Minggu, 19 Desember 2010

Lampung Tengah Bersholawat Disambut Ribuan Syecher Mania

Lampung Tengah, Ustadz Felix Siauw Terbaru - Terobati sudah kerinduan ribuan Syecher Mania (sebutan penggemar Habib Syech) Provinsi Lampung, khususnya di Kabupaten Lampung Tengah, dengan kehadiran Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf dari Solo Jawa Tengah dalam rangka Lampung Tengah Bersholawat, Kamis (22/9).

?

Abdul Ghofur selaku Ketua Panitia Lampung Tengah Bersholawat mengatakan, Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf sudah pihaknya jauh-jauh hari sudah mengundang Mustasyar PWNU Jateng itu.

Lampung Tengah Bersholawat Disambut Ribuan Syecher Mania (Sumber Gambar : Nu Online)
Lampung Tengah Bersholawat Disambut Ribuan Syecher Mania (Sumber Gambar : Nu Online)

Lampung Tengah Bersholawat Disambut Ribuan Syecher Mania

"Dan alhmdulillah malam ini kurang lebih sepuluh ribuan Syecher Mania di seluruh pelosok propinsi Lampung hadir memadati pusat administrasi kabupaten Lampung Tengah ini," imbuh anggota DPRD Lampung Tengah ini, Kamis. Acara dipusatkan di Lapangan Merdeka Gunung Sugih, Lampung Tengah.

?

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Habib Syech bin Abdul Qodir Assegaf dalam sambutannya mengaku sangat senang bisa silaturahim kembali dengan ribuan jamaah Syecher Mania di Kabupaten Lampung Tengah. Ia hadir di Provinsi Lampung sudah tiga kali, dua kali di kabupaten Lampung Tengah dan satu kali Kabupaten Pringsewu.

"Mudah-mudahan selanjutnya, saya dan rombongan Ahbabul Musthofa bisa silaturahim rutin di Provinsi Lampung setahun sekali. Dan saya nyatakan Kabupaten Lampung Tengah ini adalah sebagai pusatnya Syecher Mania di Provinsi Lampung," imbuh Habib Syech.

?

Hadir dalam Lampung Tengah? Bersholawat tokoh NU dan kiai-kiai pesantren, antara lain? H Mustafa (Bupati Lampung Tengah),? KH Fathul Mujib (Mustasyar PCNU Lampung Tengah), KH Muhtar Ghozali (Rais Suriyah PCNU Lampung Tengah), Kiai Ahmad Jailani MS (Ketua Tanfidziyah PCNU Lampung Tengah), Habib Yahya Pringsewu, KH Kholiq Amrullah Adnan (pengasuh Pesantren Tri Bhakti Attaqwa Lampung Timur), dan puluhan kiai-kiai pesantren, para habaib, serta pengurus badan otonom dan lembaga di lingkungan PCNU Lampung Tengah. (Akhmad Syarief Kurniawan/Mahbib)

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Sunnah Ustadz Felix Siauw Terbaru

Jumat, 17 Desember 2010

Inilah Lima Alasan Pentingnya Hari Santri Nasional

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Awal kemunculan keputusan Hari Santri Nasional (HSN) adalah agar negara hadir dan memberikan perhatian, pengembangan terhadap santri dan pesantren dan juga memperhatian anggaran pendidikan. Pesantren didorong dapat hadir menjadi driving force yang dapat mengintegrasikan ideologi sosiologis dan politik kepada seluruh umat Islam Indonesia.?

Inilah Lima Alasan Pentingnya Hari Santri Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)
Inilah Lima Alasan Pentingnya Hari Santri Nasional (Sumber Gambar : Nu Online)

Inilah Lima Alasan Pentingnya Hari Santri Nasional

Demikian disampaikan Dirjen Pendidikan Islam di Jakarta, Senin (19/10) seperti dikutip dari laman kemanag.go.id.

Kamaruddin Amin menjelaskan, setidaknya ada 5 alasan penetapan Hari Santri Nasional yang akan jatuh tanggal 22 Oktober 2015 dan akan dicanangkan di Masjid Istiqlal, Jakarta. Pertama, sebagai pemaknaan sejarah Indonesia yang genuine dan authentic yang tidak terpisahkan dari episteme bangsa, di mana Indonesia tidak hanya dibangun dengan senjata, darah dan air mata, tetapi berdiri karena keikhlasan dan perjuangan para santri relijius yang berdarah merah putih, sebagaimana dengan sempurna dilakonkan Oleh Hasyim Asy ari, Ahmad Dahlan, A Hassan, Muhammad Nasir, Cokroaminoto, dan tokoh besar lainnya,?

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Kedua, secara sosio politik mengkonfirmasi kekuatan relasi Islam dan negara. Indonesia dapat menjadi model dunia tentang hubungan Islam dan negara, Ketiga, meneguhkan persatuan umat Islam yang telah terafiliasi dan menyejarah dalam ormas islam dan parpol yang berbeda, perbedaan melebur dalam kesantrian yang sama, Keempat, Mainstreaming santri yang berpotensi termarjinalkan oleh derasnya arus globalisasi.?

“Penetapan hari santri tentu tidak hanya bersifat simbolik formalistik, tetapi dalam bentuk afirmasi realistis terhadap komunitas santri,” kata Kamaruddin Amin.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Kelima, menegaskan distingsi Indonesia yang relijius demokratis atau upaya merawat dan mempertahakan religiusitas Indonesia yang demokratis di tengah kontestasi pengaruh ideologi agama global yang cendrung ekstrim radikal.

“Islam Indonesia kontemporer yang demokratis, progresif, moderat, toleran, inklusif, apresiatif terhadap diversitas budaya dan agama tidak bisa dilepaskan dari kontribusi fundamental para santri,” ujar Kamaruddin Amin.

Dalam penetapan HSN ini, Kamaruddin berharap pemerintah dan santri harus terus bersinergi mendorong komunitas santri ke poros peradaban Indonesia. Santri jangan hanya sebagai penonton, cemburu dalam dialektika sosial budaya ekonomi politik Indonesia.?

Pesantren sebagai lembaga dakwah, lembaga pendidikan tafaqquh fiddin terus kiranya berkontribusi dan mencetak ulama, agaen perubahan yang menjadi garda terdepan dalam membelaNegara Kesatuan Republik Indonesia. Selian itu, pesantren kiranya dapat mempromosikan gerakan anti narkoba, gerakan anti radikalisme, gerakan santri amar makruf nahi munkar, hingga pada santri yang melek dunia perbankan, melek sain dan teknologi.?

