Selasa, 30 Desember 2014

Ramadhan Momentum Spiritualisasi Keilmuan

Oleh Mochammad Maksum Machfoedz

Teramat jelas digariskan tujuan diwajibkannya puasa Ramadlan: la’allakum tattaquun (QS 2-183), agar supaya kalian bertaqwa. Aneka stimulan melengkapi pencapaian tujuan dimaksud, mulai timulasi teknis yang mu’amalah dan hubungan antar-manusia sifatnya, stimulasi ubudiyah dengan aneka asesori ibadah puasa, sampai stimulasi fundamental berkait dengan mentalitas-kejiwaan manusia, urusan character building mendasar.?

Ramadhan Momentum Spiritualisasi Keilmuan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan Momentum Spiritualisasi Keilmuan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan Momentum Spiritualisasi Keilmuan

Salah satu stimulasi fundamental adalah kemutlakan perintah: I’diluu huwa aqrabu li at-taqwa (QS 5-8), berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada taqwa. Kewajiban memenuhi karakter keadilan tercermin dari kalimat perintah yang absolut sifatnya bagi siapa saja: i’diluu. Begitu absolutnya, sampai lebih 30 kali kata adil diungkap dalam Al-Qur’an, dan bisa disimpulkan dalam QS 16-90: innallaha ya’muru bi al-‘adl, sesungguhnya Allah menyuruh berlaku adil; dan ? QS 7-29: qul amara Robbi bi al-qishth, katakanlah ”Tuhanku menyuruhku berlaku adil’.

Relasi antara penegakan keadilan dan mutu ketaqwaan, dengan demikian menjadi ikatan keharusan yang menyatu dan tidak bisa disempal-sempal ketika dikehendaki siapa saja yang ingin menggapai tujuan puasa Ramadlan. Penegakan keadilan dalam kolektifitas, bermasyakat dan berbangsa juga begitu pentingnya: walau ‘ala anfusikum aw al-walidaini wa al-aqrabiin, in yakun ghaniyyan au faqiiraa (QS 4-135), meskipun terhadap diri sendiri, atau orangtua dan kerabat, kaya maupun miskin.

Begitu pentingnya keadilan dan penegakannya, sampai-sampai sebuah kitab mensarahi ajaran Imam Ibn Qayyim dengan menyimpulkan bahwa: laa tashluhu ad-dun-ya wa al-akhirah illa bi al-‘adl, tidak akan pernah ada kedamaian di muka bumi dan akhirat nanti, kecuali berlandaskan keadilan.

Pentingnya relasi perilaku adil sebagai karakter utama ketaqwaan, dengan demikian menjadi materi yang pantas direnungkan dalam Puasa Ramadlan. Kesiapan menjalaninya tidak lagi semata didasarkan atas kesempurnaan hubungan antar-sesama dalam urusan kemanusiaan dan mu’amalah, serta tidak hanya dilengkapi dengan aneka asesori ibadah seperti tarawih, shalat malam, tadarrus, dan sejenisnya. Akan tetapi, pada saat yang sama dilandasi pula oleh kesiapan berrevolusi mental, berlaku adil dan menegakkan keadilan bagi siapa saja.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Dalam konteks inilah kiranya, perilaku adil yang harus lempeng dan tegak lurus, setimbang, moderat dan menengah, tidak mirang-miring, dan menghargai orang lain, i’tidal-tawasuth-tawazun-tasamuh, bisa dihayati maknanya untuk tidak memungkinkan maraknya rasa benar sendiri, radikalisasi, dan apalagi munculnya aneka gratifikasi.?

Tidak bisa dipungkiri bahwa jabaran dari rasa keadilan tersebut dalam konteks kemasyarakatan dan kebangsaan akan memperkaya bangsa ini melalui puasa Ramadlan, dengan ajaran karakter mendasar al-akhlaq al-karimah dalam urusan berbangsa yang dibingkai dalam mabadi’ khaira ummah: ash-shidiq al-amanah al-‘adalah at-ta’awun al-istiqamah, jujur-amanah-adil-gotongroyong-konsisten, lima karakter dasar bagi masyarakat dan bangsa Indonesia yang beradab.

Pertimbangan pentingnya keadilan itu pula yang kemudian mentradisikan peringatan penegakan keadilan sebagai penutup khuthbah Jum’at semenjak pemerintahan Umar bin Abdul Aziz yang berkuasa dari 717 M sampai 720 M. Pemerintahan berkeadilan Umar menjadi melegenda bukan hanya karena telah berhasil menggeser khothbah dengan tradisi cacimaki selama 60 tahun sebelumnya menjadi seruan keadilan. Umar telah berhasil pula membangun peradaban pemerintahan berkeadilan.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Tentu bukanlah sekedar kerinduan terhadap sejarah Umar, ketika seruan keadilan cicit Umar bin Khatthab ini senantiasa menggelora dalam khutbah sampai kini, dibanding seruan lainnya. Efektifitasnya tentu perlu dibangun melalui gerak-langkah berkeadilan, untuk bisa lebih ngefek, dan mewarnai kehidupan berbangsa dan bermasyarakat sebagaimana dicontohkannya.

Adalah sebuah tantangan bagi keberadaan program studi humaniora dengan aneka pendekatan keilmuannya untuk menterjemahkan cita-cita dan amanat spiritual keadilan. Sudah tiba waktunya untuk mempertanyakan eksistensi keilmuan hukum ketika ketidak-adilan justru kini menjadi raja-diraja. Tantangan yang sama juga dilontarkan serius bagi keilmuan humaniora lainnya, termasuk ilmu filsafat, sosiologi, psikologi, komunikasi, sampai ilmu pendidikan usia dini ketika dekadensi moral justru menjadi-jadi. Perihal yang sama muncul pula sebagai tantangan ilmu ekonomi, dalam terapan ilmu pembangunan, managemen dan akuntasi, yang kini semakin eksploitatif dalam perekonomian.

