Selasa, 30 Desember 2014

Ramadhan Momentum Spiritualisasi Keilmuan

Oleh Mochammad Maksum Machfoedz

Teramat jelas digariskan tujuan diwajibkannya puasa Ramadlan: la’allakum tattaquun (QS 2-183), agar supaya kalian bertaqwa. Aneka stimulan melengkapi pencapaian tujuan dimaksud, mulai timulasi teknis yang mu’amalah dan hubungan antar-manusia sifatnya, stimulasi ubudiyah dengan aneka asesori ibadah puasa, sampai stimulasi fundamental berkait dengan mentalitas-kejiwaan manusia, urusan character building mendasar.?

Ramadhan Momentum Spiritualisasi Keilmuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan Momentum Spiritualisasi Keilmuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan Momentum Spiritualisasi Keilmuan

Salah satu stimulasi fundamental adalah kemutlakan perintah: I’diluu huwa aqrabu li at-taqwa (QS 5-8), berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Kewajiban memenuhi karakter keadilan tercermin dari kalimat perintah yang absolut sifatnya bagi siapa saja: i’diluu. Begitu absolutnya, sampai lebih 30 kali kata adil diungkap dalam Al-Qur’an, dan bisa disimpulkan dalam QS 16-90: innallaha ya’muru bi al-‘adl, sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil; dan ? QS 7-29: qul amara Robbi bi al-qishth, katakanlah ”Tuhanku menyuruhku berlaku adil’.

Relasi antara penegakan keadilan dan mutu ketaqwaan, dengan demikian menjadi ikatan keharusan yang menyatu dan tidak bisa disempal-sempal ketika dikehendaki siapa saja yang ingin menggapai tujuan puasa Ramadlan. Penegakan keadilan dalam kolektifitas, bermasyakat dan berbangsa juga begitu pentingnya: walau ‘ala anfusikum aw al-walidaini wa al-aqrabiin, in yakun ghaniyyan au faqiiraa (QS 4-135), meskipun terhadap diri sendiri, atau orangtua dan kerabat, kaya maupun miskin.

Begitu pentingnya keadilan dan penegakannya, sampai-sampai sebuah kitab mensarahi ajaran Imam Ibn Qayyim dengan menyimpulkan bahwa: laa tashluhu ad-dun-ya wa al-akhirah illa bi al-‘adl, tidak akan pernah ada kedamaian di muka bumi dan akhirat nanti, kecuali berlandaskan keadilan.

Pentingnya relasi perilaku adil sebagai karakter utama ketaqwaan, dengan demikian menjadi materi yang pantas direnungkan dalam Puasa Ramadlan. Kesiapan menjalaninya tidak lagi semata didasarkan atas kesempurnaan hubungan antar-sesama dalam urusan kemanusiaan dan mu’amalah, serta tidak hanya dilengkapi dengan aneka asesori ibadah seperti tarawih, shalat malam, tadarrus, dan sejenisnya. Akan tetapi, pada saat yang sama dilandasi pula oleh kesiapan berrevolusi mental, berlaku adil dan menegakkan keadilan bagi siapa saja.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Dalam konteks inilah kiranya, perilaku adil yang harus lempeng dan tegak lurus, setimbang, moderat dan menengah, tidak mirang-miring, dan menghargai orang lain, i’tidal-tawasuth-tawazun-tasamuh, bisa dihayati maknanya untuk tidak memungkinkan maraknya rasa benar sendiri, radikalisasi, dan apalagi munculnya aneka gratifikasi.?

Tidak bisa dipungkiri bahwa jabaran dari rasa keadilan tersebut dalam konteks kemasyarakatan dan kebangsaan akan memperkaya bangsa ini melalui puasa Ramadlan, dengan ajaran karakter mendasar al-akhlaq al-karimah dalam urusan berbangsa yang dibingkai dalam mabadi’ khaira ummah: ash-shidiq al-amanah al-‘adalah at-ta’awun al-istiqamah, jujur-amanah-adil-gotongroyong-konsisten, lima karakter dasar bagi masyarakat dan bangsa Indonesia yang beradab.

