Senin, 22 Juni 2009

Saling Hujat karena Beda Pilihan Politik dalam Islam

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Redaksi Ustadz Felix Siauw Terbaru, saya ingin bertanya seputar pemilihan umum. Banyak orang sekarang ini saling hujat dan menjatuhkan karena perbedaan pilihan politik. Bahkan tidak sedikit diskusi mereka yang berujung pada putusnya silaturahmi. Bagaimana keterangan agama perihal ini? Mohon penjelasannya. Terima kasih. Wassalamu ‘alaikum wr. wb. (Syukur/Klaten)

Jawaban

Saling Hujat karena Beda Pilihan Politik dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)
Saling Hujat karena Beda Pilihan Politik dalam Islam (Sumber Gambar : Nu Online)

Saling Hujat karena Beda Pilihan Politik dalam Islam

Assalamu ’alaikum wr. wb.

Penanya yang budiman, semoga Allah SWT selalu menurunkan rahmat-Nya untuk kita semua. Kita sekarang ini telah memasuki zaman di mana masyarakat memiliki hak secara konstitusi untuk memilih pejabat publiknya baik itu seperti pemilihan kuwu, anggota dewan, bupati, gubernur, maupun presiden.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Kondisi ini amat berbeda dengan masa raja-raja zaman dahulu di mana masyarakat hanya menyaksikan peralihan dari satu ke lain raja, dari satu ke lain bupati tanpa memiliki pengaruh apapun dalam proses pergantian para pejabat itu. Dengan kata lain, kondisi terkahir kita ini patut disyukuri.

Meski demikian, kondisi sekarang ini juga perlu dibarengi dengan kedewasaan dalam menyikapi perbedaan pilihan. Ekses negatif dari pemilihan langsung pejabat publik itu antara lain adalah munculnya upaya saling menjatuhkan oleh masing-masing pihak. Bahkan tidak sedikit fenomena saling hujat dan saling hina kita temukan sekarang ini di tengah masyarakat hanya karena perbedaan calon misalnya kuwu yang diusung.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Tindakan saling menghina, saling hujat, dan saling merendahkan bukan akhlak yang diajarkan oleh Islam. Ada baiknya kita membuka kembali Surat Al-Hujurat ayat 11 berikut penjelasannya oleh Syekh Jalaluddin As-Suyuthi berikut ini.

"? ? ? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? : ? ? "?" ? ? ? "? ? ? ? ? ? ?" ? ? "? ?" ? "? ? ? ? ? ? ? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? "? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? "? ?" ? ? ? ? ? ? "? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? "? ? ?" ? ? ? ? ?

Artinya, “(Wahai orang-orang yang beriman, janganlah mengolok-olok) ayat ini turun perihal rombongan tamu Banu Tamim ketika mereka meremehkan orang Muslim yang fakir seperti sahabat Ammar RA dan Suhaib RA. “Olok-olok” bermakna mengejek dan merendahkan (oleh suatu kaum) di antara kalian (terhadap kelompok lainnya. Boleh jadi mereka [yang diejek] lebih baik dari mereka [yang mengejek]) di sisi Allah SWT. (Jangan pula perempuan-perempuan) di antara kalian ([mengejek] terhadap kelompok perempuan lainnya. Boleh jadi mereka [yang diejek] lebih baik dari mereka [yang mengejek]. Jangan pula kalian saling mencela) jangan kalian mencela orang lain sehingga berujung saling mencela. Jangan sebagian kalian mencela sebagian lainnya. (Janganlah saling memanggil dengan gelar-gelar buruk) Janganlah salah seorang kalian memanggil kawannya dengan sebutan-gelar yang ia tidak berkenan seperti panggilan “Hai fasiq” atau “Hai kafir”. (Seburuk-buruk nama) tersebut yang mengandung olok-olok, ejekan, celaan, dan gelar yang buruk (adalah panggilan yang buruk setelah beriman) “al-fusuqu” merupakan badal dari “al-ismu” untuk menegaskan bahwa gelar-sebutan penghinaan itu merupakan perbuatan buruk karenanya kata-kata itu diulang sebagaimana lazimnya. (Siapa saja yang belum bertobat) dari semua itu, (maka mereka itulah orang-orang yang aniaya),” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Tafsirul Quranil Azhim lil Imamainil Jalalain [Tafsirul Jalalain], Beirut, Darul Fikr, tanpa tahun, halaman 424).