Krisis ekonomi dan keserakahan akan sumberdaya alam sepenuhnya mulai dari sini. Resource Accounting, Ilmu Akuntansi Sumberdaya dalam menjawab peringatan Allah urusannya dengan kemerosotan dan kerusakan sumberdaya alam masih sangat tidak memadai karena kontaminasi kepentingan jangka pendek dan politisasi. Kemerosotan ini berakibat pada takrif-takrif palsu ekonomi pembangunan dengan segala kebodohan indikator pilihannya yang tidak mencerminkan kemashalatan, jikalau tidak boleh dikatakan justru memicu rusaknya lingkungan hidup.?

Mudah sekali dilihat begitu banyaknya kebijakan tanpa spiritualitas memadai, sampai anti spiritualitas. Hingar bingar liberalistik yang menghamba pada kapitalistiknya ilmu kerekayasaan, melalui berkembang pesatnya ilmu dan teknologi informatika, elektronika, sistem informasi, industri, mekanika dan aneka ilmu keteknikan, sampai keilmuan pangan dan agroindustri, berdalih sangat mulia dengan tujuan meningkatkan nilai tambah dan efisiensi ekonomis. Keilmuan ini jelas sekedar jabaran atas Firman-firman Kauniyyah yang tak terbantahkan. Akan tetapi, apa jadinya ketika nihil basis spiritualitas? Semuanya akan berujung kecongkakan akademik, dan ulah eksploitasi, bukan kemajuan kemashlahatan, tetapi penyebaran kemiskinan yang melawan Firman Tuhan.

Sebagai ilustrasi akademis bisa diangkat kebidangan yang disebut terakhir: pangan dan agroindustri, yang sangat terkait dengan ibadah puasa Ramadlan pada hari ini. Simpati dan empati terhadap segala keterbatasan dalam pemenuhan pangan sebagai kebutuhan dasar, basic need, merupakan salah satu esensi yang melandasinya. Puasa, menahan diri dari makan-minum, merasakan lapar dan dahaga, meski baru merupakan keutamaan manusiawi tingkat awal, membuahkan keutamaan berikutnya sebagai refleksi kepedulian antar sesama, ketaatan ilahiyah tiada tara, sampai kesyukuran paripurna atas segala kebesaranNya. Bukan sekedar simbolisasi.

Kelaparan merupakan keseharian keadaan sang papa, saudara-saudara kita yang sedang tidak beruntung, fakir-miskin sekitar kita. Telah menjadi tanda-tanda zaman, bahwa dalam masyarakat materialistis, sikap abai kalangan luas cenderung mempersalahkan mereka sebagai pecundang akibat kalah perang ekonomis dengan kemenangan para pemilik modal, aghniya’, dalam rivalitas ekonomis dan teknologis. Sungguh asumsi nir-spiritualitas yang memprihatinkan kita semua.

Asumsi itu salah besar karena Islam justru memberikan kasih-sayang sempurna bagi fakir-mikin. Eskalasinya tercermin dalam puasa Ramadan dengan aneka ritual dan peringatan membayar zakat. ? Hakekatnya, sebagian dari harta kekayaan aghniya’ adalah hak fakir-miskin, bukan hak si kaya. Karena itu, harus dibersihkan dan disucikan, tuthahhirukum wa tuzakkiihim biha (QS. 9: 103).?

Secara khusus, pelembagaan zakat fithrah sebagai kepedulian pangan sesama bahkan tidak terpisahkan dari kesempurnaan puasa untuk menggapai maghfirah dan ketaqwaan, sebagai jaminan kembalinya manusia kepada kesucian, al-fithr. Hal ini ditunjukkan dengan kewajiban mengeluarkan zakat fitrah untuk setiap jiwa muslim yang mampu, dan harus dibayarkan ? qabla ash-shalah, sebelum shalat Iedul Fitri. Begitu hadits Nabi menyebutkan. Hak atas pangan harus dibayarkan ketika menginginkan kembali ke kesucian, iedul fitri. Untuk hak ini, ijinkan untuk menyebut Ramadlan sebagai Bulan Pangan, syahru ath-tha’am. Bukan menyebutnya ? bulan badhogan bagi abdul buthun.?

Fakta yang dipaparkan mensiratkan besarnya perhatian Islam terhadap hak atas pangan. Tata sistemnya pun dengan demikian harus berbasis kedaulatan, sebagaimana tercermin dalam kepedulian Muhammad terhadap urusan pangan yang sangat istimewa, seperti disabdakan: an-nasu syuraka-u fii tsalatsin: al-mau wa al-kala-u wa an-nar, manusia berserikat dalam tiga perkara: air, tetumbuhan dan api. Berserikat, syurakaa’, mensiratkan bahwa kekuasaan dan kedaulatan urusan ini berada di tangan rakyat, untuk ? sebesar-besarnya kepentingan manusia sebagai kolektifitas, dan pantang eksploitatif.?

Perhatian Allah tentang hak atas pangan, bahkan ditunjukkan dengan menyebut pendustaan agama, yukaddzibu bi ad-din (QS. 107: 1-3), termasuk mereka yang: laa yakhuddlu ala thaami al-miskin, tidak mengajak memberi makan fakir-miskin. Tafsir Qurtubi menyebut makna utama ayat ini: isyaratun ala annahu la yuthimu al-masakin idza qadara, mengisaratkan mereka yang tidak memberi makan ketika mampu.

Banyak pihak menjabarkan ayat ini lebih dari sekedar urusan pangan, tetapi pangan dan perekonomian umumnya. Surat al-maun ini menjadi inspirasi para pemimpin terdahulu, seperti Hadratus Syaikh Hasyim Asyari dengan syirkah muawwanahnya (gerakan koperasi), yang beliau kembangkan jauh hari sebelum NU dideklarasikan berdirinya oleh beliau.