Pertimbangan pentingnya keadilan itu pula yang kemudian mentradisikan peringatan penegakan keadilan sebagai penutup khuthbah Jum’at semenjak pemerintahan Umar bin Abdul Aziz yang berkuasa dari 717 M sampai 720 M. Pemerintahan berkeadilan Umar menjadi melegenda bukan hanya karena telah berhasil menggeser khothbah dengan tradisi cacimaki selama 60 tahun sebelumnya menjadi seruan keadilan. Umar telah berhasil pula membangun peradaban pemerintahan berkeadilan.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Tentu bukanlah sekedar kerinduan terhadap sejarah Umar, ketika seruan keadilan cicit Umar bin Khatthab ini senantiasa menggelora dalam khutbah sampai kini, dibanding seruan lainnya. Efektifitasnya tentu perlu dibangun melalui gerak-langkah berkeadilan, untuk bisa lebih ngefek, dan mewarnai kehidupan berbangsa dan bermasyarakat sebagaimana dicontohkannya.

Adalah sebuah tantangan bagi keberadaan program studi humaniora dengan aneka pendekatan keilmuannya untuk menterjemahkan cita-cita dan amanat spiritual keadilan. Sudah tiba waktunya untuk mempertanyakan eksistensi keilmuan hukum ketika ketidak-adilan justru kini menjadi raja-diraja. Tantangan yang sama juga dilontarkan serius bagi keilmuan humaniora lainnya, termasuk ilmu filsafat, sosiologi, psikologi, komunikasi, sampai ilmu pendidikan usia dini ketika dekadensi moral justru menjadi-jadi. Perihal yang sama muncul pula sebagai tantangan ilmu ekonomi, dalam terapan ilmu pembangunan, managemen dan akuntasi, yang kini semakin eksploitatif dalam perekonomian.

Krisis ekonomi dan keserakahan akan sumberdaya alam sepenuhnya mulai dari sini. Resource Accounting, Ilmu Akuntansi Sumberdaya dalam menjawab peringatan Allah urusannya dengan kemerosotan dan kerusakan sumberdaya alam masih sangat tidak memadai karena kontaminasi kepentingan jangka pendek dan politisasi. Kemerosotan ini berakibat pada takrif-takrif palsu ekonomi pembangunan dengan segala kebodohan indikator pilihannya yang tidak mencerminkan kemashalatan, jikalau tidak boleh dikatakan justru memicu rusaknya lingkungan hidup.?

Mudah sekali dilihat begitu banyaknya kebijakan tanpa spiritualitas memadai, sampai anti spiritualitas. Hingar bingar liberalistik yang menghamba pada kapitalistiknya ilmu kerekayasaan, melalui berkembang pesatnya ilmu dan teknologi informatika, elektronika, sistem informasi, industri, mekanika dan aneka ilmu keteknikan, sampai keilmuan pangan dan agroindustri, berdalih sangat mulia dengan tujuan meningkatkan nilai tambah dan efisiensi ekonomis. Keilmuan ini jelas sekedar jabaran atas Firman-firman Kauniyyah yang tak terbantahkan. Akan tetapi, apa jadinya ketika nihil basis spiritualitas? Semuanya akan berujung kecongkakan akademik, dan ulah eksploitasi, bukan kemajuan kemashlahatan, tetapi penyebaran kemiskinan yang melawan Firman Tuhan.

Sebagai ilustrasi akademis bisa diangkat kebidangan yang disebut terakhir: pangan dan agroindustri, yang sangat terkait dengan ibadah puasa Ramadlan pada hari ini. Simpati dan empati terhadap segala keterbatasan dalam pemenuhan pangan sebagai kebutuhan dasar, basic need, merupakan salah satu esensi yang melandasinya. Puasa, menahan diri dari makan-minum, merasakan lapar dan dahaga, meski baru merupakan keutamaan manusiawi tingkat awal, membuahkan keutamaan berikutnya sebagai refleksi kepedulian antar sesama, ketaatan ilahiyah tiada tara, sampai kesyukuran paripurna atas segala kebesaranNya. Bukan sekedar simbolisasi.

Kelaparan merupakan keseharian keadaan sang papa, saudara-saudara kita yang sedang tidak beruntung, fakir-miskin sekitar kita. Telah menjadi tanda-tanda zaman, bahwa dalam masyarakat materialistis, sikap abai kalangan luas cenderung mempersalahkan mereka sebagai pecundang akibat kalah perang ekonomis dengan kemenangan para pemilik modal, aghniya’, dalam rivalitas ekonomis dan teknologis. Sungguh asumsi nir-spiritualitas yang memprihatinkan kita semua.

