Sabtu, 31 Desember 2016

Membaca, Menulis, dan Mendidik

Oleh Aswab Mahasin

Manusia hidup mempunyai banyak hal, sedangkan manusia mati hanya meninggalkan tiga hal; bacaannya, tulisannya, dan hasil didikannya. Begitupan sejarah dunia, dibentuk oleh tiga hal; pertama, buku menjadi pedoman pergerakan, seperti halnya gerakam komunis dengan rujukan Das Kapital karya Karl Marx, kedua, tulisan menjadi peninggalan monumental, seperti karya Imam Ghazali, Plato, dan Mbah Hasyim Asy’ari, dan ketiga, Konfusius seorang guru (pendidik) dan filsuf Cina pengajarannya memberikan pengaruh besar terhadap masyarakat Cina, Korea, Vietnam, dan Jepang. Masih banyak contoh dan mungkin ribuan eksmplar buku, tulisan, dan guru yang sempat menyetir sejarah bangsa dunia.

Membaca, Menulis, dan Mendidik (Sumber Gambar : Nu Online)
Membaca, Menulis, dan Mendidik (Sumber Gambar : Nu Online)

Membaca, Menulis, dan Mendidik

Lantas, apakah kita hanya berhenti dan puas akan gemerlapnya dunia, tanpa tiga peninggalan agung tersebut? Kita sepakat menjawab, tidak! 

Setiap manusia, siapapun dia, ingin terlibat dalam proses sejarah dunia. Khususnya menebarkan kemanfaatan tanpa putus. Ironisnya, kesadaran tersebut masih jarang dimiliki, dengan jutaan buku bacaan, kita lebih memilih membaca status medsos, dengan banyak kesempatan menulis huruf (baca: buku), kita lebih memilih menjadi generasi merunduk, dan dengan banyak kesempatan menularkan pengetahuan/ilmu, kita lebih memilih membisu.

Permasalahannya, kepentingan kita terhadap buku hanya di ladang formal, sekolahan dan perkuliahan. Di luar itu, seakan-akan buku tidak memiliki fungsi. Mungkin kita beranggapan fungsi buku di luar institusi formal tidak mempunyai nilai tambah, lalu kita mengacuhkan itu sebagai gizi pengetahuan. Tanpa kepentingan dengan guru atau dosen, tanpa konsekuensi hukuman, dan tanpa nilai A atau B yang kita dapatkan. 

Padahal di luar itu semua, prinsip terpenting buku adalah isi yang kita baca, di manapun kita berada. Begitupun dengan tulisan/menulis, tugas makalah, skripsi, dan sejenisnya—kita kerjakan mati-matian, menganut paham SKS (Sistem Kebut Semalem). Lantas setelah itu selesai, puncak akhir dari tulisan kita hanyalah skripsi, mungkin didapatkan dari copas di sana-sini.Setelah itu, kita hanya menjadi penulis chating di Medsos saja.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Sedangkan mendidik,tentunya hal yang jauh dari kita, karena realitas sejarahnya, semua pendidik adalah pemakan buku yang rakus dan melek literasi. Lantas, apakah kita demikian?

Pembaca Buku Indonesia

Sudah menjadi keterikatan logis, seorang pembaca buku yang baik adalah pendidik yang baik, begitupun sebaliknya seorang pendidik yang baik adalah penulis yang baik, dan sebaliknya lagi seorang penulis yang baik adalah pembaca yang baik.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Sekarang kita lihat bagaimana minat baca di Indonesia. Menurut “Most Littered Nation In The World”, yang dilakukan oleh Central Connecticut State University pada Maret 2016 lalu, Indonesia dinyatakan menduduki peringkat ke-60 dari 61 negara soal minat baca. Indonesia persis berada di bawah Thailand (59) dan di atas Bostwana (61). Padahal dari segi penilain infrastruktur untuk mendukung membaca peringkat Indonesia di atas negara-negara Eropa. Selain itu, berdasarkan Survei UNESCO minat baca masyarakat Indonesiabaru 0,001%. Artinya dalam seribu masyarakat hanya ada satu masyarakat yang memiliki minat baca.

