pesantren Al-Kafii, Cikupa, Kabupaten Tangerang, Banten pada Ahad (19/1).

“Kami mengundang para bikers Se-Banten Club dan Comunitas maupun Club yang di luar Banten untuk ikut berpartisipasi dengan kami? untuk memperingati Hari lahirnya Nabi besar kita Muhammad saw di bulan Maulid,” kata Isfandiari kepada Ustadz Felix Siauw Terbaru, Jumat (17/1)

Peringatan Maulid Nabi ala Biker (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringatan Maulid Nabi ala Biker (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringatan Maulid Nabi ala Biker

Berbeda dengan yang lain, para biker merayakan Maulid Nabi dengan kampanye beramal dan berbagi untuk anak-anak yatim piatu.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

“Bagi para bikers yang berminat dan ingin menyumbangkan baju yang tidak terpakai (bekas) mau pun dengan bentuk uang seikhlasnya, silakan datang,” tambah Isfan.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Isfan menambahkan, yang tertarik pada kegiatan tersebut, meminta untuk berkumpul di Puspen depan Mesjid Raya Tangerang, pukul 8.30 WIB pada Ahad (19/1). “Kita sama-sama rolling ke pesantren Al-Kafii. Untuk info lebih lanjut silakan, hubungi saya di pin BB: 2A7CBC3C,” ujarnya.

Isfandiari adalah putra almarhum H. Mahbub Djunaidi (pernah aktif di IPNU, GP Ansor, Lesbumi, Pertanu, Ketua PBNU, dan Ketua Umum pertama PB PMII). Kepada Ustadz Felix Siauw Terbaru, ia menceritakan ketertarikannya bergabung dengan para biker.

“Ooo ya..ya, saya tertarik dengan keragaman anak motor dari yang alim sampai yang anti tuhan ada,” kata pria berambut gondrong ini.

Tapi, kata dia, para biker itu humanis, orang-orangnya sangat peka kepada sesama, apalagi kepada sesama motoris. “Mereka juga jago membuat sensasi, event bikers. Khusus klub saya, menurut saya lebih unik. Nanti deh ikut serta hang out pasti merasakan,” ungkapnya. (Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Bahtsul Masail Ustadz Felix Siauw Terbaru

Minggu, 24 Agustus 2008

Cara Memahami Hadits-hadits yang Bertentangan

Dalam kajian hadits, seseorang akan sangat banyak membaca riwayat dalam satu kitab. Untuk satu tema saja, bisa terdapat sekian banyak lafal hadits yang diriwayatkan oleh berbagai perawi hadits. Belum lagi dengan hadits yang ditemukan dalam kitab lainnya.

Ketika membaca kitab-kitab hadits, seseorang bisa bingung ketika ada hadits-hadits yang saling bertentangan. Sebagai contoh, hadits tentang larangan melakukan ziarah kubur bagi perempuan. Dalam beberapa hadits disebutkan bahwa Nabi melaknat perempuan yang berziarah kubur, sebagai contoh:

Cara Memahami Hadits-hadits yang Bertentangan (Sumber Gambar : Nu Online)
Cara Memahami Hadits-hadits yang Bertentangan (Sumber Gambar : Nu Online)

Cara Memahami Hadits-hadits yang Bertentangan

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Artinya: “Diriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Muhammad SAW melaknat perempuan yang berziarah kubur.”

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Hadits tersebut diriwayatkan dalam Sunan an-Nasa’i dan Sunan Abu Dawud melalui sahabat Abdullah bin Abbas. Selain itu ada pula riwayat lain dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal, Imam at Tirmidzi dan beberapa ulama lainnya.

Jika hanya membaca riwayat hadits tersebut, seseorang bisa sampai kepada kesimpulan bahwa ziarah kubur itu terlarang bagi perempuan. Inilah yang menjadi kesulitan dari para pelajar yang hanya membaca hadits tertentu tanpa mengetahui redaksi dari riwayat lainnya. Padahal terkait larangan ziarah kubur bagi perempuan itu, banyak hadits yang menyatakan kebolehannya.

? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? : ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya: Dari Anas bin Malik berkata bahwa Rasulullah Saw. bersabda: dulu aku pernah melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah, karena ia dapat mengingatkan akan kematian.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad bin Hanbal dan Imam al Hakim. Hadits ini menyatakan kebolehan ziarah kubur, baik untuk perempuan maupun laki-laki. Jika sebelumnya Nabi menyebutkan pernah melarang, namun sekarang sudah dibolehkan.

Dari kedua hadits tersebut, para ulama menyimpulkannya sebagai hadits yang shahih, sehingga bisa menjadi dasar hukum. Nah, bagaimana jika ada hadits-hadits yang bertentangan seperti itu? 

Para ahli hadits menyebutkan cara memahami hadits-hadits tersebut adalah ilmu mukhtalaful hadits, atau ilmu tentang hadits-hadits yang saling bertentangan. Terkait cara dan contoh dalam ilmu ini, Anda bisa merujuk karya terkait hadits-hadits bertentangan seperti Ikhtilaful Hadits karya Imam as-Syafi’i dan Ta’wil Mukhtalafil Hadits karya Imam Ibnu Qutaibah.

Ulama menyebutkan beberapa cara untuk mengurainya. Berikut penjelasannya:

Pertama, mengumpulkan riwayat (al-jam’u). Langkah ini diupayakan untuk bisa mengurai masalah perbedaan lafal yang ada, apalagi riwayat-riwayat yang bertentangan ini status hukumnya termasuk hadits yang sahih. Suatu hadits akan dikaji dan dibandingkan satu sama lain, baik dari segi kebahasaan maupun kaitannya dengan hadits lainnya.

Saat mempelajari hadits, maka sebisa mungkin untuk tidak berkesimpulan dahulu sebelum menemukan hadits lain yang ternyata memberikan riwayat lain yang memiliki maksud berbeda dari hadits tersebut. Informasi tunggal, dalam hadits yang sangat begitu banyaknya, kurang baik jika dipahami sepotong-potong, tanpa mempertimbangkan adanya hadits-hadits lain.

Kedua, mengetahui kemungkinan nasikh dan mansukh dari suatu hadits. Menurut ulama, semisal larangan Rasulullah SAW terkait satu hal bisa dibolehkan jika ada keterangan baru yang menyebutkan kebolehannya. 

Oleh sebagian ulama, hadits di atas tentang larangan ziarah kubur di atas termasuk dalam nasikh dan mansukh hadits. Selain melalui pernyataan Nabi sendiri, keterangan nasikh dan mansukh ini bisa diketahui dari keterangan sahabat, catatan sejarah atau ijma’ ulama terkait hal itu.

Ketiga, melakukan tarjih riwayat hadits. Hadits satu dan yang lain, selagi masih bisa diupayakan untuk membandingkan tingkat kesahihan, atau membandingkan riwayat satu dengan yang lain dalam lafalnya. Hal ini tentu dalam tingkatan yang dilakukan para ahli hadits yang sangat mumpuni.

Ketika para ulama tidak menemukan jalan keluar dari tiga metode di atas, para ulama mengambil sikap untuk tidak memberikan kesimpulan terlebih dahulu, atau tawaqquf, sampai ada keterangan lebih lanjut dari orang yang sudah meneliti pertentangan tersebut. Tapi hal ini konon jarang terjadi.

Mengetahui bahwa ternyata dalam periwayatan hadits banyak sekali adanya pertentangan, perlu dipahami bahwa dalam belajar agama, utamanya hadits, tidak dapat hanya sekedar mengenal satu hadits saja, melainkan juga harus mengetahui lainnya. 

Dengan demikian, kesimpulan hukum agama tentang satu hal tidak diambil terburu-buru, apalagi didakwahkan seakan-akan agama menjadi kaku. Ulama terdahulu telah mengajarkan kepada kita, bahwa dalam mempelajari agama, tidak bisa hanya mengandalkan informasi tunggal yang tidak dicermati benar-benar. Wallahu a’lam. (Muhammad Iqbal Syauqi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Khutbah, Pahlawan Ustadz Felix Siauw Terbaru

Sabtu, 12 Juli 2008

Ketua DPRD Jatim: Ideologi Aswaja Penting di Tengah Paham Radikal

Magetan, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Ketua DPRD Jawa Timur H Abdul Halim Iskandar mengajak seluruh kader Nahdlatul Ulama untuk turut berperan menjaga dan menyebarkan ideologi Ahlussunah wal Jama’ah (Aswaja). Menurutnya, kader NU telah tersebar di berbagai elemen masyarakat dan pemerintahan, sehingga memiliki peran strategis membesarkan jam’iyah ini.