Asumsi itu salah besar karena Islam justru memberikan kasih-sayang sempurna bagi fakir-mikin. Eskalasinya tercermin dalam puasa Ramadan dengan aneka ritual dan peringatan membayar zakat. ? Hakekatnya, sebagian dari harta kekayaan aghniya’ adalah hak fakir-miskin, bukan hak si kaya. Karena itu, harus dibersihkan dan disucikan, tuthahhirukum wa tuzakkiihim biha (QS. 9: 103).?

Secara khusus, pelembagaan zakat fithrah sebagai kepedulian pangan sesama bahkan tidak terpisahkan dari kesempurnaan puasa untuk menggapai maghfirah dan ketaqwaan, sebagai jaminan kembalinya manusia kepada kesucian, al-fithr. Hal ini ditunjukkan dengan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah untuk setiap jiwa muslim yang mampu, dan harus dibayarkan ? qabla ash-shalah, sebelum shalat Iedul Fitri. Begitu hadits Nabi menyebutkan. Hak atas pangan harus dibayarkan ketika menginginkan kembali ke kesucian, iedul fitri. Untuk hak ini, ijinkan untuk menyebut Ramadlan sebagai Bulan Pangan, syahru ath-tha’am. Bukan menyebutnya ? bulan badhogan bagi abdul buthun.?

Fakta yang dipaparkan mensiratkan besarnya perhatian Islam terhadap hak atas pangan. Tata sistemnya pun dengan demikian harus berbasis kedaulatan, sebagaimana tercermin dalam kepedulian Muhammad terhadap urusan pangan yang sangat istimewa, seperti disabdakan: an-nasu syuraka-u fii tsalatsin: al-mau wa al-kala-u wa an-nar, manusia berserikat dalam tiga perkara: air, tetumbuhan dan api. Berserikat, syurakaa’, mensiratkan bahwa kekuasaan dan kedaulatan urusan ini berada di tangan rakyat, untuk ? sebesar-besarnya kepentingan manusia sebagai kolektifitas, dan pantang eksploitatif.?

Perhatian Allah tentang hak atas pangan, bahkan ditunjukkan dengan menyebut pendustaan agama, yukaddzibu bi ad-din (QS. 107: 1-3), termasuk mereka yang: laa yakhuddlu ala thaami al-miskin, tidak mengajak memberi makan fakir-miskin. Tafsir Qurtubi menyebut makna utama ayat ini: isyaratun ala annahu la yuthimu al-masakin idza qadara, mengisaratkan mereka yang tidak memberi makan ketika mampu.

Banyak pihak menjabarkan ayat ini lebih dari sekedar urusan pangan, tetapi pangan dan perekonomian umumnya. Surat al-maun ini menjadi inspirasi para pemimpin terdahulu, seperti Hadratus Syaikh Hasyim Asyari dengan syirkah muawwanahnya (gerakan koperasi), yang beliau kembangkan jauh hari sebelum NU dideklarasikan berdirinya oleh beliau.

Begitulah ketakwaan mensyaratkan tumbuhnya kepedulian sosial, mengamanatkan bahwa sebagian rejeki ? harus dinafkahkan (QS. 2: 2), kepada yang berhak, dalam keadaan lapang maupun sempit (QS. 3: 134), agar gini rasio tidak njomplang, serta supaya aset ekonomi tidak terkonsentrasi kepada segelintir orang kaya, kay la yakuna duulatan baina al-aghniyai minkum (QS. 59: 7).

Semoga kita beroleh rahmat untuk lebih manusiawi, semakin peka terhadap mereka yang lemah, terlebih yang paling tersingkir dalam pembangunan, , untuk kemajuan perekonomian bersama. ? Jauhkanlah kami semua ya Allah, untuk tidak justru menari-nari bagai burung bangkai, di atas kelemahan mereka yang sedang tidak beruntung, naudzu billaah..

Sungguh sebagai ilmuwan dan ilmuwan muda, mahasiswa-mahasiswi, sekelumit contoh yang menggambarkan betapa hinanya para ilmuwan, yang sehebat apapun, ketika tidak dilandasi kesiapan spiritualis sudah pasti akan keblinger, akan menjadi the most disadvantaged people, tidak mampu berlaku adil dan tidak bakal masuk dalam kategorisasi Allah sebagai ilmuwan yang ulama’.?