“Jika sinegri ini dapat diwujudkan maka santri akan menjadi komunitas penting yang akan menopang Indonesia sejahtera di masa akan datang,” tutup Kamaruddin Amin. ? Red: Mukafi Niam

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Warta, Bahtsul Masail Ustadz Felix Siauw Terbaru

Senin, 13 Desember 2010

Bupati Way Kanan: NU Harus Konsisten Jaga Kemajemukan

Way Kanan, Ustadz Felix Siauw Terbaru?

Bupati Way Kanan, Lampung, H Raden Adipati Surya mengingatkan jajaran pengurus Nahdlatul Ulama (NU) setempat untuk menjaga sikap selama ini dijaga, yakni anti kekerasan dan senantiasa menghargai kemajemukan.

Bupati Way Kanan: NU Harus Konsisten Jaga Kemajemukan (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Way Kanan: NU Harus Konsisten Jaga Kemajemukan (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Way Kanan: NU Harus Konsisten Jaga Kemajemukan

“Yang tidak kalah penting, NU juga harus selalu bersemangat untuk mendukung kebijakan pemerintah yang pro rakyat, tetapi dengan tetap memiliki daya kritis untuk meluruskan kebijakan dirasakan tidak memberi manfaat bagi rakyat,” ujarnya di ? Blambangan Umpu, Selasa (31/1).

NU adalah organisasi yang besar, bahkan yang terbesar di Indonesia, termasuk organisasi kuat, yang tidak tergoyahkan oleh perubahan dan perkembangan, baik perubahan politik atau pun perkembangan ilmu pengetahuan.

Berdasarkan survei dilakukan Alvara Research Center, di Kantor PBNU, Jakarta Pusat, Senin (30/1/2017), terhadap 1.626 responden di empat provinsi di Indonesia, pada November 2016, NU merupakan organisasi paling diingat masyarakat, dengan persentase mencapai 69,3 persen. Persepsi responden terhadap NU adalah ormas Islam terbesar di Indonesia dan ormas Islam yang menjunjung tinggi toleransi antarumat beragama.

"Sebagai golongan Ahlussunnah Wal Jama’ah dan penerusnya, kita harus membangkitkan kembali Ukhuwah Islamiyah dan semangat penerus-penerus NU untuk masa ke masa menghentikan kekerasan di bumi Allah dan menghentikan firqoh-firqoh sayyiah yang telah menyeleweng dengan ajaran Islam, sebagaimana prinsip-prinsip NU, memelihara nilai yang lama yang baik dan benar, dan mengambil nilai baru yang lebih baik," ujar Mustasyar NU Way Kanan itu pula.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Memperingati Hari Lahir (Harlah) NU ke 91, Pengurus Cabang NU Way Kanan dilantik bersama PC Muslimat Way Kanan oleh Ketua PW NU Lampung KH Soleh Bajuri pada Senin (30/1) di lapangan Pemerintah Kabupaten Way Kanan. Hadir dalam pelantikan dihadiri sekitar 5.000 jamaah antara lain Ketua PBNU KH Abdul Manan Ghani, Dandim 0427 Letkol Inf Uchi Chambayong, Sekretaris Daerah Kabupaten (Sekdakab) Bustam Hadori beserta jajaran Kepala Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD), serta pengurus badan otonom NU setempat. (Gatot Arifianto/Abdullah Alawi)?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Kajian Ustadz Felix Siauw Terbaru

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Kamis, 09 Desember 2010

Tim Kirab Resolusi Jihad Terima Ijazah Shalawat Kholiliyah

Mojokerto, Ustadz Felix Siauw Terbaru

Salah satu kegiatan yang dilakukan Tim Kirab Resolusi Jihad NU adalah kunjungan ke para sesepuh NU dan ziarah ke makam pejuang NU. Seperti pada Jumat (14/10) kemarin. Tim yang dipimpin oleh Wasekjen PBNU Ishfah Abidal Aziz menyempatkan berkunjung ke Sidogiri dan Makan Syaikhuna Kholil Bangkalan.

Tim Kirab Resolusi Jihad Terima Ijazah Shalawat Kholiliyah (Sumber Gambar : Nu Online)
Tim Kirab Resolusi Jihad Terima Ijazah Shalawat Kholiliyah (Sumber Gambar : Nu Online)

Tim Kirab Resolusi Jihad Terima Ijazah Shalawat Kholiliyah

Kedatangan Tim menjelang tengah malam di Pesantren dan Makam Syaikhuna Kholil Bangkalan, disambut keluarga besar pondok pesantren, para santri, pejabat Kemenag, dan Pemkab serta DPRD Bangkalan.

Setelah melakukan ziarah, Tim berkesempatan mendengarkan taushiyah dan arahan dari ulama setempat di antaranya dari KH Muhammad Faisal Anwar. Lebih istimewa, Kiai Faisal Anwar berkenan memberikan ijazah kepada Tim Kirab Resolusi Jihad NU. Ijazah yang diberikan adalah shalawat Kholiliyah, yang merupakan shalawat khas di Pesantren Kholil Bangkalan.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

"Semoga dengan ijazah ini Panjenengan semua akan mendapat barokah dari Kiai Kholil," harapnya.

Ditemui Ustadz Felix Siauw Terbaru selesai acara, Kiai Anwar berpesan agar para santri dan generasi muda berbuat manfaat. Selain itu, katanya, juga tidak boleh mudah terombang-ambing pada sesuatu yang belum tentu jelas kebenarannya. (Kendi Setiawan/Mahbib)

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Meme Islam Ustadz Felix Siauw Terbaru

Kamis, 21 Oktober 2010

100 Tahun, NU Tetap Bermanfaat untuk Bangsa

Semarang, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Ketua Umum PBNU KH. Said Agil Siraj mengatakan pada 100 tahun nanti eksistensi Nahdlatul Ulama akan tetap bermanfaat bagi bangsa manakala mampu mensinergikan ukhuwah wathaniyah (tanah air) dan Islamiyah

100 Tahun, NU Tetap Bermanfaat untuk Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)
100 Tahun, NU Tetap Bermanfaat untuk Bangsa (Sumber Gambar : Nu Online)

100 Tahun, NU Tetap Bermanfaat untuk Bangsa

“Artinya, kita  menjalankan ibadan juga harus  membela tanah air. Begitu juga, membela tanah air juga untuk melaksanakan ibadah,” katanya dalam  acara pembukaan Silaturrahim Nasional (Silatnas) Majelis Alumni IPNU di Hotel Semesta Semarang, Jum’at (22/3) kemarin.

Kang Said mengajak menyelamatkan dan mempertahankan tanah air, caranya, dengan mempersiapkan kekuatan jihad ilmu pengetahuan, kesejahteraan ekonomi dan keadilan. 

Ustadz Felix Siauw Terbaru

“Menyelamatkan tanah air bukan dengan bom melainkan dengan mempersiapkan kekuatan ilmu pengetahuan, budaya, intelektual dan keadilan. Karena Semua itu merupakan bentuk jihad,” ujarnya.