Ajakan tersebut disampaikan Gus Halim, sapaan akrabnya saat acara Apel Kebangsaan 4.444 Banser yang digelar Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Magetan, Ahad (14/1) di Alon-alon Magetan. 

Ketua DPRD Jatim: Ideologi Aswaja Penting di Tengah Paham Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketua DPRD Jatim: Ideologi Aswaja Penting di Tengah Paham Radikal (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketua DPRD Jatim: Ideologi Aswaja Penting di Tengah Paham Radikal

Baginya, berperan di NU, akan mendatangkan berkah. "Siapapun kita, di manapun posisi kalau kemudian ideologi yang selalu mengalir dalam darah adalah ideologi NU, yakinlah hidup akan barokah," katanya.

Cucu pendiri NU, KH Bisri Syansuri itu menyampaikan, saat ini sendi-sendi kehidupan berbangsa dan bernegara tengah mengalami tantangan besar. Ini terkait maraknya paham radikal. Oleh karenanya, ideologi Aswaja An-nahdliyah menjadi sangat penting. 

"Kita sebagai warga NU harus mempunyai satu ideologi, apa itu? Ahlusunah wal Jama’ah,“ katanya. Karenanya, tidak ada napas yang ditarik dan tidak ada napas yang dilepaskan tanpa ideologi NU, lanjutnya.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Pak Halim, demikian kadang disapa, melanjutkan bahwa dalam masa kritis, NU telah teruji menjadi garda terdepan dalam melawan maraknya radikalisme yang mengikis rasa kebangsaan. Dirinya pun mengapresiasi peran GP Ansor dan Banser Magetan di bawah nakhoda Nur Wahid atau Gus Wahid yang menjadi garda depan itu.

"Oleh karena itu, selamat kepada Ketua GP Ansor Kabupaten Magetan, Gus Wahid yang telah sukses menyelenggarakan apel kebangsaan ini,” ucapnya. Ucapan serupa disampaikan kepada keluarga besar NU Magetan.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Hadir pada apel tersebut, Ketua Umum GP Ansor H Yaqut Cholil Qoumas (Gus Yaqut), Kasatkornas Banser H Alfa Isnaeini,  Ketua PW GP Ansor Jatim Rudi Tri Wahid, Bupati Magetan Sumantri, pengurus PCNU Magetan bersama banom, para kiai, dan sejumlah tamu undangan. 

Apel Kebangsaan diwarnai dengan berbagai atraksi kanuragan dan bela diri. Juga pembentangan bendera Indonesia dan bendera NU raksasa, hingga pembacaan Shalawat Nariyah sebanyak 4.444 kali. (Zaenal Faizin/Ibnu Nawawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Olahraga, Kajian Sunnah Ustadz Felix Siauw Terbaru

Kamis, 07 Februari 2008

Bupati Sarolangun: Lulusan Pesantren Harus Mampu Bersaing di Era Global

Sarolangun, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Sebagai lembaga pendidikan keagamaan, pesantren sudah selayaknya memberikan perhatian yang besar terhadap para lulusannya agar mampu bersaing di era global. Untuk itu, pembenahan ke arah yang lebih baik berupa pembekalan life skill (ketrampilan) kepada para santri harus segera dilakukan.



Bupati Sarolangun: Lulusan Pesantren Harus Mampu Bersaing di Era Global (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Sarolangun: Lulusan Pesantren Harus Mampu Bersaing di Era Global (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Sarolangun: Lulusan Pesantren Harus Mampu Bersaing di Era Global

Pernyataan tersebut diungkapkan Bupati Sarolangun, Drs. H. Hasan Basri Agus, MM dalam sambutannya di hadapan para pimpinan pondok pesantren di Propinsi Jambi saat mengikuti seminar sehari tentang manajemen pendidikan di gedung Bappeda, Sarolangun, Jambi, Kamis (24/5).