Begitulah ketakwaan mensyaratkan tumbuhnya kepedulian sosial, mengamanatkan bahwa sebagian rejeki ? harus dinafkahkan (QS. 2: 2), kepada yang berhak, dalam keadaan lapang maupun sempit (QS. 3: 134), agar gini rasio tidak njomplang, serta supaya aset ekonomi tidak terkonsentrasi kepada segelintir orang kaya, kay la yakuna duulatan baina al-aghniyai minkum (QS. 59: 7).

Semoga kita beroleh rahmat untuk lebih manusiawi, semakin peka terhadap mereka yang lemah, terlebih yang paling tersingkir dalam pembangunan, , untuk kemajuan perekonomian bersama. ? Jauhkanlah kami semua ya Allah, untuk tidak justru menari-nari bagai burung bangkai, di atas kelemahan mereka yang sedang tidak beruntung, naudzu billaah..

Sungguh sebagai ilmuwan dan ilmuwan muda, mahasiswa-mahasiswi, sekelumit contoh yang menggambarkan betapa hinanya para ilmuwan, yang sehebat apapun, ketika tidak dilandasi kesiapan spiritualis sudah pasti akan keblinger, akan menjadi the most disadvantaged people, tidak mampu berlaku adil dan tidak bakal masuk dalam kategorisasi Allah sebagai ilmuwan yang ulama’.?

Kedalaman spiritualitas Ramadlan dengan segala paket ibadahnya, menempa kita semua, sebagai civitas akademika untuk insya Allah menjadi lebih komplit ketika tidak semata didukung rasa takut kepada Allah karena berbagai kealpaan hidup yang kita lakukan (khauf), akan tetapi didukung rasa takut nuraniah yang paling dalam kepada Allah, min khasyyatiLlah, yang dilandasi kesadaran, cinta dan penghormatan tulus kepada Allah SWT sebagai Yang Maha Agung, Maha Kuasa dengan segala kekuatannya, dan Maha Tahu dengan kesempurnaan ilmunya.

Rasa takut seperti ini terwujud, menggabungkan penafsiran Shobuni dan Ibn Katsir, liannahum ya’rifunahu haqqa ma’rifatihi li al-‘adlim al-qadiir atam, wa al’ilmi bihi akmal, karena para alim menghayati setulusnya akan keagungan, kesempurnaan kekuasaan, dan tidak terbatas keilmuan Allah.?

Attribut nuraniah khasyyatullah inilah karakterisasi Allah terhadap para ilmuwan yang memiliki basis spiritualitas: innamaa yakhsya Allaha min ibadihi al-ulamaa (QS 35: 28), sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hambaNya, hanyalah para alim. Signifikansi sosok ini ditegaskan pula dengan: wa hum min khasyyatihii musyfiquun (QS 21:28), dan karena rasa takutnya kepada Allah, mereka senantiasa berhati-hati.

Semoga Allah berkenan memberikan hidayah, sehingga kita semua tidak akan sekadar menjadi civitas akademika UNUSIA, tetapi civitas akademi yang sekaligus menghayati khasyyatullah, insya Allah.***

Penulis adalah Wakil Ketua Umum PBNU dan Rektor UNU Indonesia.

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Internasional, Cerita Ustadz Felix Siauw Terbaru

Minggu, 21 Desember 2014

Said Aqil: Afganistan Pernah Menggetarkan Dunia

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Ketua Umum PBNU KH Said Aqil Siroj mengingatkan para calon mahasiswi Afganistan yang akan belajar di perguruan tinggi NU, Afganistan mempunyai banyak ulama dan tokoh muslim kaliber dunia, seperti Imam Abu Hanifah, Abu Bakar Al-Baqillani, dan Jamaluddin Al-Afgani.

“Afganistan telah melahirkan banyak sekali ulama yang diikuti oleh umat Islam di seluruh dunia dan insyaallah akan teus lahir generasi ulama dari Afganistan,” kata Said Aqil saat memberikan pembekalan kepada 23 calon mahasiswi Afganistan di kantor PBNU Jakarta, Jum’at (25/10).

Said Aqil: Afganistan Pernah Menggetarkan Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)
Said Aqil: Afganistan Pernah Menggetarkan Dunia (Sumber Gambar : Nu Online)

Said Aqil: Afganistan Pernah Menggetarkan Dunia

Afganistan juga pernah menjadi pusat perhatian dunia, saat para muhajidnya berhasil mengalahkan Uni Soviet. “Kemenangan Afganistan waktu itu telah menggetarkan dunia dan membuat citra umat Islam terangkat,” kata Said Aqil.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Namun kebesaran Afganistan mulai hilang semenjak negara muslim ini dirundung konflik. “Kita menyesalkan sekarang ini terjadi konflik yang semuanya mengatasnamakan Islam,” tambahnya.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Dalam hal mengelola konflik dan memelihara perdamaian, ia berharap Afganistan dapat meniru Indonesia.

“Di sini ada enam agama resmi dan banyak sekali aliran kepercayaan, juga ada empatratusan suku. Namun kami punya komitmen untuk mempersatukan tanah air,” katanya didampingi Wakil Ketua Umum PBNU H Asad Said Ali.

Umat Islam sebagai mayoritas penduduk Indonesia, bahkan merupakan yang terbesar di seluruh dunia, mengedepankan prinsip nasionalisme dalam membina hubungan dengan agama lain atau suku yang berbeda.

“Para ulama pendiri negara ini seperti Kiai Hasyim Asy’ari berprinsip bahwa Islam dan nasionalisme itu saling memperkuat. Kalau Islam saja, kita akan menjadi radikal. Kalau nasionalis saja, kita akan menjadi sekuler. Kita telah berhasil memadukan antara Islam dan nasionalisme,” kata Ketua Umum PBNU di di hadapan para calon mahasiswi NU dari Afganistan.