Kedalaman spiritualitas Ramadlan dengan segala paket ibadahnya, menempa kita semua, sebagai civitas akademika untuk insya Allah menjadi lebih komplit ketika tidak semata didukung rasa takut kepada Allah karena berbagai kealpaan hidup yang kita lakukan (khauf), akan tetapi didukung rasa takut nuraniah yang paling dalam kepada Allah, min khasyyatiLlah, yang dilandasi kesadaran, cinta dan penghormatan tulus kepada Allah SWT sebagai Yang Maha Agung, Maha Kuasa dengan segala kekuatannya, dan Maha Tahu dengan kesempurnaan ilmunya.

Rasa takut seperti ini terwujud, menggabungkan penafsiran Shobuni dan Ibn Katsir, liannahum ya’rifunahu haqqa ma’rifatihi li al-‘adlim al-qadiir atam, wa al’ilmi bihi akmal, karena para alim menghayati setulusnya akan keagungan, kesempurnaan kekuasaan, dan tidak terbatas keilmuan Allah.?

Attribut nuraniah khasyyatullah inilah karakterisasi Allah terhadap para ilmuwan yang memiliki basis spiritualitas: innamaa yakhsya Allaha min ibadihi al-ulamaa (QS 35: 28), sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah para alim. Signifikansi sosok ini ditegaskan pula dengan: wa hum min khasyyatihii musyfiquun (QS 21:28), dan karena rasa takutnya kepada Allah, mereka senantiasa berhati-hati.

Semoga Allah berkenan memberikan hidayah, sehingga kita semua tidak akan sekadar menjadi civitas akademika UNUSIA, tetapi civitas akademi yang sekaligus menghayati khasyyatullah, insya Allah.***

Penulis adalah Wakil Ketua Umum PBNU dan Rektor UNU Indonesia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Internasional, Cerita Ustadz Felix Siauw Terbaru

Minggu, 21 Desember 2014

Said Aqil: Afganistan Pernah Menggetarkan Dunia

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengingatkan para calon mahasiswi Afganistan yang akan belajar di perguruan tinggi NU, Afganistan mempunyai banyak ulama dan tokoh muslim kaliber dunia, seperti Imam Abu Hanifah, Abu Bakar Al-Baqillani, dan Jamaluddin Al-Afgani.

“Afganistan telah melahirkan banyak sekali ulama yang diikuti oleh umat Islam di seluruh dunia dan insyaallah akan teus lahir generasi ulama dari Afganistan,” kata Said Aqil saat memberikan pembekalan kepada 23 calon mahasiswi Afganistan di kantor PBNU Jakarta, Jum’at (25/10).

Said Aqil: Afganistan Pernah Menggetarkan Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Said Aqil: Afganistan Pernah Menggetarkan Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Said Aqil: Afganistan Pernah Menggetarkan Dunia

Afganistan juga pernah menjadi pusat perhatian dunia, saat para muhajidnya berhasil mengalahkan Uni Soviet. “Kemenangan Afganistan waktu itu telah menggetarkan dunia dan membuat citra umat Islam terangkat,” kata Said Aqil.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Namun kebesaran Afganistan mulai hilang semenjak negara muslim ini dirundung konflik. “Kita menyesalkan sekarang ini terjadi konflik yang semuanya mengatasnamakan Islam,” tambahnya.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Dalam hal mengelola konflik dan memelihara perdamaian, ia berharap Afganistan dapat meniru Indonesia.

“Di sini ada enam agama resmi dan banyak sekali aliran kepercayaan, juga ada empatratusan suku. Namun kami punya komitmen untuk mempersatukan tanah air,” katanya didampingi Wakil Ketua Umum PBNU H Asad Said Ali.

Umat Islam sebagai mayoritas penduduk Indonesia, bahkan merupakan yang terbesar di seluruh dunia, mengedepankan prinsip nasionalisme dalam membina hubungan dengan agama lain atau suku yang berbeda.

“Para ulama pendiri negara ini seperti Kiai Hasyim Asy’ari berprinsip bahwa Islam dan nasionalisme itu saling memperkuat. Kalau Islam saja, kita akan menjadi radikal. Kalau nasionalis saja, kita akan menjadi sekuler. Kita telah berhasil memadukan antara Islam dan nasionalisme,” kata Ketua Umum PBNU di di hadapan para calon mahasiswi NU dari Afganistan.

23 calon mahasiswi dari Afganistan berusia 19-23 tahun itu merupakan perwakilan dari beberapa wilayah di Afganistan. Mereka akan menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi NU, yakni Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang selama empat tahun ditambah matrikulasi bahasa Indonesia selama satu tahun.