Lulusan Pondok Pesantren Asad Jambi itu menegaskan, untuk mencapai cita-cita tersebut pemerintah Kabupaten Sarolangun berjanji akan memberikan perhatian yang lebih pada sektor pendidikan di daerahnya.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

"Yang menjadi perhatian kami sekarang adalah adanya peningkatan SDM (sumber daya manusia). Untuk itu pemerintah Kab. Sarolangung akan menggratiskan biaya pendidikan sekolah dari SD sampai SMA," kata Basri.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Basri mengatakan, melalui dana dari APBD, pihaknya juga menawarkan beasiswa kepada kader muda di daerahnya untuk melanjutkan pendidikan di program Magister dan Doktor.

"Untuk setiap tahunnya, melalui dana dari APBD, kami juga akan memberikan beasiswa kepada 20 orang untuk mengambil Master dan 5 orang lainnya untuk mengambil program Doktor. sehingga dalam lima tahun ke depan kita sudah memiliki 25 orang Doktor dan dan 100 orang bergelar Master," terangnya yang disambut dengan tepuk tangan yang meriah dari para peserta seminar. (dar)Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Halaqoh, Ahlussunnah, Santri Ustadz Felix Siauw Terbaru

Rabu, 09 Januari 2008

Mantan Kepala Desa di Kalimantan Timur Ini Ikut Banser

Paser, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Usianya 53 tahun, tapi laki-laki gundul itu masih sanggup merayap, melintasi sungai, melompati api  hingga melewati bara api pada Diklat Terpadu Dasar (DTD) V GP Ansor Kabupaten Paser, Kalimantan Timur (Kaltim).

Mantan Kepala Desa di Kalimantan Timur Ini Ikut Banser (Sumber Gambar : Nu Online)
Mantan Kepala Desa di Kalimantan Timur Ini Ikut Banser (Sumber Gambar : Nu Online)

Mantan Kepala Desa di Kalimantan Timur Ini Ikut Banser

"Dapat informasi DTD dari anak saya yang sudah Banser lebih dulu, Mahmud Zaini Muslim," ujar Gatot Mangun Kusumo, di Paser, Ahad (12/11).

Lahir di Waru, Paser, 1964. Ia mantan Kepala Desa Bumi Harapan, Kecamatan Sepaku, Kabupaten Penajam Paser Utara (PPU), daerah tempat tinggalnya.

"Saya masuk Banser untuk memperdalam keorganisasian dan memperkuat silaturahim," kata dia lagi.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Gatot menilai, DTD Ansor Paser positif. Dari segi sosial hingga budaya disampaikan.

"Saya juga yakin akan mendapat bekal lahir batin dengan mengikuti DTD," kata dia lagi.

Selepas mengikuti DTD 9-12 November, Gatot bertekad melakukan pembinaan terhadap masyarakat serta aktifnya kembali Ansor dan Banser dengan eksistensinya.

Gatot juga mengaku senang dengan materi diberikan, tantangan dan rintangan seru dan mudah diingat diberikan sejumlah instruktur.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

"Ini tentu tidak kami lupakan karena sangat berkesan. Insyaallah saya siap menyumbangkan bantuan moral dan moril jika ada kegiatan Ansor dan Banser mendatang," paparnya.

PC GP Ansor Paser, Kalimantan Timur menggelar Diklat Terpadu Dasar (DTD) V di Suliliran Baru, Pasir Belengkong, Paser, Kalimantan Timur. Diikuti 161 peserta. 138 laki-laki, 23 perempuan.

Hadir dalam kegiatan itu Asinfokom Satkornas Banser Gatot Arifianto, Ketua PW Ansor Kaltim, M Fajri Al Farobi, Kasatkorwil Murjani, Kasat Provost Herryansyah, Ketua Majelis Dizkir dan Sholawat Rijalul Ansor Kaltim Gus Ahmad Mudaris mendampingi Ketua Ansor Paser Ahmad Syafii Badar, Sekretaris Agus Mulyono, dan Kasatkorcab Aba Rouf.

Hadir juga Ketua Ansor PPU Roni Setiawan dan Sekretaris Muhammad Syapari, Ketua NU Paser KH Khoirul dan Ketua PCNU PPU KH Syamsul Hadi Yusup hingga rangkaian kegiatan berakhir. (Erli Badra/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Kiai Ustadz Felix Siauw Terbaru