23 calon mahasiswi dari Afganistan berusia 19-23 tahun itu merupakan perwakilan dari beberapa wilayah di Afganistan. Mereka akan menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi NU, yakni Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang selama empat tahun ditambah matrikulasi bahasa Indonesia selama satu tahun.

Mereka akan mendapatkan beasiswa penuh dari PBNU yang kan belajar di Fakultas Ekonomi, Farmasi, FISIP dan Ilmu Hukum. Pengiriman mahasiswa dari Afganistan untuk belajar di perguruan tinggi NU ini merupakan kelanjutan dari beberapa kali kunjungan NU ke Afganistan dan kunjungan ulama Afganistan ke PBNU dan beberapa pesantren. (A. Khoirul Anam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Humor Islam, Jadwal Kajian, Kyai Ustadz Felix Siauw Terbaru

Selasa, 16 Desember 2014

Sejumlah Cerita Menggelitik soal Pelumpuhan Hewan Kurban

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Penyembelihan hewan kurban berupa sapi dan kerbau selalu meninggalkan kesan lucu bagi orang yang menyaksikannya. Karena dalam satu tahap penyembelihan, sapi dan kerbau harus dilumpuhkan terlebih dahulu.?

Sejumlah Cerita Menggelitik soal Pelumpuhan Hewan Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)
Sejumlah Cerita Menggelitik soal Pelumpuhan Hewan Kurban (Sumber Gambar : Nu Online)

Sejumlah Cerita Menggelitik soal Pelumpuhan Hewan Kurban

Tahap inilah yang menurut sebagian jagal hewan kurban tidak selalu mudah karena sapi dan kerbau kerap berontak, ngamuk, menyeruduk orang, lari berpuluh-puluh meter hingga masuk sungai bahkan akhirnya ada yang harus dilumpuhkan melalui tembakan polisi karena membahayakan orang lain.

Informasi mengenai sejumlah cerita menggelitik soal pelumpuhan sapi berhasil dihimpun Ustadz Felix Siauw Terbaru dari berbagai sumber. Di Bojonegoro misalnya, seekor sapi yang akan disembelih untuk kurban di Masjid Al-Islah di Desa Sukorejo, Kecamatan Kota, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Senin (12/9) terpaksa diangkat dengan kendaraan truk derek karena masuk sungai di desa setempat.

Saat itu, ada tiga pekerja yang menurunkan sapi warna hitam yang dibawa dengan kendaraan truk dari Kecamatan Sukosewu di depan Masjid Al Islah. Saat diturunkan dari atas truk, sapi lepas kemudian masuk perkampungan. Tiga pekerja dengan dibantu pengurus Masjid Al-Islah juga warga berusaha menangkap sapi yang berlarian masuk perkampungan tapi tidak berhasil.

Melihat ada sapi masuk sungai, warga sekitar berdatangan, selain ikut menyaksikan juga ikut membantu mengangkat sapi di sungai itu, dengan mendatangkan kendaraan truk derek dari Dinas Pekerjaan Umum (PU) Bojonegoro. Usaha mengangkat sapi dengan kendaraan truk derek berlangsung 2 jam lebih, sebelum akhirnya sapi berhasil diangkat ke daratan.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Sruduk warga

Proses penyembelihan sapi di Medan lebih mencengangkan lagi meskipun mungkin lumrah, 3 ekor sapi yang akan disembelih di Masjid Suhada Jalan Pahlawan, Kecamatan Medan Perjuangan, Kota Medan mengamuk dan menyeruduk warung, serta beberapa orang warga.

Panitia kurban dan beberapa orang warga menyebutkan, kejadian itu bermula ketika salah seekor dari sembilan lembu yang akan disembelih digiring warga ke Masjid Suhada. Namun, secara tiba-tiba beberapa ekor mengamuk dan berusaha lari dari dalam masjid tersebut.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Meski belasan orang berupaya menahan lembu jantan itu, namun kekuatan hewan itu, tak terbendung sehingga menyeruduk seorang warga bernama, Abdul Amin dan beberapa warga lainnya. Bahkan, peristiwa tersebut langsung membuat heboh warga sekitar lokasi. Beberapa pengemudi mobil pribadi dan pengendara sepeda motor di Jalan Perjuangan sempat berhenti karena takut diserang lembu yang mengamuk.

Setelah kejadian itu, dua ekor lembu lainnya juga ikut mengamuk. Lembu yang mencoba kabur menabrak warung yang berada dekat masjid hingga roboh. Akibatnya, pemilik warung marah dan meminta ganti rugi kerusahkan kepada panitia kurban. Kemudian, tiga ekor lembu itu akhirnya berhasil ditenangkan dan disembelih panitia kurban.

Dilumpuhkan tembakan Polisi

Kali ini cara pelumpuhan sapi sangat tidak umum, yakni dilumpuhkan oleh tembakan polisi karena amuk sapi sudah pada taraf membahayakan warga. Ceritanya, seekor kerbau yang hendak disembelih oleh warga Desa Gondangmanis, Kecamatan Bae, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Senin, terpaksa ditembak oleh polisi setempat karena mengamuk dan lari ke pemukiman warga.

Salah satu tali pengikat kerbau tersebut tiba-tiba terlepas ketika warga selesai menyembelih empat ekor kambing kurban di Musala As Salam desa setempat Senin siang. Karena kerbau tersebut mengamuk, warga khawatir sehingga lari menyelamatkan diri dan sebagian ada yang mengejar kerbau yang lari ke arah Perumahan Puri Asri yang letaknya sekitar 20 meter dari musala.

Kerbau tersebut juga sempat mengejar Marto yang merupakan jagal, sehingga Marto juga lari menyelamatkan diri dengan naik ke atas pohon. Meskipun sudah berada di atas pohon, kerbau tersebut tidak mau melepaskan Marto karena beberapa kali menyerudukkan kepalanya ke arah pohon.