Keterangan di atas merupakan peringatan bagi umat Islam dalam menjaga etika komunikasi. Islam mengajarkan kesetaraan. Suatu kelompok masyarakat baik laki-laki maupun perempuan tidak boleh merendahkan kelompok masyarakat lainnya hanya karena perbedaan kelas sosial, atau perbedaan lain.

Sementara kalau masyarakat memang sedang menggeluti hobi baru seperti suka menghujat dan senang mencemooh kelompok lain di luar diri mereka karena perbedaan calon kuwu atau bupati yang diusung, maka sebaiknya kita tidak perlu mencampuri pokok pembicaraan tersebut.

Dalam kondisi masyarakat telah diselimuti oleh fanatik buta dan fanatik tuli, maka sebaiknya kita mengangkat masalah lain di luar masalah politik praktis. Hal ini kita pilih agar kita dapat terhindar dari pertikaian dan debat kusir yang tak perlu sebagaimana anjuran Imam Al-Ghazali di bawah ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? !

Artinya, “Bab Ketiga Perihal Kepemimpinan. Pandangan dalam kepemimpinan juga bukan bagian dari perkara penting (prinsip/ushul), juga bukan bagian dari kajian ilmu aqli, tetapi lebih pada masalah fiqhiyah (furu’). Di samping itu masalah kepemimpinan mengobarkan kefanatikan. Karenanya orang yang menghindarkan diri dari (pembicaran) berlarut-larut di dalamnya lebih selamat dibanding mereka yang larut tenggelam di dalamnya meskipun ia benar. Terlebih lagi kalau keliru!” (Lihat Abu Hamid Al-Ghazali, Al-Iqtishad fil I‘tiqad, Beirut, Darul Fikr, 1997 M/1417 H, halaman 166-167).

Imam Al-Ghazali mengajurkan kita mengganti tema lain pembicaraan di luar politik sekalipun kita benar dalam pertimbangan kita. Kalau benar pun, kita sebaiknya diam atau mengambil tema lain. Apalagi kalau tidak mengetahui persis masalah politik, sebaiknya kita tidak perlu terlibat dalam perbincangan tersebut. Sebaiknya kita menjaga silaturahmi dan menjaga etika dalam berkomunikasi.

Demikian jawaban dapat kami kemukakan. Semoga bisa dipahami dengan baik. Kami terbuka dalam menerima saran dan kritik dari para pembaca.

Wallahul muwaffiq ila aqwamith thariq,

Wassalamu ‘alaikum wr. wb.

(Alhafiz Kurniawan)Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru IMNU, Ulama, Kajian Sunnah Ustadz Felix Siauw Terbaru

Selasa, 16 Juni 2009

Menaker Minta Polri Perkuat Pengawasan Pekerja Asing dan TKI Ilegal

Bandung, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Kementerian Ketenagakerjaan mengajak Kepolisian RI untuk meningkatkan kerjasama penegakan hukum terkait perlindungan dan pengawasan keberangkatan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) ilegal, perdagangan orang (human trafficking) serta pencegahan masuknya tenaga kerja asing ilegal.?

"Kemnaker masih memiliki banyak tugas terkait pengiriman TKI ilegal, human trafficking yang terkait pengiriman TKI ke luar negeri serta pencegahan masuknya tenaga kerja asing illegal. Kami mengajak Polri untuk bekerjasama menyelesaikan,” ? kata Menteri Ketenagakerjaan M Hanif Dhakiri saat memberikan kuliah umum di Sekolah Staf dan Pimpinan Tinggi Polri di Lembang, Bandung, Jawa Barat, Selasa (8/8)?

Menurut Menaker, kerjasama dengan Polri sudah dilakukan. Namun seiring meningkatnya tuntutan, kerjasama harus ditingkatkan.

Menaker Minta Polri Perkuat Pengawasan Pekerja Asing dan TKI Ilegal (Sumber Gambar : Nu Online)
Menaker Minta Polri Perkuat Pengawasan Pekerja Asing dan TKI Ilegal (Sumber Gambar : Nu Online)

Menaker Minta Polri Perkuat Pengawasan Pekerja Asing dan TKI Ilegal

"Salah satu hal yang Kemnaker lakukan bersama Polri adalah upaya dalam menekan TKI non prosedural dan juga upaya pencegahan perdagangan manusia," katanya.