Mereka akan mendapatkan beasiswa penuh dari PBNU yang kan belajar di Fakultas Ekonomi, Farmasi, FISIP dan Ilmu Hukum. Pengiriman mahasiswa dari Afganistan untuk belajar di perguruan tinggi NU ini merupakan kelanjutan dari beberapa kali kunjungan NU ke Afganistan dan kunjungan ulama Afganistan ke PBNU dan beberapa pesantren. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Humor Islam, Jadwal Kajian, Kyai Ustadz Felix Siauw Terbaru

Selasa, 16 Desember 2014

Sejumlah Cerita Menggelitik soal Pelumpuhan Hewan Kurban

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Penyembelihan hewan kurban berupa sapi dan kerbau selalu meninggalkan kesan lucu bagi orang yang menyaksikannya. Karena dalam satu tahap penyembelihan, sapi dan kerbau harus dilumpuhkan terlebih dahulu.?

Sejumlah Cerita Menggelitik soal Pelumpuhan Hewan Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Cerita Menggelitik soal Pelumpuhan Hewan Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Cerita Menggelitik soal Pelumpuhan Hewan Kurban

Tahap inilah yang menurut sebagian jagal hewan kurban tidak selalu mudah karena sapi dan kerbau kerap berontak, ngamuk, menyeruduk orang, lari berpuluh-puluh meter hingga masuk sungai bahkan akhirnya ada yang harus dilumpuhkan melalui tembakan polisi karena membahayakan orang lain.

Informasi mengenai sejumlah cerita menggelitik soal pelumpuhan sapi berhasil dihimpun Ustadz Felix Siauw Terbaru dari berbagai sumber. Di Bojonegoro misalnya, seekor sapi yang akan disembelih untuk kurban di Masjid Al-Islah di Desa Sukorejo, Kecamatan Kota, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Senin (12/9) terpaksa diangkat dengan kendaraan truk derek karena masuk sungai di desa setempat.

Saat itu, ada tiga pekerja yang menurunkan sapi warna hitam yang dibawa dengan kendaraan truk dari Kecamatan Sukosewu di depan Masjid Al Islah. Saat diturunkan dari atas truk, sapi lepas kemudian masuk perkampungan. Tiga pekerja dengan dibantu pengurus Masjid Al-Islah juga warga berusaha menangkap sapi yang berlarian masuk perkampungan tapi tidak berhasil.

Melihat ada sapi masuk sungai, warga sekitar berdatangan, selain ikut menyaksikan juga ikut membantu mengangkat sapi di sungai itu, dengan mendatangkan kendaraan truk derek dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bojonegoro. Usaha mengangkat sapi dengan kendaraan truk derek berlangsung 2 jam lebih, sebelum akhirnya sapi berhasil diangkat ke daratan.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Sruduk warga

Proses penyembelihan sapi di Medan lebih mencengangkan lagi meskipun mungkin lumrah, 3 ekor sapi yang akan disembelih di Masjid Suhada Jalan Pahlawan, Kecamatan Medan Perjuangan, Kota Medan mengamuk dan menyeruduk warung, serta beberapa orang warga.

Panitia kurban dan beberapa orang warga menyebutkan, kejadian itu bermula ketika salah seekor dari sembilan lembu yang akan disembelih digiring warga ke Masjid Suhada. Namun, secara tiba-tiba beberapa ekor mengamuk dan berusaha lari dari dalam masjid tersebut.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Meski belasan orang berupaya menahan lembu jantan itu, namun kekuatan hewan itu, tak terbendung sehingga menyeruduk seorang warga bernama, Abdul Amin dan beberapa warga lainnya. Bahkan, peristiwa tersebut langsung membuat heboh warga sekitar lokasi. Beberapa pengemudi mobil pribadi dan pengendara sepeda motor di Jalan Perjuangan sempat berhenti karena takut diserang lembu yang mengamuk.

Setelah kejadian itu, dua ekor lembu lainnya juga ikut mengamuk. Lembu yang mencoba kabur menabrak warung yang berada dekat masjid hingga roboh. Akibatnya, pemilik warung marah dan meminta ganti rugi kerusahkan kepada panitia kurban. Kemudian, tiga ekor lembu itu akhirnya berhasil ditenangkan dan disembelih panitia kurban.