Upaya warga menangkap kerbau tersebut tidak membuahkan hasil. Bahkan, kerbau tersebut justru lari ke arah Desa Dersalam dan masuk ke rumah desa setempat yang jarak dengan musala sekitar 1 kilometer.

Selanjutnya, warga meminta bantuan aparat kepolisian setempat untuk melumpuhkan hewan ternak tersebut. Sejumlah personel kepolisian dari Polsek Bae yang diterjunkan untuk melumpuhkan kerbau tersebut, masih mengalami kesulitan karena hewan ternak tersebut masuk ke tempat bengkel las milik Sambiyono sehingga agak kesulitan melumpuhkan kerbau tersebut.

Di dalam dalam perbengkelan tersebut, juga terdapat material yang mudah terbakar sehingga upaya melumpuhkan harus dilakukan dengan hati-hati. Kerbau tersebut akhirnya bisa dilumpuhkan di dalam perbengkelan setelah ditembak polisi dan mengenai kepala kerbau. (Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Internasional, Cerita Ustadz Felix Siauw Terbaru

Jumat, 12 Desember 2014

Mensos Khofifah Dukung Program Perburuan Anak Putus Sekolah

Sungailiat, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Menteri Sosial RI Khofifah Indar Parawansa mendukung sepenuhnya pemerintah Kabupaten Bangka, Provinsi Kepuluan Bangka Belitung yang mencanangkan program "perburuan anak putus sekolah" (Bunastulah).

"Saya mendukung sepenuhnya program Bunastulah yang digagas pemerintah Kabupaten Bangka, dan program ini baru pertama kali ini saya mengetehuinya," katanya di Sungailiat, Rabu, (5/4) saat menyerahkan bantuan sosial nontunai di Desa Silip Kecamatan Riausilip, Sungailiat seperti dilansir Antara.

Mensos Khofifah Dukung Program Perburuan Anak Putus Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)
Mensos Khofifah Dukung Program Perburuan Anak Putus Sekolah (Sumber Gambar : Nu Online)

Mensos Khofifah Dukung Program Perburuan Anak Putus Sekolah

Dengan dicanangkan program itu, dia minta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan setempat memperioritaskan agar program yang cukup bagus ini dapat berjalan sesuai yang diinginkan bersama.

"Berbagai program sosial pemerintah pusat maupun daerah harus berdasarkan data yang valid, sehingga bantuan sosial dapat tepat sasaran," ucapnya, menegaskan.

Ia mengatakan, validasi data menjadi persoalan yang harus diselesaikan bersama antara pemerintah pusat dan daerah, karena seharusnya data diambil secara berjenjang dari pemerintah daerah mulai dari RT, kepala desa, camat, bupati, gubernur hingga akhirnya sampai ke menteri.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

"Saya menginginkan adanya perubahan rezim beda data yang selama menjadi suatu persoalan bersama, namun jika pola pendataan dimulai dari tingkat RT sampai jenjang akhir ke menteri, Insyaallah beda data dapat dikurangi," ujarnya.

Menurutnya, banyak program sosial pemerintah Kabupaten Bangka yang harus didukung semua pihak, mulai dari program Bunastulah, program "Perburuan Ibu Hamil Beresiko Tinggi" (Bumil Resti), dan "Perburuan Orang tua Hidup Sendiri" (Buratuhiri).

"Provinsi Kepulauan Bangka Belitung masuk dalam kota yang menerima program beras sejahtera (ranstra) dari 44 kota di Indonesia," ujarnya. (Red: Fathoni)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Ustadz Felix Siauw Terbaru Sunnah, Jadwal Kajian Ustadz Felix Siauw Terbaru

Sabtu, 29 November 2014

Tarekat Tijaniyah Gelar “Idul Khotmi” Ke-222 di Jatibarang

Brebes, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Para ikhwan tarekat Tijaniyah memperingati Idul Khotmi lil Qutbil Maktum Syeikh Ahmad Tijani RA yang ke-222 di Jatibarang, Brebes, Jawa Tengah pada tanggal 12 sampai 14 Desember. Perayaan serupa pernah digelar dengan sukses di tempat tersebut pada tahun 1984 dan 2008.

Muqaddam Tijaniyah KH Syekh Soleh Basalamah menjelaskan, Idul Khotmi lil Qutbil Maktum Syeikh Ahmad At-Tijani adalah tradisi tahunan yang biasa diadakan sebagai perayaan murid Tijaniyah. Tradisi tersebut dilaksanakan dalam rangka hari pengangkatan Syekh Tijani sebagai wali khatm atau al-quthb al-maktum.

Tarekat Tijaniyah Gelar “Idul Khotmi” Ke-222 di Jatibarang (Sumber Gambar : Nu Online)
Tarekat Tijaniyah Gelar “Idul Khotmi” Ke-222 di Jatibarang (Sumber Gambar : Nu Online)

Tarekat Tijaniyah Gelar “Idul Khotmi” Ke-222 di Jatibarang

Kegiatan yang diadakan setiap tanggal 18 Shafar tersebut, kata dia, merupakan puncak ijtima’ kaum Tijaniyah seluruh Indonesia. Dilaksanakan bersifat nasional berdasar restu sesepuh muqaddam tingkat nasional. Sementara tempatnya bergiliran di tempat-tempat yang ada di Indonesia.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Tradisi ini untuk pertama kalinya secara berturut-turut diadakan di Desa Betoyo, Kecamatan Mayar, Kabupaten Gresik, Jawa Timur pada tahun 1979, 1980, 1981 M. Selanjutnya dilaksanakan secara bergiliran di kota-kota Jawa Tengah Jawa Barat, Kalimantan Selatan, dan Bali.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Menurut Ketua Panitia Idul Khotmi, Afifullah, kegiatan tersebut dihadiri lebih kurang 20 ribu orang perwakilan dari seluruh penjuru Nusantara. “Bahkan peserta dari luar negeri juga sudah berdatangan antara lain dari Prancis, Inggris, India, Maroko, Saudi Arabia, Tunisia, Al Zajair, Malaysia dan Brunei Darussalam,” ungkapnya di sela kegiatan Jumat (12/12).