Kang Said memiliki ide mendahulukan membela tanah air (wathaniyah) dibanding islamiyah.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

“Karena  kita memperjuangkan Islam di tanah air, jadi kuatkan dulu tanah airnya baru Islamnya,” tandas Kang Said.

Di depan ratusan alumni IPNU seluruh Indonesia, Kang Said juga menyoroti tantangan globalisasi. Menurutnya, era globalisasi telah menunjukkan indikasi menjadi era yang  harus terbuka, berdasarkan fakta, kemajuan teknologi informasi dan pasar bebas.

“Meski begitu, indikasi tersebut sangat cocok dengan NU kepentingan berdakwah dan melaksanakan pendidikan. kita jangan minder  karena kita sudah memiliki pendirian,” imbuhnya.

Memasuki era yang harus terbuka ini, ujar Kang Said, menuntut adanya keterbukan maupun transparan dalam pengelolaan segala hal termasuk organisasi. NU sudah mampu mengelola organisasi secara terbuka dan transparan.

Terkait kemajuan teknologi informasi, menurutnya, mampu menambah kekuatan untuk bersilaturrahim antar sesama dan kesempatan berdakwah sangat efektif membimbing masyarakat.

“Namun sekarang ini kecanggihan TI telah menjadi masdarul fitnah (sumber fitnah). Orang menggunakannya untuk menteror ataupun memfitnah.Padahal seharusnya tidak demikian,” sindir kang Said.

Indikasi era globalisasi ini, kata dia, telah menciptakan ketidakberdayaan pemerintah dalam mengendalikan harga. Harga kebutuhan seperti bawang telah ditentukan oleh pasar bebas, sedangkan pemerintah hanya bisa menyesuaikan.

“Oleh karenanya,warga NU tidak perlu kuatir. NU terus menggalakkan pendampingan dan bimbingan kepada petani supaya produksi semakin meningkat,” tandas KH Said.

Kegiatan Silatnas ini akan berakhir pada hari Ahad (23/3) ini mengagendakan pembahasan isu-isu strategis. Tidak kurang dari 250 alumni IPNU dari berbagai wilayah di Indonesia mengikuti secara seksama.

Redaktur     : Mukafi Niam

Kontributor : Qomarul Adib

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Ahlussunnah Ustadz Felix Siauw Terbaru

Selasa, 19 Oktober 2010

Para Teroris Itu Bukan Syuhada

Jember, Ustadz Felix Siauw Terbaru,? ?

Para teroris itu bukan syuhada. Pernyataan ini disampaikan Katib Syuriyah PCNU Jember, Kiai MN Harisudin dalam pengajian kitab Irsyadul Ibad di Masjid Agung Al-Baitul Amien Jember pada Ahad, 16 April.?

Hadir tidak kurang 200 jama’ah muslimin dan muslimat se Kabupaten Jember. Pernyataan Kiai Harisudin yang juga dosen pascasarjana IAIN Jember ini berbeda secara frontal dengan umat Islam garis keras yang memandang bahwa para teroris itu mati syahid.?

Qala Rasulullah Saw.: Umirtu an uqatilan nas hatta yashadu an la ilaha illah wa anni rasulullah. Faiddza qaluha ashamu minni dima’ahum wa amwalahum illa bihaqqiha. Wa hisabuhum alat taqwa.? Hadits ini merupakan perintah untuk memerangi manusia sampai mereka bersyahadat bahwa Allah Swt. adalah Tuhan mereka dan Muhammad Saw. adalah utusan Allah Swt,” tutur Kiai MN Harisudin yang juga Pengasuh Ponpes Darul Hikam Mangli Kaliwates Jember mengawali pengajian Subuh di setiap Hari Ahad.

Para Teroris Itu Bukan Syuhada (Sumber Gambar : Nu Online)
Para Teroris Itu Bukan Syuhada (Sumber Gambar : Nu Online)

Para Teroris Itu Bukan Syuhada

Namun, Kiai MN Harisudin juga mewanti-wanti agar tidak memahami secara leterlek. Karena pemahaman leterlek hadits hanya akan memunculkan sikap radikal dalam beragama. Misalnya karena ingin menerapkan hadist ini, maka setiap orang yang ditemui di jalan-jalan kemudian ditanya apakah sudah bersyahadat pada Allah dan Rasul-Nya. Kalau tidak bersyahadat, maka orang ini akan dipenggal lehernya. Demikian ini, kata Kiai MN Harsiudin, adalah pemahaman yang keliru dalam memaknai jihad.?

Lebih lanjut, Kiai MN Harisudin mengoreksi pendapat-pendapat yang mengatakan para teroris itu seorang yang berjihad dan kalau mati disebut syahid.?

Ustadz Felix Siauw Terbaru

“Haditsnya dalam kitab Irsyadul Ibad ini kan bunyinya, man qaatala litakuna kalimatullahi hiyal ulya fahuwa fi sabilillahi. Artinya ukuran jihad fi sabilillah adalah tujuan menegakkan kalimat Allah Swt. agar tinggi dan mulia. Kalau para teroris, justru membuat agama seperti direndahkan dan tidak mulia. Bagaimana dikatakan mulia agama, karena menyuruh membunuh orang-orang yang tidak berdosa. Makanya mereka tidak bisa disebut syahid,” tukas Kiai MN Harisudin yang juga Pengurus Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Jember.?

Oleh karena itu, contoh orang yang disebut syahid, menurut Kiai MN Harisudin adalah para syuhada yang gugur melawan penjajah Portugis, Belanda dan Jepang di Indonesia.?

“Kalau di masa sekarang, mereka yang syahid adalah para pejuang yang melawan orang-orang Yahudi di Palestina. Jadi merekalah yang disebut syahid, kalau meninggal tidak perlu dimandikan, tidak dikafani dan tidak dishalati karena bajunya yang berlumuran darah karena perang menjadi saksi di akhirat kelak,” tukas Kiai MN Harisudin yang juga Wakil Ketua Lembaga Ta’lif wan-Nasyr NU Jawa Timur tersebut. (Anwari/Mukafi Niam) ? ? ?

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Bahtsul Masail, Olahraga, Lomba Ustadz Felix Siauw Terbaru

Sabtu, 11 September 2010

Aliran Kufah

Syafiq Hasyim

Setelah kita sedikit menjelajah Aliran Basrah yang berakhir pada kodifikasi Imam Sibawayhi dengan Al-Kitabnya, maka saat saatnya sekarang beralih pada ulasan mengenai aliran Kufah. Tokoh dari aliran ini juga banyak, namun beberapa tokoh mainstream yang disebutkan di sini.

