Jumat, 30 September 2011

Isi Ramadhan, Pelajar NU Ciwaringin Berbagi Takjil dan Buka Stand Buku

Cirebon, Ustadz Felix Siauw Terbaru - Ramadhan yang penuh hikmah ini dimanfaatkan oleh Pelajar NU di Kecamatan Ciwaringin Kabupaten Cirebon untuk berbagi dengan masyarakat. Mereka berbagi takjil dengan masyarakat dan membuka stan buku bacaan untuk masyarakat.

Menurut Ketua IPNU Ciwaringin M Habibi, kegiatan dibagi dalam dua tahap. Pertama, kerja sama dengan Club Motor Moonraket pada 23 Juni. Kedua, kerja sama dengan Pemerintah Kecamatan Ciwaringin.

Isi Ramadhan, Pelajar NU Ciwaringin Berbagi Takjil dan Buka Stand Buku (Sumber Gambar : Nu Online)
Isi Ramadhan, Pelajar NU Ciwaringin Berbagi Takjil dan Buka Stand Buku (Sumber Gambar : Nu Online)

Isi Ramadhan, Pelajar NU Ciwaringin Berbagi Takjil dan Buka Stand Buku

"Alhamdulillah, tadi kita baksos berjalan dengan lancar. Dukungan dari camat, danramil, para kiai, dan sesepuh Ciwaringin sangat membuat kami semangat dalam berbagi," kata Habibi kepada Ustadz Felix Siauw Terbaru di pendopo kecamatan setempat, Rabu (28/6).

Buku-buku stand baca ini berasal dari berbagai perpustakaan di Ciwaringin.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

"Dengan terselenggaranya kegiatan ini, kita bisa terus belajar bersama dalam segala hal dan bisa melahirkan itikad-itikad yang baik dalam masyarakat," harap Habibi.

Sementara itu Ketua IPPNU Ciwaringin Indah Sari menjelaskan, selain baksos pihaknya juga mengadakan kegiatan tadarus keliling dari desa ke desa. Diawali dari desa Bringin, Gintung Kidul, Babakan, Gintung Tengah, Gintung ranjeng, Budur, Ciwaringin dan yang terkahir di desa Galagamba.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

"Seluruh kegiatan yang dimulai dari 8 Juni sampai 28 Juni ini merupakan komitmen yang bagus bagi para anggota dan kader IPNU-IPPNU," kata Indah.

Sebagai penutup, Habibi dan Indah menegaskan bahwa seluruh kegiatan yang dilakukan sebagai wujud solidaritas dan kepedulian terhadap masyarakat yang menjalankan ibadah puasa.

"Juga untuk mengukur loyalitas dari setiap pengurus anak cabang dan ranting IPNU-IPPNU," tandas Habibi didampingi Indah. (Ayub Al-Ansori/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Meme Islam, Daerah, Internasional Ustadz Felix Siauw Terbaru

Sabtu, 24 September 2011

Menunda Shalat saat Kantuk Berat

Rasa kantuk merupakan naluri alamiah yang dialami oleh hampir seluruh manusia. Naluri tersebut bisa datang kapanpun, baik di siang maupun malam hari. Tidak jarang juga rasa kantuk datang saat seseorang tengah asyik menjalankan aktivitas kesehariannya seperti bersekolah, bekerja, mengajar dan lain sebagainya.

Penyebabnya pun juga beragam, ada yang karena kecapekan sehabis bekerja, usai berolahraga, ataupun di saat sedang membaca buku. Persoalannya agak sedikit njelimet ketika rasa kantuk tersebut mendera saat seseorang akan melaksanakan ibadah shalat. Lantas apa yang seharusnya ia lakukan?