Selama tiga hari, kata dia, peserta bakal mengikuti agenda utama berupa Halalah (dzikir rutin Tarekat Tijaniyah pada Jumat sore? di Masjid Mujahidin Jatibarang Kidul, Mushola Baitussaadah di Jatibarang Lord, dan di Zawiyah Kemiriamba.

Pada Sabtu (13/12) ada halaqah (seminar) Muqodam di gedung Serbaguna Al Ittihad, seminar penanggulangan ISIS bagi pengikut Attijaniyah di Pesantren Darrusalam Jatibarang Kidul. Terus khalwat (dzikir), Manaqib Qubro dan istighosah di Masjid Al Ittihad di Jatibarang Lor. Juga digelar Parade Rebana 23 grup dan atraksi Ikatan Motor Banser Indonesia (IMBI).

Puncak kegiatan berupa pengajian akbar pada Ahad di Pesantren Darussalam Jatibarang Kidul, dengan pembicara dari PBNU KH Mustafa Aqil Siroj, Rois Am JATMAN Habib Lutfie bin Ali Yahya, Sayid Tohir At Tijani dari Maroko dan Dr Redigenun Muqodam dari Al Zajair.

1200 rumah warga untuk menginap

Menurut Afif, untuk mensukseskan kegiatan tersebut, panitia menyediaksn 1200 rumah warga sebagai home stay (tempat tinggal sementara) para bagi ikhwan (peserta) luar daerah. Rumah tersebut disediakan untuk penginapan sekaligus menyediakan konsumsi gratis bagi ikhwan. “Warga sangat antusias walau hanya diberi subsidi Rp 10 ribu per ikhwan,” terangnya. (12/12).

Dari 1200 rumah tersebut, lanjutnya, berada di seluruh wilayah Kecamatan Jatibarang, sehingga tidak memberatkan panitia dalam hal transportasi. Sedangkan untuk para Muqadam dan Masayih di Hotel Anggraeni Jatibarang.

Afif menambahkan, warga sendiri mengaku sangat senang ditempati para tamu dari seluruh penjuru Nusantara. Mereka menganggap hal itu bisa mendatangkan barokah dikemudian hari. “Mereka yang ditempati, mayoritas sangat bangga bahkan sebagian banyak yang minta rumahnya dijadikan home stay karena dipercaya bakal mendapat barokah dari Allah SWT,” tutur Afif. (wasdiun/abdullah alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Khutbah, Aswaja Ustadz Felix Siauw Terbaru

Jumat, 05 September 2014

Tahun Kelahiran NU Tertulis di Soko Masjid Menara Kudus

Kudus, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Tahun kelahiran Nahdlatul Ulama sudah tercatat pada soko (tiang penyangga) Masjid Al Aqsha Menara Kudus, Jawa Tenah. Pada soko tersebut tertulis kalimat Arab yang berbunyi “matatil bid’ah biqiyami hujjah liahlis sunniyah" yang ditulis oleh pengusaha ubin Kudus KH Ahmad Kamal.

“Kalimat itu kalau dihitung per huruf abjadnya berjumlah 1344 sesuai tahun kelahiran NU dari hitungan Hirjiyah. Bila sampai tahun 1435 H ini? berarti sudah tepat NU diperingati harlah ke-91,” kata Mustasyar PBNU KH Sya’roni Ahmadi dalam acara Tasyakuran Hari Lahir (Harlah) ke-91 NU di Aula MANU Banat Kudus, Kamis (15/5) malam.

Tahun Kelahiran NU Tertulis di Soko Masjid Menara Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)
Tahun Kelahiran NU Tertulis di Soko Masjid Menara Kudus (Sumber Gambar : Nu Online)

Tahun Kelahiran NU Tertulis di Soko Masjid Menara Kudus

Mbah Syaroni, sapaan akrabnya, mengingatkan kembali supaya harlah NU diperingati berdasarkan hitungan Hijriyah, yakni pada 16 Rajab 1344 yang bertepatan 31 januari 1926. Di sampaing itu, peringatan harlah NU tidak perlu diubah menggunakan kata “Hari Ulang Tahun (HUT)”.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

“Rahasianya, istilah harlah itu dari kata maulid, sedangkan HUT itu sama saja dengan Haul. Kalau haul berarti memperingati kematian padahal NU tidak mati,”jelas.

Hikmah peringatan harlah NU, menurut pengasuh pengajian rutin Jum’at pagi di Masjid Menara Kudus, adalah untuk mengulangi semangat baru dalam berjuang. Biasanya nafsu seseorang itu senang hal? baru sehingga harlah NU sangat penting diperingati.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

“Semoga perjuangan ke depan, NU tetap menjadi jam’iyyah yang besar dan jaya memperjuangkan kemaslahatan ummat,” ujar Mbah Sya’roni yang diamini semua pengurus NU yang hadir.

Sementara itu, Ketua PCNU Kudus H Abdul Hadi menegaskan, NU pada masa kepemimpinannya ini akan menata kepengurusan di semua tingkatan serta memperkuat lembaga.

“PCNU Kudus juga akan membangun sumber daya manusia yang kuat melalui penguatan bidang pendidikan,” tandasnya saat menyampaikan sambutan harlah. (Qomarul Adib/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Bahtsul Masail, Sejarah Ustadz Felix Siauw Terbaru

Selasa, 29 Juli 2014

Hadapi Masalah Narkoba sampai Ideologi dengan Bijaksana

Banyuwangi,Ustadz Felix Siauw Terbaru. Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Banyuwangi menggelar "NU Bersholawat bersama Ashabus Syafaah" di Pondok Pesantren Ibnu Sina, Jalen, Kalisetail, Genteng, Banyuwangi. Kegiatan tersebut sekaligus memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW Kamis (24/11) yang diawali dengan pembacaan shalawat, istighotsah, pembacaan Simtud Duror.