Aliran Kufah (Sumber Gambar : Nu Online)
Aliran Kufah (Sumber Gambar : Nu Online)

Aliran Kufah

Tokoh-tokoh itu adalah Abu Ja’far Ar-Rawa’isi, Abu Muslim Mu?ad Al-Harra’, keduanya adalah tonggak, sementara pengikutnya adalah ‘Ali b. Hamza al-Kisa’i dan berakhir kesempurnaan aliran ini di tangan Abu Zakariya Ya?ya b. Ziyad al-Farra’.Tokoh terakhir ini sebanding dengan Imam Sibawayhi pada aliran Basrah.

Mengapa kedua aliran ini sangat begitu penting di dalam perkembangan ilmu tata bahasa Arab, salah satu jawabnya adalah karena sejarah keseluruhan diskursus, perdebatan, dan teori-teori tentang Nahwu berikutnya berasal dari perbedaan yang terjadi pada kedua aliran tersebut (Abduh ar-Raji?i, Durus fil-Madhahib an-Na?wiyya, h. 109).

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Secara historis, aliran Kufah pada mulanya adalah mengamalkan teori-teori yang sudah dibangun oleh aliran Basrah karena kemunculannya yang datang kemudian setelah aliran Basrah. Namun lambat lain, aliran Kufah menemukan cara mereka sendiri –manhaj—yang berbeda dengan aliran Basrah.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Dalam sejarah Islam, Kufah sendiri merupakan salah satu tempat imigrasi (hijrah) kalangan sahabat Rasulullah. Ilmu-ilmu keislaman muncul di sini, namun yang terbesar adalah ilmu qira’ah (bacaan). Ada tiga aliran qira’ah, dari tujuh aliran (qira’ah sab?ah) yang mainstream, muncul dari kawasan ini: bacaan Imam ?A?im, bacaan Imam ?amzah dan Al-Kisa’i.

Perlu diketahui di sini bahwa ilmu qira’ah adalah ilmu tentang membaca Al-Qur’an yang didasarkan pada riwayat –sejarah pembacaan yang diterima dari Nabi–, talaqqi (pertemuan langsung, dalam tradisi pesantren Jawa disebut sorogan) baik dengan Rasul, Sahabat maupun guru-guru. Karenanya dalam tradisi bacaan yang tujuh ini seseorang tidak bisa ditolerir jika melantunkan pembacaan menurut model salah satu bacaan yang tujuh jika tanpa disertai proses pertemuan langsung dengan guru tersebut dan mendapatkan ijazah (izin) untuk melantunkannya.

Pasti kita ingat qari’ terkenal kita, Haji Mu’ammar ZA dan Khumaidi yang melantunkan beberapa ayat Al-Qur’an dengan contoh-contoh imalah yang indah. Kedua pembaca Al-Qur’an berani melantunkannya karena keduanya sudah mendapatkan ijazah. Konsep ini didasarkan pada argumen bahwa karena ilmu qira’ah ini adalah ilmu cara membaca Al-Qur’an yang didasarkan pada cara baca yang nyata (kongkrit), artinya bersumber pada Rasulullah.

Qira’ah bukan berdasar pada man?iq (logika), ijtihad (penggalian), dan ta’wil (penafsiran), namun berdasar pada riwayat dan talaqqi. Ini merupakan metode paling valid dalam proses transmisi tekstual (naqliyyah) kebahasaan.

Lalu dimana hubungannnya dengan aliran Kufah ini?

Ternyata, tradisi qira’ah Kufah lebih banyak terbentuk dari proses aqliyah kebahasaan yang banyak didasarkan pada pertimbangan argumen-argumen Nahwiyyah (Abduh Ar-Raajihi, Duruus, h. 90). Atas fenomena di atas, para peneliti dan sejarahwan ilmu Nahwu menyatakan bahwa aliran Kufah memperluas fungsi dan makna riwayat dalam tradisi ilmu Qira’ah dengan cara mengambil satu contoh sebuah bacaan tertentu untuk diteoretisasikan pada kasus-kasus yang lain atau menjadikannya kaidah umum.

Hal ini berbeda dengan karakter aliran Basrah yang justru banyak membangun contoh-contoh sementara kaidah yang dibangun hanya satu. Mungkin secara simplistik bisa saya katakan: aliran Kufah melahirkan banyak teori nahwu dari satu contoh saja –generalisasi–, sementra aliran Basrah membangun satu teori nahwu dari banyak contoh (ibid.).

Contoh perbedaan keduanya lagi misalnya, aliran Basrah dari sejarah kemunculan sampai perkembangannya pada masa kini, arenanya lebih banyak terfokus pada Nahw Al-?Arabi (kasus Arab), bahkan terlihat kecenderungan adanya ta’assub kearaban dari sebagian pengkaji Nahwu aliran Basrah.

Sementara apa yang dilakukan oleh aliran Kufah adalah realisme bahasa Arab (waq?i al-lugha) itu sendiri. Aliran Kufah mengkaji bahasa Arab dari materi-materi kebahasaan yang prinsip-prinsip empiris artinya melalui jalan pengamatan atas model yang berulang-ulang (taqririyyah). Hal ini berbeda dengan aliran Basrah yang cenderung lebih berdasar pada model filosofis.

Contoh dari hal ini misalnya adalah sebuah kejadian dimana suatu saat Al-Kisaa’i ditanya di forumnya Yunus –tokoh aliran Basrah mengapa aliran Kufah membaca “la a?ribanna ayyihim”, mengapa tidak “la a?ribanna ayyahim.” (lihat kalimat yang saya tebalkan). Al-Kisaa’i menjawab: “ayyun hakadha khuliqat” (demikianlah kata ayyun diciptakan). (Lihat kisah ini pada Jalaluddin Abdura?man As-Suyu?i dalam Al-Mazhar fi Ulum al-Lugha wa Anwa’iha, vol. 2, h. 373).

Menurut Abduh Ar-Raji?i, “hakadha khuliqat” merupakan contoh bagaimana inti dari pandangan empirisisme bahasa aliran Basrah. Artinya, Al-Kisaa’i di sini tidak menjelaskan alasan-alasan filosofis mengapa ayyihim tidak dibaca na?ab bi al-fat?, akan tetapi malah dibaca bi al-kasra (jer). Satu contoh perbedaan lagi adalah tentang kemungkinan adanya jumlah yang menjadi fa?iljumlah terdiri dari dua: fi?liyya artinya susunan kalimat yang terdiri dari fi?il dan fa?il dan ismiyyah susunan kalimat yang terdiri dari mubtada’ dan khabar—dimana aliran Basrah menolaknya dengan tegas dengan rasionalisasi filosofis kearaban mereka.

Sebagai contoh tentang kontoversi di sini adalah “tsumma bada lahum min ba’di ma ra’awul ayat layasjununnahu”, letak perbedaan kedua aliran ini adalah pada jawaban atas pertanyaan “dimana letak fa?il (pelaku) kata bada? Aliran Basrah menjawab bahwa fa?il kata kerja lampau ini adalah kata ganti tertutupi (mustatir) yang diperkirakan berupa (huwa: dia).