Menunda Shalat saat Kantuk Berat (Sumber Gambar : Nu Online)
Menunda Shalat saat Kantuk Berat (Sumber Gambar : Nu Online)

Menunda Shalat saat Kantuk Berat

Imam Al-Bukhari meriwatkan sebuah hadits yang bersumber dari Sayyidah Aisyah RA di mana beliau mendengar Rasulullah SAW menyebutkan, Seandainya salah seorang di antara kalian didera oleh rasa kantuk, sementara ia hendak melaksanakan shalat, maka sebaiknya ia tidur terlebih dahulu hingga rasa kantuknya hilang, karena ketika seseorang shalat dalam kondisi mengantuk, bisa jadi ia tidak sadar ketika berdoa, (sehingga dikhawatirkan) malahan mencela dirinya sendiri.”

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Sementara itu Imam Muslim meriwatkan hadits senada, akan tetapi bersumber dari Sayidina Abu Hurairah RA di mana Rasulullah SAW bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian shalat malam, lalu bacaan Al-Qur’annya menjadi tidak karu-karuan (lantaran mengantuk), maka hendaklah ia tidur terlebih dahulu!”

Konteks hadits ini sebenarnya berbicara tentang larangan untuk berlebih-lebihan dalam beribadah (shalat malam), dalam artian setelah shalat beberapa rakaat di tengah malam, berzikir, membaca Al-Qur’an, lalu rasa kantuk datang menyerang, maka seseorang dianjurkan untuk tidur terlebih dahulu sekadar menghilangkan rasa kantuknya. Namun Imam Nawawi dalam Syarah Muslim-nya menggarisbawahi sebagai berikut.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

? ? ? ? ?: "? ? ? ? ? ? ? ? ? ?" ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?.

Artinya, “Sabda Rasul SAW di atas mengandung anjuran untuk melakukan shalat dengan khusyuk, sepenuh hati dan perhatian. Selain itu, hadits tersebut juga mengandung anjuran bagi orang yang mengantuk untuk tidur terlebih dahulu atau melakukan hal-hal yang bisa menghilangkan rasa kantuknya. Anjuran ini berlaku umum, baik untuk shalat fardu maupun sunat, baik shalat di malam atau di siang hari. Ini pendapat mazhab kami (Mazhab Syafi’i) dan mayoritas ulama dengan catatan shalat tetap dilakukan di dalam waktunya.”

Dengan demikian, dapat dipahami bahwa menunda pelaksanaan shalat dimaksudkan hanya untuk menjaga kualitas shalat agar tidak rusak oleh hal-hal yang membuatnya menjadi kurang khidmat dan khusyuk, karena substansi shalat pada dasarnya adalah munculnya rasa tenang, fokus, dan khusuk di dalam hati.

Poin ini akan sulit diperoleh oleh seseorang manakala ia shalat dalam kondisi mengantuk. Hal senada juga diingatkan oleh Rasulullah SAW dalam haditsnya yang lain sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari bahwa ketika azan sudah berkumandang, sementara makanan sudah terlanjur dihidangkan, maka seseorang dianjurkan untuk makan terlebih dahulu agar hasrat untuk makan tidak menganggu konsentrasinya dalam melaksanakan shalat.

Hal inilah yang kemudian mendorong sikap Sayidina Ibnu Umar RA, sebagaimana dikutip oleh Ibnu Hajar dalam Fathul Bari Syarh Shahih Bukhari yang bersumber dari Nafi’, “Tetap meneruskan makannya tatkala iqamat shalat sudah dikumandangkan serta imam sudah memulai bacaan shalat.” Begitu juga sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban bahwa Imam Nafi’ pernah suatu kali menemui Sayidina Ibnu Umar ketika beliau hendak menjalankan shalat Maghrib. Kebetulan pada saat itu Imam Nafi’ membawakan hidangan berbuka puasa untuk beliau. Namun tiba-tiba iqamat shalat pun berkumandang, akan tetapi Sayidina Umar tetap melanjutkan makannya sampai selesai dan setelah itu baru melaksanakan shalat.