"Bacaan shalawat, selain menambahkan pahala amal ibadah, juga dapat mendatangkan rezeki dan menolak bahaya. Karenanya bershalawatlah kalian di setiap keadaan dan dimana pun berada," pinta Pengasuh Pondok Pesantren Ibnu Sina Kiai Masykur Ali, saat sambutan awal selaku tuan rumah.

Hadapi Masalah Narkoba sampai Ideologi dengan Bijaksana (Sumber Gambar : Nu Online)
Hadapi Masalah Narkoba sampai Ideologi dengan Bijaksana (Sumber Gambar : Nu Online)

Hadapi Masalah Narkoba sampai Ideologi dengan Bijaksana

PCNU Banyuwangi diwakilkan kepada Guntur Albadri. Ia menjelaskan saat ini NU tengah menghadapi banyak tantangan.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

"Bahaya narkoba yang merongrong generasi pelajar Nahdlatul Ulama. Narkoba adalah musuh kita bersama. Musuh yang secara perlahan-lahan merusak eksistensi kaum muda. Karenanya kami mengimbau untuk menjauhi narkoba sejak dini," ungkapnya.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Selain bahaya narkoba, menurut dia, NU menghadapi tantangan ideologi kebangsaan. Segelintir kelompok atau golongan sudah mulai banyak membenci empat pilar kebangsaan.

"Mereka mengajarkan anti-Pacasila, dan Undang-undang. Parahnya mereka mengajarkan dan menyebarkan ideologi dengan cara kekerasan dan aksi teror," imbuhnya.

Terakhir, lanjutnya, NU menghadapi tantangan aqidah. Saat ini, NU menghadapi anti-Ahlussunnah wal-Jama’ah (Aswaja). Mereka mengajarkan dan menyebarkan ideologinya dengan cara radikal dan teror.

"Kita berharap dengan runyamnya masalah yang kita hadapi saat ini, ke depan menjadikan kita semua menjadi umat yang lebih dewasa dan bijaksana. Memang ini adalah masalah yang harus kita selesaikan bersama," tegasnya.

Usai sambutan dari tuan rumah dan Pengurus Cabang NU, dilanjutkan dengan ceramah dari wakil Pengasuh Pondok Pesantren Darussalam Blokagung KH Ali Asikin. Ia menerangkan tentang pentingnya amal ibadah yang dilakukan terus-menerus, walaupun sedikit, berdasarkan hadits "afdholul amal adwamuha, wain qolla".

"Maka para jamaah ketika pulang dari sini bisa mengamalkan salah satu amal ibadah kebaikan apa saja secara terus menerus walaupun sedikit," tutur Ketua Lembaga Bahsul Masail kabupaten Banyuwangi.

Acara tersebut dihadiri Pengurus Cabang NU banyuwangi, pengurus lembaga, anggota banom NU, perwakilan pemerintah Kecamatan Genteng, Polsek kecamatan Genteng, dan para santri Ibnu Sina dan Darussalam Blokagung. (M. Sholeh Kurniawan/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru AlaNu, Habib, Fragmen Ustadz Felix Siauw Terbaru

Selasa, 22 Juli 2014

Ketum PMII Minta Maaf kepada Masyarakat Sulteng

Palu, Ustadz Felix Siauw Terbaru?



Polemik pidato Ketua Umum Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia Aminuddin Ma’ruf pada pembukaan Kongres ke-19 PMII di Kota Palu menyebabkan ketersinggungan Gubernur dan masyarakat Sulawesi Tengah.?

Oleh karena itu Amin meminta maaf saat pertemuan yang dimediasi Ikatan Keluarga Alumni PMII (IKAPMII), PB PMII, serta Gubernur Sulawesi Tengah H. Longki L. Djanggola di Rumah Jabatan Gubernur Sulteng (17/5).

Ketum PMII Minta Maaf kepada Masyarakat Sulteng (Sumber Gambar : Nu Online)
Ketum PMII Minta Maaf kepada Masyarakat Sulteng (Sumber Gambar : Nu Online)

Ketum PMII Minta Maaf kepada Masyarakat Sulteng

“Terkait polemik pidato saya kemarin, tidak ada maksud untuk menyinggung Gubernur Sulawesi Tengah dan masyarakat Sulawesi Tengah secara umum. Dengan itu, saya secara pribadi dan atas nama PB PMII, meminta maaf jika pidato saya kemarin telah menyinggung hati masyarakat Palu dan masyarakat Sulawesi Tengah secara umum,” kata Aminuddin pada pertemuan itu.

Gubernur Longki Djonggala, menyatakan penyesalan atas pidato disampaikan Amin. “Yang jelas, saya pun juga sangat menyesalkan sikap adinda saya (Aminuddin Ma’ruf) dengan statement itu. Mungkin karena terlalu semangat, sehingga ya keseleo lidah dan akhirnya dapat memberi arti yang lain,” ujar Longki.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Gubernur memaklumi pidato Amin yang mungkin terpikir dengan kasus-kasus di Jawa dan terbawa dengan arus isu hangat yang diupayakan pemerintah, semisal persoalan HTI.

“Jadi, prinsipnya saya tidak ada masalah dan menerima permintaan maafnya. Hanya saja, tolong kalau boleh, adakan klarifikasi terhadap sambutan itu, seperti yang adinda katakan tidak ada maksud untuk mendiskreditkan baik ulama, umat Islam keseluruhan, dan rakyat Sulawesi Tengah,” tambah Longki.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Gubernur juga berharap bahwa kongres XIX PMII dapat berjalan dengan lancar dan akan tetap mendukung perhelatan akbar pergantian kepemimpinan di tubuh PMII hingga selesai.?