Pertanyaan berikutnya: kemana kata ganti mustatir ini kembali? Aliran Basrah menyatakan bahwa kata ganti mustatir ini kembali kepada masdar (kata dasar) yang disimpulkan dari kata kerja badaa’. Kira-kira rasionalisasi ketatabahasannya adalah “tsumma bada lahum bada’un huwa….” Lalu mereka mendudukan “layasjununnahu” sebagai jumlah tafsiriyya (penjelas) atas kata ganti mustatir yang kembali pada kata dasar al-bida’.

Dipandang dari perspektif aliran Kufah, cara pembacaan aliran Basrah lebih sebagai model imaginasi bahasa (khayyal) karena secara realitas al-bidal di sini adalah tidak nyata, sesuatu yang dibayangkan yang di dalam ilmu Nahwu sering diungkapkan dengan istilah taqddiruhu/ha. Di pesantren kita seringkali mendengar istilah ini, namun sayangnya para guru tidak pernah menjelaskan mengapa istilah ini seringkali muncul dan atas dasar apa. Semoga penjelasan kecil ini bermakna bagi saudara-saudara santri dan kiai-kiai di pondok.

Lalu bagaimana cara aliran Kufah mendudukan “tsumma bada lahum min ba’di ma ra’wu al-ayat layasjununnahu”?

Dengan sangat ringkas dan jelas aliran Kufah menyatakan bahwa “layasjununnahu” –ini jumlah fi?liyya–adalah fa?il dari kata bada. Pandangan aliran Kufah ini jelas bahwa bagi mereka pemberlakuan jumlah sebagai fa’il yang ditolak oleh madzhab Basrah adalah fenomena yang benar dan biasa dalam bahasa Arab.

Satu contoh lagi, Kalangan Kufah menyatakan bahwa maf?ul itu menjadi na?ab karena adanya fi?il dan fa?il sebelumnya, maka aliran Basrah cukup dengan fi?il, kedudukan nasab pada maf’ul bisa terjadi. Contohnya: zaydan akramtuhu. Nasab pada kata zaydan menurut aliran Basrah karena ada fi?il yang ditakdirkan sebelum zaydun, maka menurut kubu Kufah, nasab pada zaydun justru karena ada fi?il dan fa?il yang jelas meskipun jatuh setelah zaydan.

Meskipun perbedaan kedua madzhab ilmu Nahwu ini sering dicitrakan berbeda oleh kalangan peneliti ilmu ini, namun ternyata banyak juga kesamaan dari kedua kubu ini. Misalnya, pandangan bahwa ?arf (keterangan tempat atau waktu) dan jer majrur bisa merafa’kan isim di belakang keduanya ketika kedudukan kalimahny menjadi mubtada’, ternyata pandangan ini juga disepakati oleh Al-Mubarrad, tokoh aliran Kufah. Sudah barang tentu, titik temu mereka masih banyak lagi, namun saya tidak akan menjelaskan satu per satu mengingat diskusi ini memang sangat luas dan panjang sekali.

Bahasan serial ilmu nahwu ini merupakan bagian ketujuh. Silakan diikuti pembahasan selanjutnya yang dikupas Rais Syuriyah Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jerman, Syafiq Hasyim. Belum lama ini ia meraih gelar Dr. Phil dari BGSMCS, FU, Berlin, Jerman.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Hadits, Lomba Ustadz Felix Siauw Terbaru

Minggu, 02 Mei 2010

Peringatan Hari Santri di Kotawaringin Barat Kalteng

Kotawaringin Barat, Ustadz Felix Siauw Terbaru?

Upacara Peringatan ? Hari Santri yang dilaksanakan di lapangan Termili Kotawaringin Barat (Kobar) Kalimantan Tengah berjalan dengan tertib. Mereka berbusana muslim dan muslimah layaknya menghadiri pengajian. Bupati yang hadir pada kesempatan itu pun mengikuti gaya para santri, yakni memakai sarung, baju koko dan kopiah.

Peringatan Hari Santri di Kotawaringin Barat Kalteng (Sumber Gambar : Nu Online)
Peringatan Hari Santri di Kotawaringin Barat Kalteng (Sumber Gambar : Nu Online)

Peringatan Hari Santri di Kotawaringin Barat Kalteng

"Kami selalu mendidik anak-anak santri dengan disiplin dan kasih sayang. Seperti hari ini, saat upacara pun mereka tampak khidmat sekali," ungkap Ketua Panitia Hari Santri KH M Sulaiman Nur, Sabtu (22/10).?

Dalam pidatonya, Bupati Kotawaringin Barat Bambang Purwanto menyampaikan, hendaknya santri mampu menjadi generasi penerus bangsa yang mumpuni. Santri juga harus bisa menjaga keutuhan NKRI.?

"Banyaknya kabar miring dari berbagai media sosial mulai isu radikal, agama, ras yang mengatasnamakan agama. Hendaknya semua itu dicegah agar tidak mengancam keamanan NKRI," tegasnya.?

Indonesia, tambahnya, adalah negara yang majemuk yang berlandaskan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 45, maka sudah selayaknya kita bisa hidup rukun dalam kedamaian.?

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Pada puncak acara, dalam doanya Ketua MUI Kotawaringain Barat KH.M.Habib memohon kepada Allah SWT agar bangsa Indonesia selalu diberikan kedamaian serta dijauhkan dari segala mara bahaya.?

"Ya Allah ya rahman ya rohim, kami adalah hamba yang paling hina, banyak kesalahan yang kami perbuat. Meski demikian, kami bersimpuh keridloanmu ya Robb, agar bangsa dan negara ini engkau jauhkan dari musibah dan berbagai macam bencana," ungkapnya. (Suhud Masud/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Ustadz Felix Siauw Terbaru IMNU Ustadz Felix Siauw Terbaru

Minggu, 21 Maret 2010

Brebes Siap Gelar STQ XXIII Se-Jateng

Brebes, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Setelah sukses menjadi tuan rumah Manaqib Kubro Jami’iyyah Ahlith Thariqah Al-Mu’tabarah An-Nahdliyah (Jatman) se-Jawa Tengah akhir Mei lalu, Kabupaten Brebes kembali dipercaya menggelar perhelatan tingkat provinsi berupa Seleksi Tilawatil Quran (STQ).

Pelaksanaan STQ tingkat Provinsi Jawa Tengah ini akan berlangsung pada 16-19 September 2014. Demikian ditegaskan Ketua Umum STQ XXIII Tingkat Jawa Tengah 2014 Narjo saat rapat persiapan panitia di ruang rapat Bupati Brebes, Rabu (25/6/14).