Data tersebut memang memprihatinkan. Namun, permasalahan ini harus kita lihat secara utuh. Mungkin ada faktor-faktor lain yang menyebabkan minat baca Indonesia rendah, apakah faktor ekonomi, fasilitas, atau akses terhadap buku itu sendiri. Kita tidak bisa menyamaratakan kondisi sosial Indonesia dengan parameter survey mengenai dukungan infrastruktur dalam memfasilitasi minat baca. 

Objek penelitiannya mungkin di kota-kota besar, tidak menutup kemungkinan di kota-kota kecil atau pedesaan minat baca sebenarnya tinggi, tapi ada faktor lain yang memengaruhi. Indonesia itu luas, dan tidak semua daerah mampu mengakses informasi dengan mudah, apalagi harga buku seperti di luar jawa melambung tinggi, jangan samakan antara Jakarta dengan Papua dan jangan samakan antara Yogyakarta dengan daerah Timur lainnya. Saya optimis, minat baca Indonesia itu baik tidak seperti apa yang dikatakan survey di atas. 

Solusi Ideal

Minat baca tidak begitu saja tumbuh mendadak, apalagi menulis, begitupun mendidik. Rangsangan itu harus dimulai pada tahap paling dini. Saya tidak melihat keseriusan pemerintah dalam meningkatkan minat baca masyarakat Indonesia. Terobosan pemerintah paling terakhir hanya menggratiskan ongkos kirim. Bagi saya ini masih jauh dari harapan. 

Perpustakaan-perpustakaan desa/kecamatan, dibeberapa titik yang saya tahu tampak tidak ada aktifitas konkret, kotor, lusuh, dan tidak terurus. Seandainya pemerintah serius menggarap lapangan ini(saya tidak bosan-bosannya mengingatkan) khususnya pemerintah, harusnya merawat dan menghidupkan Taman Bacaan Masyarakat di setiap tingkatan kecamatan dan dibarengi dengan aktifitas-aktifitas menarik, tentu ceritanya akan berbeda. 

Selain itu, yang dibutuhkan oleh masyarakat untuk membangun minat baca sejak dini adalah “ruang steril anak”, laiknya taman pintar mini/area cerdas. Setiap hari libur sekolah (minggu) anak-anak disuguhkan dengan aktifitas-aktiftas kreatif, percobaan sains atau dongeng-dongeng yang dapat mengembangkan motorik anak. Indah sekali, jika pemerintah membuat ini merata di seluruh Indonesia, dengan cara bertahap pun tidak masalah. 

Jikalau pemerintah keberatan dengan hal tersebut, tentu Anda bisa menilainya sendiri. Tetapi, kita masih punya pegiat-pegiat literasi dengan sukarela dan ikhlas menyemarakan gemar membaca, sekarang luar biasa. Banyak sekali terobosan yang dilakukan, dari mulai perahu perpustakaan, sepeda ontel pustaka, dan sejenisnya. 

Selain itu, saya membayangkan satu hal, mungkin ide ini terlalu lucu, tapi ini serius, begini; setiap lima tahun sekali Indonesia menggelar pesta demokrasi, di situ banyak Calon Legislatif (Caleg) dari tingkat Kabupaten, Provinsi, dan Nasional. Mereka tersebar di semua titik “daerah pemilihan” (mulai tingkat desa). Dan kita semua tahu, setiap Caleg mengeluarkan dana yang tidak sedikit pada saat proses kampanye, Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten/Provinsi mencapai 300.000.000 – 1.000.000.000, sedangkan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia, menurut informasi yang saya dapat bisa mencapai 2.000.000.000 – 5.000.000.000. Fantastis bukan?

Pada tahun 2014 menurut berita-berita yang tersebar, ada 200.000 Caleg yang bertarung memperebutkan kursi di DPR dari seluruh tingkatan. Anda sekarang bisa membayangkan, berapa perputaran uang pada saat kampanye Caleg tersebut, kalau kita ambil rata-rata saja dari seluruh tingkatan, kita munculkan angka 500.000.000 (karena ada juga Caleg yang tidak pakai uang), rata-rata angka tersebut kita “kalikan” 200.000 (dari total jumlah Caleg), maka akan menemukan hasil 500.000.000 x 200.000 = Rp 100.000.000.000.000 (100 Triliun).