Ditambahkannya, selain melakukan pengawasan yang ketat di pintu pemberangkatan TKI yang resmi, pemerintah ? juga perlu melakukan pengawasan jalur-jalur tikus yang biasanya digunakan untuk memberangkatkan TKI non prosedural. Sebagai negara kepulauan, Indnesia memiliki banyak jalur diperbatasan menuju negara tetangga. Kerjasama dengan Polri dan TNI mutlak diperlukan

Selain pengawasan di jalur tikus, Kemnaker juga memperbaiki tata kelola pemberangkatan TKI yang lebih mudah, melakukan pengawasan yang terintegrasi, pengawasan di bandara, pelabuhan, dan pernatasan.?

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Hal lain yang dilakukan adalah koordinasi dengan pemerintah daerah, khususnya daerah kantong TKI, serta aparat penegak hukum untuk ? melakukan deteksi dini pengiriman TKI illegal, human trafficking serta memberantas praktik percaloan dan premanisme terkait pengiriman tenaga kerja ke luar negeri. (Red-Zunus)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Ustadz Felix Siauw Terbaru Sholawat, News Ustadz Felix Siauw Terbaru

Senin, 15 Juni 2009

Tantangan Baru, Perlu Strategi Dakwah Baru

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Pada tingkat global, saat ini agama yang mengalami pertumbuhan paling cepat adalah agama Islam. Namun disisi lain, perkembangan yang cepat tersebut telah menyebabkan terjadinya shock pada umat Islam. Dalam menghadapi situasi baru ini, perlu pendekatan dakwah baru yang lebih cocok.

Demikian diungkapkan oleh Khatib Aam PBNU Prof. Dr. Nasaruddin Umar  dalam acara workshop Revitalisasi Peran NU sebagai Gerakan Dakwah Islam Rahmatan Lil Alamiin di Wisma Haji Jakarta, Senin.

Secara teologis, umat Islam Indonesia yang dalam sejarahnya banyak menggunakan pendekatan jabariah atau percaya pada takdir kini dihadapkan pada pandangan muktazilah yang sangat rasional. “Saat ini muballigh mana yang diikuti di TV, banyak umat yang kebingungan,” paparnya.

Tantangan Baru, Perlu Strategi Dakwah Baru (Sumber Gambar : Nu Online)
Tantangan Baru, Perlu Strategi Dakwah Baru (Sumber Gambar : Nu Online)

Tantangan Baru, Perlu Strategi Dakwah Baru

Pengamalan agama yang dulunya sangat berorientasi pada fikih juga mengalami perubahan. Kini banyak orang yang lebih mengikuti pendekatan spiritualisme atau yang penting bertuhan, tak perlu agama atau agama apa saja sama serta ajaran semacamnya.

Agama kini juga bukan lagi pengatur segalanya. Jika zaman dahulu semua hal diatur oleh ajaran agama atau religiousness. Kini pendekatannya berubah menjadi religious mindedness. Orang memiliki kebebasan dan peran agama menjadi sangat berkurang.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Jika pada zaman dahulu orang sangat berorientasi pada teks al Qur’an, kini masyarakat mulai berfikir ke arah konteks. Pendekatan hermenetika berkembang untuk memaknai kitab suci. “NU menolak hermenetika karena kalau salah dalam menafsirkannya bisa berbahaya,” tandasnya.

Menurut Nasaruddin, jika semua ajaran agama dimaknai secara sembarangan nantinya akan kehilangan warna asli Islam. “Rasionalisasi yang berlebihan juga akan menurunkan agama sekedar menjadi ajaran filsafat,” paparnya.

Secara kultural, warga NU juga mengalami shock. Jika dahulu, lebih berorientasi pada elit pesantren, kini terjadi perubahan dengan kecenderungan orientasi pada elit kampus. “Kalau kyai yang ngasih ijasah kan Allah, tapi dalam pekerjaan formal diperlukan mereka yang memiliki ijasah,” tandasnya.

Hal yang sama juga terjadi dalam aspek kepemimpinan. Pada masa lalu, Lingkungan NU bersandar pada kepemimpinan kharismatik. Namun sekarang terjadi perubahan kebutuhan dengan dibutuhkannya para manajer professional.

“Perubahan-perubahan ini harus diantisipasi oleh LDNU. Harus dibuat visi, misi, nilai, dan strategi baru dalam menjalankan dakwahnya agar sesuai dengan konteks zaman,” imbuhnya. (mkf)

Ustadz Felix Siauw Terbaru



Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Kajian Islam, Makam Ustadz Felix Siauw Terbaru