Brebes Siap Gelar STQ XXIII Se-Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)
Brebes Siap Gelar STQ XXIII Se-Jateng (Sumber Gambar : Nu Online)

Brebes Siap Gelar STQ XXIII Se-Jateng

Narjo menyatakan, kebanggaanya atas kepercayaan Gubernur Jateng kepada Pemkab Brebes sebagai tuan rumah penyelenggaraan event di tingkat Provinsi. “Sebagai tuan rumah, Brebes berupaya keras demi suksesnya penyelenggaraan dan sukses prestasi,” kata Narjo yang juga Wakil Bupati Brebes.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Seperti penyelenggaraan Jatman, lanjutnya, meskipun tidak mendapat kucuran dana Pemkab Brebes tetapi pada kenyataanya bisa terselenggara dengan sukses. Dan menurut Ketua Jatman Jawa Tengah, Kabupaten Brebes telah sukses menggelar Manaqib Kubro dengan sukses dan terbaik.

STQ Tingkat Jateng bakal diikuti 35 Kafilah (kontingen) Kabupaten/Kota Se Jateng. Tiap kafilah akan mengirimkan 16 peserta, 3 pelatih, 1 Ketua Kafilah dan 2 pendamping. “Perhelatan ini, minimal akan dimeriahkan oleh 1.500 orang, belum orang tua dan tamu lain-lainnya,” kata Narjo.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Adapun cabang dan golongan yang akan dimusabaqohkan pertama Cabang Tilawah golongan anak-anak putra dan putri usia maksimal 13 tahun, golongan dewasa putra putri (pa pi) usia maksimal 40 tahun. Kedua Cabang Tahfidz golongan 1 juz dan tilawah pa pi usia maksimal 14 th, gol 5 juz dan tilawah pa pi usia maksimal 16 tahun, gol 10 juz pa pi usia maksimal 18 tahun, gol 20 juz pa pi usia maksimal 20 tahun dan gol 30 juz pa pi usia maks 23 tahun. Sedangkan yang ketiga cabang Tafsir Al quran untuk golongan Bahasa Arab Putra dan putri usia maksimal 23 tahun.

Untuk tempat STQ akan ditempatkan diberbagai titik antara lain di MTs N Model Brebes, Pendopo Bupati, Kantor Kemenag, Islamic Center dan Masjid Agung Brebes. “Kami juga telah melakukan studi banding ke Kab Karanganyar beberapa waktu lalu,” tandasnya.

Terpisah, Ketua Lembaga Pengembangan Tilawatil Quran (LPTQ) Kabupaten Brebes H Imam Hidayat menjelaskan, untuk kafilah (kontingen) Brebes telah siap. Terbukti telah dilakukan pembinaan secara bertahap dengan mendatangkan pelatih dari luar daerah yang berkelas Nasional. Yang mewakili Kafilah Brebes hanya 16 orang.

“Mereka akan berebut piala pada cabang Tilawah, Tahfidz dan Tafsir,” terangnya. “Sebagai tuan rumah, kami akan mendukung penuh agar Kabupaten Brebes dapat sukses penyelenggaraan, sukses, prestasi dan sukses administrasi,” tambah Imam. (Wasdiun/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Kajian Islam, Khutbah Ustadz Felix Siauw Terbaru

Sabtu, 27 Februari 2010

KH Mahrus Ali: Isra Mi’raj sebagai Ujian Keyakinan bagi Manusia

Pati, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Peristiwa Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW merupakan kejadian luar biasa yang tak mudah dinalar manusia. Saking luar biasanya, Isra Mi’raj disebut dalam kitab suci Al-Quran sebagai fitnah (ujian) keyakinan bagi semua manusia, khususnya kaum muslimin.

Hal tersebut disampaikan KH Mahrus Ali saat didaulat mengisi pengajian dalam rangka Isra Mi’raj dan Haflah Santunan Yatim Piatu yang dihelat di halaman Masjid Jami’ Darussalam Grogolan-Dukuhseti-Pati, Selasa (26/5) malam.

KH Mahrus Ali: Isra Mi’raj sebagai Ujian Keyakinan bagi Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)
KH Mahrus Ali: Isra Mi’raj sebagai Ujian Keyakinan bagi Manusia (Sumber Gambar : Nu Online)

KH Mahrus Ali: Isra Mi’raj sebagai Ujian Keyakinan bagi Manusia

Kiai Mahrus menukil pendapat Syeikh Jalaluddin Abdurrahman al-Suyuthi dalam kitab Lubab al-Nuqul fi Bayani Asbab al-Nuzul. Dalam kitab tersebut membahas Firman Allah dalam surat Al-Isra’. Oleh Allah, Isra Mi’raj dibahasakan fitnah (ujian) yang besar bagi semua manusia. Sebab, gegara peristiwa ini, banyak yang semula iman dan Islam mendadak murtad seketika. Pasalnya, akal mereka tidak bisa menerima peristiwa tersebut.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

“Waktu itu, orang Mekkah jika bepergian dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha naik unta saja paling cepat sebulan baru sampai. Pulangnya juga sebulan. Jadi, pergi-pulang bisa mencapai dua bulan. Nabi bisa hanya semalam. Bahkan, ditambahi naik ke langit shaf tujuh hingga sidratul muntaha. Padahal, tempat tersebut tidak dekat,” ujar Kiai Mahrus.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Oleh para ahli era masa kini, lanjutnya, diperkirakan jarak sidratul muntaha dari bumi kurang lebih 150 juta tahun perjalanan cahaya. Jadi, bukan 150 juta kilometer.

“Artinya, seumpama ada yang membuat lampu sorot yang paling besar lalu diisi baterai dari 45 pabrik. Kemudian dibawa ke sawah, lalu diarahkan ke langit, kalau memang sinarnya sampai sidrotul muntaha, harus sabar nunggu 150 juta tahun. Coba bayangkan, betapa sangat jauhnya,” ujar Kiai Mahrus.

Oleh karena itu, tambah Kiai Mahrus, Isra Mi’raj dibahasakan sebagai fitnah bagi semua manusia. Menurut dia, jika ada orang bertanya apakah Isra’ Mi’raj itu masuk akal atau tidak, jawabannya mudah. Tergantung akal siapa yang jadi ukuran.

“Akal siapa dulu? Jika akalnya orang yang tak beriman, pasti tidak akan masuk. Tapi kalau akalnya orang beriman harus bisa masuk sebab orang yang beriman harus percaya Isra’ Mi’raj. Kalau tidak percaya malah bisa kafir,” tegasnya.

Kemudian, bagaimana caranya Isra’ Mi’raj bisa masuk akal. Peristiwa ini musti dipahami sebagai kuasa Allah. “Innallaaha qadirun ‘alaa jami’i al-mumkinaat. Allah mampu menciptakan manusia dari tanah. Buktinya, Nabi Adam. 