Anehnya, uang sebanyak itu pada ujungnya hanya menjadi sampah, karena tidak sedikit juga dana difungsikan untuk memasang iklan, membuat banner, pamflet, sticker, kaos, tanggalan, dan sejenisnya. Sungguh, bagi saya model kampanye seperti ini sama sekali tidak memiliki fungsi. Apalagi serangan fajar yang nominalnya hanya 20.000 – 50.000, kecerdasan macam apa yang mau ditularkan.

Nah, di sinilah saya membayangkan dan berandai-andai. Kalau saja nanti pada tahun 2019 seluruh Caleg se-Indonesia mendeklarasikan “kampanye cerdas” satu sama lain bersepakat mengalokasikan dana kampanyenya 50.000.000 – 100.000.000, dikhususkan dana tersebut dialokasikan untuk membuat Taman Bacaan Masyarakat (TBM) dan ruang steril anak di setiap daerah pemilihannya, peristiwa ini akan menjadi sejarah baru dalam dunia poilitik praktis Indonesia. Dan hal tersebut bukanlah perkara yang susah, minimal disetiap tingkatan kecamatan, atau paling minimal disetiap rumah Caleg.

Saya yakin akan banyak orang yang tertawa dengan ide gila ini. Namun, kita semua bisa membayangkan, andai saja ini terjadi di negeri kita, efeknya akan luar biasa. Tidak menutup kemungkinan minat baca, minat menulis, minat belajar, dan minat mengajar akan tumbuh subur. Dan menjadi model gerakan sosial baru dalam kontestasi politik nasional. Budaya-budaya positifpun tentu akan terinstal dengan sendirinya. 

Namun, apakah hal itu mungkin terjadi? Bagi saya, untuk memberikan persepsi cerdas terhadap masyarakat, saya berharap itu “terjadi”. Selama ini masyarakat diajak berpesta dengan kebiasaan “politik uang”. Jarang sekali saya mendengar, kampanye di Indonesia mempunyai sisi manfaat yang berkepanjangan dan abadi. Pendidikan politik kita yang harus dirubah. 

Saya optimis, Indonesia akan mencapai pada pendidikan politik praktis yang cerdas. Semoga dari ratusan juta penduduk Indonesia yang membaca ini, ada salah satu dari mereka mencalonkan diri menjadi anggota DPR di tahun 2019, dan pada saat proses kampanye memberikan manfaat lebih kepada masyarakat. 

Ide ini tidak diperuntukan bagi mereka calon-calon DPR yang takut kalah. Tapi, bagi mereka yang ingin menebarkan kemanfaat lebih dan memajukan bangsa ini melalui jalur pendidikan nyata. Karena menurut Pauolo Freire ada keterikatan dan keterkaitan antara pendidikan dan politik. 

Penulis adalah Dewan Pengasuh Pondok Pesantren Darussa’adah Kebumen, Jawa Tengah.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru AlaSantri Ustadz Felix Siauw Terbaru

Sabtu, 24 Desember 2016

LAZISNU Sumut Salurkan Zakat kepada Kaum Duafa

Medan, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Lembaga Amil Zakat Infak dan Sedekah Nahdlatul Ulama (LAZISNU) Sumatera Utara (Sumut) menyalurkan zakat kepada 108 kaum duafa, Sabtu (18/8) di kantor Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Sumut, Jalan Sei Batanghari No. 52 Medan.

LAZISNU Sumut Salurkan Zakat kepada Kaum Duafa (Sumber Gambar : Nu Online)
LAZISNU Sumut Salurkan Zakat kepada Kaum Duafa (Sumber Gambar : Nu Online)

LAZISNU Sumut Salurkan Zakat kepada Kaum Duafa

Penyaluran zakat kepada fakir miskin dan anak yatim itu dipimpin langsung Ketua LAZISNU Sumut Nispul Khairi, Wakil Ketua H Musa Ritonga, Pembina H Musaddad Lubis, dan Pengawas Yulpipa.

Hadir dalam acara itu Ketua Tanfidziyah PWNU Sumut H Ashari Tambunan, Sekretaris Misran Sihaloho, Wakil Rais Syuriyah H Imron Hasibuan, H Abdul Hamid Ritonga, Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) PWNU Sumut KH Asnan Ritonga, Wakil Ketua Tanfidziyah H Abdullah Nasution, Wakil Sekretaris H Khairuddin Hutasuhut, Emir El-Zuhdi Batubara dan pengurus lainnya.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Ketua LAZISNU Sumut Nispul Khairi dalam sambutannya mengatakan, zakat yang disalurkan kepada 108 orang fakir miskin dan anak yatim itu dihimpun selama lima hari, yakni sejak LAZISNU Sumut di-launching pada Senin (13/8) hingga Jumat (17/8). Masing-masing penerima zakat memperoleh uang Rp150 ribu.