Dilumpuhkan tembakan Polisi

Kali ini cara pelumpuhan sapi sangat tidak umum, yakni dilumpuhkan oleh tembakan polisi karena amuk sapi sudah pada taraf membahayakan warga. Ceritanya, seekor kerbau yang hendak disembelih oleh warga Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Senin, terpaksa ditembak oleh polisi setempat karena mengamuk dan lari ke pemukiman warga.

Salah satu tali pengikat kerbau tersebut tiba-tiba terlepas ketika warga selesai menyembelih empat ekor kambing kurban di Musala As Salam desa setempat Senin siang. Karena kerbau tersebut mengamuk, warga khawatir sehingga lari menyelamatkan diri dan sebagian ada yang mengejar kerbau yang lari ke arah Perumahan Puri Asri yang letaknya sekitar 20 meter dari musala.

Kerbau tersebut juga sempat mengejar Marto yang merupakan jagal, sehingga Marto juga lari menyelamatkan diri dengan naik ke atas pohon. Meskipun sudah berada di atas pohon, kerbau tersebut tidak mau melepaskan Marto karena beberapa kali menyerudukkan kepalanya ke arah pohon.

Upaya warga menangkap kerbau tersebut tidak membuahkan hasil. Bahkan, kerbau tersebut justru lari ke arah Desa Dersalam dan masuk ke rumah desa setempat yang jarak dengan musala sekitar 1 kilometer.

Selanjutnya, warga meminta bantuan aparat kepolisian setempat untuk melumpuhkan hewan ternak tersebut. Sejumlah personel kepolisian dari Polsek Bae yang diterjunkan untuk melumpuhkan kerbau tersebut, masih mengalami kesulitan karena hewan ternak tersebut masuk ke tempat bengkel las milik Sambiyono sehingga agak kesulitan melumpuhkan kerbau tersebut.

Di dalam dalam perbengkelan tersebut, juga terdapat material yang mudah terbakar sehingga upaya melumpuhkan harus dilakukan dengan hati-hati. Kerbau tersebut akhirnya bisa dilumpuhkan di dalam perbengkelan setelah ditembak polisi dan mengenai kepala kerbau. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Internasional, Cerita Ustadz Felix Siauw Terbaru

Jumat, 12 Desember 2014

Mensos Khofifah Dukung Program Perburuan Anak Putus Sekolah

Sungailiat, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa mendukung sepenuhnya pemerintah Kabupaten Bangka, Provinsi Kepuluan Bangka Belitung yang mencanangkan program "perburuan anak putus sekolah" (Bunastulah).

"Saya mendukung sepenuhnya program Bunastulah yang digagas pemerintah Kabupaten Bangka, dan program ini baru pertama kali ini saya mengetehuinya," katanya di Sungailiat, Rabu, (5/4) saat menyerahkan bantuan sosial nontunai di Desa Silip Kecamatan Riausilip, Sungailiat seperti dilansir Antara.

Mensos Khofifah Dukung Program Perburuan Anak Putus Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Khofifah Dukung Program Perburuan Anak Putus Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Khofifah Dukung Program Perburuan Anak Putus Sekolah

Dengan dicanangkan program itu, dia minta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat memperioritaskan agar program yang cukup bagus ini dapat berjalan sesuai yang diinginkan bersama.

"Berbagai program sosial pemerintah pusat maupun daerah harus berdasarkan data yang valid, sehingga bantuan sosial dapat tepat sasaran," ucapnya, menegaskan.

Ia mengatakan, validasi data menjadi persoalan yang harus diselesaikan bersama antara pemerintah pusat dan daerah, karena seharusnya data diambil secara berjenjang dari pemerintah daerah mulai dari RT, kepala desa, camat, bupati, gubernur hingga akhirnya sampai ke menteri.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

"Saya menginginkan adanya perubahan rezim beda data yang selama menjadi suatu persoalan bersama, namun jika pola pendataan dimulai dari tingkat RT sampai jenjang akhir ke menteri, Insyaallah beda data dapat dikurangi," ujarnya.

Menurutnya, banyak program sosial pemerintah Kabupaten Bangka yang harus didukung semua pihak, mulai dari program Bunastulah, program "Perburuan Ibu Hamil Beresiko Tinggi" (Bumil Resti), dan "Perburuan Orang tua Hidup Sendiri" (Buratuhiri).

"Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masuk dalam kota yang menerima program beras sejahtera (ranstra) dari 44 kota di Indonesia," ujarnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Ustadz Felix Siauw Terbaru Sunnah, Jadwal Kajian Ustadz Felix Siauw Terbaru