Jadi, Allah jika berkehendak cukup mengatakan ‘kun fayakun’. Jadilah, maka jadi apa yang diinginkan,” ungkap Ketua LDNU Jepara sekaligus Pengasuh Pesantren Mathaliul Huda Pelang Lor-Mayong ini.

Kedua, pendapat Syeikh Muhammad Ihsan Dahlan, pengarang kitab Siraj al-Thalibin, syarah kitab Minhajul Abidin karya Imam al-Ghazali. Syeikh Ihsan ini merupakan kiai Jawa yang bisa go internasional. Pasalnya, kitab dua jilid tersebut jadi standar mata kuliah Ilmu Tasawuf di Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir.

Komentar Syeikh Ihsan, kata Kiai Mahrus, banyak wahyu dari Allah yang diterima Nabi cukup di bumi. Khusus wahyu sholat lima waktu, diterima harus melewati peristiwa fenomenal, Isra’ Mi’raj, tempatnya istimewa naik langit tujuh sampai sidratul muntaha tembus hingga mustawa. (Musthofa Asrori/Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Pondok Pesantren Ustadz Felix Siauw Terbaru

Rabu, 24 Februari 2010

Sambut Hari Santri, IAIN Jember Wajibkan Civitas Akademika Pakai Busana Santri

Jember, Ustadz Felix Siauw Terbaru - Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Jember dalam rangka menyambut hari santri nasional mewajibkan segenap warga civitas akademika mulai dari dosen, pegawai, satpam hingga mahasiswa memakai busana ala santri.

Mahasiswa diharuskan memakai sarung, baju takwa atau batik, berkopiah dan bersandal atau sepatu sandal. Sementara mahasiswi dan dosen wanita tetap menggunakan jilbab dan sandal. Dosen atau mahasiswa yang tidak berbusana ala santri dilarang masuk kecuali tamu orang luar IAIN Jember.

Sambut Hari Santri, IAIN Jember Wajibkan Civitas Akademika Pakai Busana Santri (Sumber Gambar : Nu Online)
Sambut Hari Santri, IAIN Jember Wajibkan Civitas Akademika Pakai Busana Santri (Sumber Gambar : Nu Online)

Sambut Hari Santri, IAIN Jember Wajibkan Civitas Akademika Pakai Busana Santri

Kewajiban menggunakan busana ala santri itu berlaku sejak 17 Oktober hingga tiga hari ke depan.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Dalam pantauan Ustadz Felix Siauw Terbaru, IAIN Jember benar-benar berubah. Sejak masuk pintu gerbang kampus, suasana ala pesantren sudah terasa. Begitu juga di dalam ruang perkuliahan, juga tak ubahnya seperti di madrasah atau pondok. Bahkan, tak jarang di antara mereka saling menggoda dan bercanda soal busana santrinya.

"Hari santri memang kami sambut sedemikian rupa agar syiarnya lebih menggema dan maknanya lebih terasa. Acara lain juga masih banyak terkait hari santri," ujar Rektor IAIN Jember Babun Suharto kepada Ustadz Felix Siauw Terbaru.

Menurutnya, selain terkait hari santri instruksi berbusana ala santri tersebut juga sejalan dengan visi IAIN Jember, yaitu sebagai pusat kajian Islam Nusantara berbasis pesantren.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Sambutan positif datang dari dosen IAIN Jember Halim Subahar. Pria yang juga Ketua MUI Jember ini menilai apa yang diterapkan kampusnya dalam menyambut hari santri layak diapresiasi. Ia berharap pakaian ala santri bisa diterapkan secara rutin di IAIN Jember, misalnya setiap hari Jumat.

"Saya akan senang kalau mahasiswa dan dosen diminta terus berbusana santri. Pakai sarung ini sangat rileks. Justru kalau pakai celana panjang malah terkekang," canda Halim. (Aryudi A Razaq/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Pesantren Ustadz Felix Siauw Terbaru

Minggu, 31 Januari 2010

Bupati Hadiri Pelantikan PMII Blora

Grobogan, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Pengurus Cabang Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PC PMII) Kabupaten Blora telah dilantik di Resto Joglo Blora pada Ahad (29/12). Dalam pelantikan kali ini, PMII Blora mengambil tema “ Menyongsong Blora demokratis Untuk Kesejahteraan rakyat”.

Bupati Hadiri Pelantikan PMII Blora (Sumber Gambar : Nu Online)
Bupati Hadiri Pelantikan PMII Blora (Sumber Gambar : Nu Online)

Bupati Hadiri Pelantikan PMII Blora

Ismu Ngatono dipercaya untuk memimpin dan mengemban amanah sebagai Ketua PC PMII Kabupaten Blora untuk masa khidmah 2013-2014 dengan menggantikan seniornya, Misbahul Hamdan.

Semua pengurus PC PMII Kabupaten Blora dikukuhkan dan dilantik oleh Ketua Pengurus Besar PMII Bambang.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Selain Bambang, tampak hadir pula Bupati Blora, Joko Nugroho yang menyempatkan diri untuk hadir menyampaikan sambutan dalam forum pelantikan PC PMII Blora.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Rasyid sebagai salah satu anggota PMII mengatakan, dengan adanya pengambilan tema tersebut kita harapkan PMII Blora mampu membuat meanstrem pada masyarakat untuk tidak terjebak pada politik praktis.

Seusai pelantikan dilanjutkan Sarasehan oleh PB PMII. Salah satu diantara pembahasan yang diangkat adalah mengenai kader PMII dalam upaya mengawal demokrasi (asnawi lathif/mukafi niam) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Pesantren, Kiai Ustadz Felix Siauw Terbaru

Jumat, 15 Januari 2010

Debat KH Wahab Chasbullah soal Perjanjian Renville

Dalam sejarah pergerakan nasional, sejumlah perjanjian dengan pihak kolonial telah ditempuh oleh Indonesia untuk mewujudkan kedaulatan bangsa dan negara. Namun dalam praktiknya, sejumlah perjanjian tersebut lebih banyak menguntungkan pihak kolonial Belanda.

Seperti Perjanjian Renville yang ditandatangani pada 17 Januari 1948 antara Indonesia dan pihak Belanda di atas Kapal Renville Amerika Serikat. Salah satu isinya ialah, pembentukan dengan segera Republik Indonesia Serikat atau RIS.