Dia meminta penerima zakat agar memanfaatkannya dengan baik, dan jangan melihat nominalnya, tapi mari mendoakan muzakki (pembayar zakat) agar terus menerus diberikan limpahan rezeki oleh Allah SWT.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Nispul juga mengharapkan kaum duafa mendoakan LAZISNU Sumut agar terus mendapat kepercayaan dari muzakki untuk menyalurkan zakat, infak dan shadaqah (ZIS) ke depan. Sebab, jika LAZISNU berkembang dan dipercaya masyarakat, akan semakin banyak kaum duafa yang terbantu.

“Kita bersyukur, dalam lima hari beroperasi, LAZISNU diberi kepercayaan oleh masyarakat untuk menyalurkan zakat puluhan juta rupiah. Ini sebagai langkah awal yang baik untuk mengelola dan mengembangkan LAIZSNU menjadi lembaga yang amanah dan profesional dalam penghimpunan dan penyaluran ZIS,” kata dosen IAIN Sumut ini.

Sedangkan Ketua PWNU Sumut H Ashari Tambunan meminta kepada LAZISNU agar mengelola dan mengembangkan lembaga ini menjadi salah satu pilar pemberdayaan ekonomi umat yang amanah. Untuk itu, sepanjang tahun, LAZISNU harus terus bergerak menghimpun, mengelola dan menyalurkan ZIS untuk pemberdayaan ekonomi umat.

“Saya optimis, umat Islam khusunya warga NU akan menyerahkan ZIS-nya kepada LAZISNU Sumut jika lembaga ini dikelola dengan sungguh-sungguh, amanah, transparan dan akuntabel,” kata Ashari Tambunan.

Redaktur    : Mukafi Niam

Kontributor: Hamdani Nasution

 Message 11 of 493

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Khutbah Ustadz Felix Siauw Terbaru

Kamis, 22 Desember 2016

Jamaah Mantab Gelar Semaan Al-Quran di Ciputat

Tangerang Selatan, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Di tengah gersangnya Ibukota dari lantunan ayat-ayat Al-Quran, para huffazh (penghafal Al-Quran) yang tergabung dalam jamaah Mantab dan Dzikrul Ghofilin menggelar semaan Al-Quran dan pembacaan dzikir.

Kegiatan tersebut serasa bak oase di padang Sahara. Selaksa embun amat lekat dari wajah mulia para kiai muda yang hafal 30 juz tersebut. Kegiatan rutin ini digelar di Masjid Pondok Hijau jalan Pondok Hijau Raya Pisangan-Ciputat Timur-Tangerang Selatan, Sabtu (05/04) malam.

Jamaah Mantab Gelar Semaan Al-Quran di Ciputat (Sumber Gambar : Nu Online)
Jamaah Mantab Gelar Semaan Al-Quran di Ciputat (Sumber Gambar : Nu Online)

Jamaah Mantab Gelar Semaan Al-Quran di Ciputat

Pantauan Ustadz Felix Siauw Terbaru di sepanjang jalan Legoso Ciputat yang melewati Ma’had Aliy UIN Syarif Hidayatullah Jakarta tampak spanduk dan umbul-umbul Semaan Mantab. Penanda semaan pun dipasang di tiap pertigaan hingga di sekitar masjid Pondok Hijau. Dari kejauhan, terdengar sayup-sayup bacaan Quran dikumandangkan melalui pengeras suara di tiga menara masjid yang tinggi menjulang.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Hadir dalam forum rutinan tersebut, Dekan Ushuluddin Institut Perguruan Tinggi Ilmu Al-Quran (IPTIQ) Jakarta Dr H A Husnul Hakim beserta para santrinya. Selain itu, keluarga besar penyelenggara semaan Hj Linda Purnamarani turut meramaikan kegiatan tersebut. Beberapa purnawirawan dan anggota polisi aktif juga khusyuk menyimak pembacaan Alquran. Acara makin semarak ketika usai pembacaan juz ke-30 dilantunkan sholawat dari kitab karya al-Barzanji.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Menurut Pengasuh Padepokan Quran Ayatirrahman Serpong Tangerang Selatan KH Muhammad Musthofa, para penghafal Alquran tersebut berasal dari beberapa kota di Jawa Timur, antara lain Gus Mambaul Huda putra KH Farid bin KH Ahmad Shiddiq Jember, Gus Kholis Surabaya, Gus Muqorrobin, dan lain-lain. Sementara para penyemak (sami’in sami’at) datang dari berbagai penjuru wilayah Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi (Jabodetabek).