Perlu digarisbawahi juga terkait kebolehan mendahulukan tidur di saat sangat mengantuk atau makan di saat sedang sangat lapar daripada ibadah shalat hanya diperbolehkan manakala pelaksanaan shalat tersebut tidak keluar dari waktunya. Dengan demikian, ketika waktu shalat sudah sempit (hampir habis), sementara rasa kantuk mendera serta rasa lapar menghadang misalnya, maka tetap saja seseorang dianjurkan untuk shalat terlebih dahulu untuk menghormati waktu shalat, meskipun dengan kondisi yang sangat berat dan dilematis.

Simpulan tulisan ini adalah memang agama Islam merupakan agama yang sangat toleran, namun ia tidak untuk dipermudah-mudah ataupun bahkan disepelekan sama sekali. Allahu a’lam. (Yunal Isra)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Anti Hoax Ustadz Felix Siauw Terbaru

Selasa, 06 September 2011

Sikapi Maraknya Hoax, Dai Muda Tingkatkan Kemampuan Literasi Media

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Penyebaran informasi yang masif melalui berbagai saluran media menyebabkan banjir informasi yang sulit ditentukan keshahihannya. Untuk itu, keberadaan para dai muda di tengah masyarakat harus mampu menjadi penuntun bagi masyarakat dalam memilih dan memilah informasi, agar tidak terjebak pada informasi palsu atau Hoax.?

Sikapi Maraknya Hoax, Dai Muda Tingkatkan Kemampuan Literasi Media (Sumber Gambar : Nu Online)
Sikapi Maraknya Hoax, Dai Muda Tingkatkan Kemampuan Literasi Media (Sumber Gambar : Nu Online)

Sikapi Maraknya Hoax, Dai Muda Tingkatkan Kemampuan Literasi Media

Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Forum Komunikasi Dai Muda Indonesia, Moh. Nur Huda menyatakan, para dai memiliki tanggung jawab penuh dalam memberikan pencerahan pada masyarakat, agar tidak tertipu pada informasi yang keliru.?

Untuk itu, perlu dilakukan peningkatan kompetensi literasi media pada dai muda yang hadir di tengah masyarakat. FKDMI, bersama dengan Kementerian Agama dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) akan menyelenggarakan Pelatihan Kader Dai Tingkat Nasional tahun 2017 tahap 1, dengan salah satu fokus bahasan menangkal informasi palsu (Hoax) di tengah masyarakat, dengan peningkatan kompetensi literasi media bagi para dai muda.?

Pelatihan ini akan dilaksanakan pada hari Kamis, 5 Januari 2017 di Kampus STAI Al-Aqidah Al-Hasyimiyyah Matraman Jakarta Timur.

Pelatihan kader dai ini akan diikuti oleh seratus orang dai muda yang ada di Jakarta dan utusan dari FKDMI tingkat wilayah. FKDMI berharap, dengan pelatihan ini, para dai mampu menjadi pelita bagi masyarakat di tengah membanjirnya informasi baik yang benar ataupun palsu.?

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Apalagi kondisi sosial masyarakat saat ini yang cenderung tegang dan berpotensi menimbulkan gesekan antar-umat beragama.?

“Jangan sampai para da’i tidak mampu mengarahkan masyarakat pada kebenaran, lantaran informasi palsu (hoax) dikemas sedemikian rupa seolah-olah itu adalah shahih,” ujar Huda.?

Huda juga mengingatkan empat sifat Rasulullah yang harus senantiasa diteladani oleh para da’i muda, yakni: Siddik (berkata benar), Tabligh (menyampaikan), Amanah (dapat dipercaya) dan Fathonah (cerdas).?

“Jika para dai senantiasa meneladani empat sifat ini, niscaya tidak ada celah sedikitpun untuk ikut serta menyuburkan informasi ? palsu yang cenderung memecah belah persatuan bangsa”, ujarnya.?

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Dirinya berharap, pelatihan dai ini dapat menghasilkan kader-kader dai yang mumpuni dan ikut membina masyarakat dalam mewujudkan tatanan yang Islami. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Ulama, News, Tegal Ustadz Felix Siauw Terbaru