Debat KH Wahab Chasbullah soal Perjanjian Renville (Sumber Gambar : Nu Online)
Debat KH Wahab Chasbullah soal Perjanjian Renville (Sumber Gambar : Nu Online)

Debat KH Wahab Chasbullah soal Perjanjian Renville

Poin-poin dalam Perjanjian Renville dinilai lebih buruk ketimbang Perjanjian Linggarjati yang dilakukan sebelumnya, 11 November 1946 di Jawa Barat. Hasil perundingan Renville ditentang oleh sebagian besar rakyat Indonesia yang tergabung dalam “Benteng Republik Indonesia”, terutama oleh golongan Islam. (Saifuddin Zuhri, 1979: 452)

Singkatnya, hasil perundingan Renville ini menjadi sebab jatuhnya Kabinet Amir Syarifuddin. Kabinet ini hanya berumur 6 bulan dan digantikan oleh Kabinet Hatta (Presidentil) yang dilantik oleh Presiden Soekarno pada 29 Januari 1948. Pada Kabinet Hatta, Bung Hatta selaku pembentuk kabinet ingin merangkul berbagai golongan, termasuk golongan Islam yang getol menolak Perjanjian Renville.

Kabinet Hatta yang salah satu program kabinetnya ialah melaksanakan hasil Perundingan Renville, menyebabkan umat Islam yang tergabung dalam Partai Masyumi menolak untuk bergabung. Namun demikian, Masyumi sebagai partai besar tetap mengadakan rapat untuk menentukan sikap persetujuan duduk tidaknya DPP Masyumi dalam Kabinet yang sedang disusun Bung Hatta.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Dalam rapat tersebut, hadir lengkap Anggota DPP Masyumi di antaranya, Dr Sukiman, Mr. Kasman Singodimedjo, Dr Abu Hanifah, Mr. Syafruddin Prawiranegara, Mr. Muhamad Roem, M. Natsir, KH A. Wahid Hasyim, KH Masykur, Zainul Arifin, Farid Ma’ruf, KH Abdulkahar Muzzakir, Mr. Yusuf Wibisono, Prawoto mangkusasmito (Sekjen), dan lain-lain.

Dari unsur Majelis Syuro, hadir KH A. Wahab Chasbullah (yang telah dipilih menjadi ketua setelah Hadlatarussyekh Hasyim Asy’ari wafat), KH Ki Bagus Hadikusumo, KH Raden Hajid, KH Imam Ghozali, A. Hasan, dan lain-lain.

Malam pertama, rapat dipenuhi perdebatan yang cukup sengit sehingga belum bisa mengambil keputusan. Lalu, Sidang DPP Masyumi tersebut dilanjutkan di malam kedua. Di hari kedua sidang tersebut, Kiai Wahab mengusulkan untuk menerima tawaran Bung Hatta.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

“Saya usulkan agar kita menerima tawaran Bung Hatta,” ujar Kiai Wahab dengan suara cukup lantang. “Tapi orang-orang kita yang duduk dalam kabinet itu atas nama pribadi sebagai warga negara yang loyal kepada negara. Jadi yang duduk di kabinet itu bukan Masyumi sebagai partai yang tegas-tegas menentang Persetujuan Renville dan Persetujuan Linggarjati!”

Pemikiran Kiai Wahab tersebut mendapat sambutan positif dari pengurus Masyumi. Sebab menurutnya, meskipun secara organisasi menolak Perundingan Renville, tetapi sebagai warga negara tentu tidak bijak ketika negara memanggil untuk melaksanakan tugas kenegaraan namun menolaknya. Tetapi, usulan Kiai Wahab mendapat respon sebaliknya dari Kiai Raden Hajid.

“Loh, alasannya apa kita duduk dalam kabinet yang akan melaksanakan Renville padhal sejak semula kita menolak Renville? Apa ini tidak melakukan perbuatan munkar?” kata Kiai Raden Hajid tidak kalah lantangnya.

“Kita tidak hendak melaksanakan perkara munkar, bahkan sebaliknya, kita hendak melenyapkan munkar,” tutur Kiai Wahab merespon reaksi Kiai Raden Hajid.

Bagi Kiai Wahab, dulu Nabi Muhammad berupaya mengubah situasi munkar (untuk melenyapkannya) dengan perbuatan. Dengan duduk di kabinet, terbuka situasi dan kesempatan bagi ulama untuk melakasanakan misi tersebut. Kiai Wahab justru menilai, ketika hanya duduk di luar kabinet, ulama hanya bisa teriak-teriak tanpa bisa melakukan apa-apa. “Mungkin, bahkan dituduh sebagai pengacau,” tegas Kiai Wahab.

“Tetapi kenapa dulu kita menolak Renville, lalu kini hendak melaksanakannya?” ujar Kiai raden Hajid kembali mempertanyakan.

“Sejak pertama kita menentang Persetujuan Renville, sekarang dan seterusnya pun kita tetap menentangnya. Tapi cara penentangan kita dengan falyughoyyirhu biyadih dengan perbuatan jika kita bisa duduk dalam kabinet. Sejak semula kita mencegah orang membakar rumah kita. Setelah rumah terbakar, apakah kita cuma duduk berpangku tangan?” kata Kiai Wahab merumuskan sebuah qiyas.?

Akhirnya, Kiai Raden Hajid bisa menerima usulan dan pendapat Kiai Wahab dengan menyampaikan agar kelak anggota DPP Masyumi yang diangkat menjadi menteri di Kabinet Hatta supaya mengikrarkan janji, tidak cukup hanya berniat dalam hati untuk terus berkomitmen menolak Perjanjian Renville.

Terkait niat ini, Kiai Wahab menjelaskan salah satu Hadits Nabi SAW yang menyebutkan, “Ista’inu ? ‘ala injaahil hawaiji bil kitmaan...” (HR Imam Thabrani dan Baihaqi). Artinya, mohonlah pertolongan kepada Allah tentang keberhasilan targetmu dengan jalan merahasiakannya.

Baik Kiai Wahab dan Kiai Raden Hajid merupakan ulama besar. Usia mereka kala itu hampir sebaya, 60 tahun. Kedua kiai kharimatik yang mempunyai integritas keilmuan agama itu sama-sama mempunyai sifat tangkas dan cekatan terhadap berbagai persoalan kebangsaan dan keagamaan.?

Adapun isi Perjanjian Renville yang dimaksud adalah sebagai berikut:

1. Pembentukan dengan segera Republik Indonesia Serikat (RIS).

2. Sebelum RIS terbentuk, Belanda memegang kedaulatan seluruh Indonesia.

3. Republik Indonesia merupakan satu negara bagian dari RIS.

4. Akan dibentuk Uni Indonesia Belanda yang dikepalai oleh Ratu Belanda.

5. Akan diadakan plebisit (pemungutan suara) untuk menentukan kedudukan politik rakyat Indonesia dalam RIS dan pemilihan umum untuk membentuk Dewan Konstituante RIS.?

(Fathoni Ahmad)

Kisah perdebatan ini disampaikan oleh KH Saifuddin Zuhri dalam buku karyanya "Berangkat dari Pesantren".

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Nusantara Ustadz Felix Siauw Terbaru