Dalam ceramahnya selaku pimpinan rombongan, Gus Kholis yang mewakili KH Farid menjelaskan, nama semaan Quran Mantab itu berasal dari Bahasa Arab: Man Taaba (Orang-orang yang bertobat). Jadi, organisasi ini berisi orang-orang yang ingin bertobat atas segala dosanya.

“Suatu ketika, Gus Joyo Kusumo yang jadi anggota DPR diperintahkan Gus Miek untuk menyelenggarakan semaan Quran di Jakarta Raya agar Indonesia aman, selamat dari marabahaya, tidak jatuh banyak korban. Hal tersebut diulangi tiga kali,” ujar Gus Kholis.

Lalu, tambahnya, Gus Joyo menemui Gus Dur untuk meminta pendapat tentang titah KH Hamim Jazuli yang akrab disapa Gus Miek tersebut. “Gus Dur kemudian bilang, ya udah kita laksanakan aja. Saya juga diperintah (semaan) oleh Gus Miek,” katanya menirukan Gus Dur. Acara semaan pun, lanjutnya, akhirnya dilaksanakan di bilangan Kalibata. (Ali Musthofa Asrori/Abdullah Alawi)

 

Ilustrasi: Seman Mantab Dzikrul Ghofilin (Jumat Wage)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Amalan Ustadz Felix Siauw Terbaru

Selasa, 06 Desember 2016

Cinta Lingkungan, Madrasah NU Wonosobo Tanam 1000 Pohon

Wonosobo, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Cara sekolah mengajarkan sesuatu pada muridnya tak mesti dilaksanakan di kelas. Madrasah Tsanawiyah (MTs) Ma’arif NU Kecamatan Kejajar, ? Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah, melatih siswa-siswinya secara rutin ? melakukan aksi tanam 1000 pohon di Desa Kreo, Kecamatan Kejajar.

Cinta Lingkungan, Madrasah NU Wonosobo Tanam 1000 Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)
Cinta Lingkungan, Madrasah NU Wonosobo Tanam 1000 Pohon (Sumber Gambar : Nu Online)

Cinta Lingkungan, Madrasah NU Wonosobo Tanam 1000 Pohon

“Kegiatan ini guna menanamkan jiwa cinta terhadap lingkungan dan juga merawat lingkungan. Harapan kami agar para siswa cinta terhadap lingkungan,” terang Supriyadi, pembina Pramuka MTs Ma’arif NU Kejajar kepada Ustadz Felix Siauw Terbaru, Kamis (13/11).

Disebutkan pula, 1000 pohon yang ditanam itu merupakan hasil dari pembibitan di sekolah. Setelah tumbuh agak besar, ditanamlah di beberapa lokasi di Desa Kreo. “Semoga saja setelah ditanam, nantinya bisa dirawat hingga tumbuh dan hidup menjadi lebih besar serta bermanfaat,” jelasnya.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Aksi tanam pohon ini terangkai dalam agenda rutin Perkemahan Sabtu-Minggu (Persami). “Secara rutin MTs Ma’arif Kejajar melakukan Persami. Namun, Persami kali ini berbeda dengan persami sebelumnya. Persami kali ini para melakukan aksi tanam 1000 pohon di desa Kreo Kecamatan Kejajar,” tambah Supriyadi.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Pihak sekolah berharap, aksi yang diikuti sekitar 250 siswa dari kelas VII sampai IX ini berlanjut hingga ke tingkat perawatan dan penjagaan sehingga jerih payah peserta dalam gerakan cinta lingkungan tidak sia-sia. (Fathul Jamil/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Pesantren, PonPes Ustadz Felix Siauw Terbaru