“Saya minta ini secepatnya clear, karena masih ada musyawarah di kongres, dan ini semua dapat berjalan dengan aman, nyaman dan lancar. Juga tidak ada gesekan-gesekan yang memanfaatkan moment ini (kontroversi pidato Aminuddin-red). ? ?

Di akhir pertemuan dan mediasi tersebut, Gubernur Sulteng, Ketua Umum PB PMII, Ketua IKAPMII Sulteng dan Sekretaris PW GP Ansor saling mengadakan foto bersama dan bergandengan tangan di hadapan para wartawan yang juga ikut dalam pertemuan itu.

Sebagaimana diketahui, pada kongres dibuka Presiden Joko Widodo Selasa (16/5), Aminudin mengatakan bahwa kongres PMII sengaja dilaksanakan di tanah Tadulako Provinsi Sulteng dengan tema meneguhkan konsensus bernegara untuk Indonesia berkeadaban; di tanah ini, katanya adalah pusat dari gerakan radikalisme Islam, di tanah ini, katanya, adalah pusat dari gerakan menentang NKRI. (Red: Abdullah Alawi)

? ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Aswaja Ustadz Felix Siauw Terbaru

Jumat, 11 Juli 2014

Ramadhan, SMA N 1 Bulakamba Ngaji Dua Kitab Kuning

Brebes, Ustadz Felix Siauw Terbaru - Selama bulan Ramadhan 1438 Hijriyah, SMA Negeri 1 Bulakamba, Kabupaten Brebes menggelar bedah kitab kuning. Kajian ini diikuti para siswa yang ingin mendalami keilmuan ala pesantren dengan sistem sorogan dan bandongan.

“Kami ingin para siswa mengenal dunia santri dengan mempelajari kitab kuning yang digunakan para santri di pesantren,” ujar Kepala SMA N 1 Bulakamba H Achmad Fatawi di ruang kerjanya, Rabu (31/5).

Ramadhan, SMA N 1 Bulakamba Ngaji Dua Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)
Ramadhan, SMA N 1 Bulakamba Ngaji Dua Kitab Kuning (Sumber Gambar : Nu Online)

Ramadhan, SMA N 1 Bulakamba Ngaji Dua Kitab Kuning

Kitab yang dibedah, kata Fatawi, yakni kitab Sulamut Taufiq yang membahas tentang fiqih dan tasawuf. Kitab kedua yakni kitab Uqudulujain yang membahas tentang rumah tangga yang sakinah mawadah wa rahmah.

Uqudulujain penting diberikan kepada para siswa mengingat nantinya akan mengarungi bahtera rumah tangga. Diharapkan ketika berumah tangga memiliki ramah tangga yang harmonis. Rumah tangga yang memiliki metode 3 S, Sayangnya Suami Selangit, bagi sang istri juga Setia Setiap Saat.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Pembelajaran kitab kuning menggunakan metode sorogan dan bandongan. Dalam metode sorogan, setiap siswa mendapat kesempatan untuk belajar secara langsung dengan ustadz atau kiai.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Sedangkan, metode bandongan dalam proses pembelajaran kiai membacakan, menerjemah, dan menerangkannya. Sementara para santri mendengarkan, menyimak, dan mencatat apa yang disampaikan oleh kiai yang memberi pengajian tersebut.

“Kami menerapkan kedua metode tersebut agar siswa benar-benar memaknai diri sebagai seorang santri,” paparnya.

Kajian kitab kuning diikuti para siswa yang berminat. Para siswa membeli kitab kuning yang sudah dimaknai selanjutnya mengikuti kajian yang digelar sejak hari pertama Ramadhan hingga H-7 Ramadhan. “Kajian digelar setiap bada dhuhur pukul 12.30 sampai 13.30,” terangnya.

Selain membedah dua kitab, lanjut Fatawi, para siswa juga akan mengikuti lomba Khithabah, Asmaul Husna, Puitisasi Al-Quran, dan Tartil Quran. Lomba diikuti seluruh siswa kelas 10 dan 11dari 22 kelas, usai ujian penilaian akhir tahun yakni pada tanggal 12-14 Juni.

“Peringatan Nuzulul Quran juga akan digelar pada 15 Juni,” pungkasnya.

Dalam pengamatan Ustadz Felix Siauw Terbaru, SMA N 1 Bulakamba bernuansa Islami. Di setiap lorong antarkelas terpasang dengan indah tulisan asmaul husna hasil karya siswa. Mushalla juga berdiri megah untuk kegiatan shalat dan ibadah lainnya. (Wasdiun/Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru News Ustadz Felix Siauw Terbaru

Sabtu, 28 Juni 2014

Jokowi: Presiden Afghanistan Kaget Keragaman di Indonesia

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Terbaru

Pada kunjungan ke Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bangunsirna, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat, Sabtu (10/6, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengisahkan pertemuannya dengan Presiden Afganistan Ashraf Ghani.?

Jokowi: Presiden Afghanistan Kaget Keragaman di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)
Jokowi: Presiden Afghanistan Kaget Keragaman di Indonesia (Sumber Gambar : Nu Online)

Jokowi: Presiden Afghanistan Kaget Keragaman di Indonesia

Menurut Jokowi, Ashraf Ghani terkaget-kaget tentang segala keragaman yang ada di Indonesia seperti pulau, bahasa, daerah, suku bangsa, serta kabupaten dan kota.?

“Kita memiliki 17 ribu pulau, beliau (Ashraf Ghani) kaget. Kita memiliki 714 suku, beliau kaget. Indonesia memiliki 516 kota dan kabupaten, beliau kaget. Kita memiliki bahasa lokal bahasa daerah itu 1100, beliau lebih kaget lagi,” kisahnya.?

Dengan segala potensi keragaman yang ada di ? Indonesia, Ashraf Ghani mengingatkan Jokowi supaya menjaga Indonesia dari perpecahan.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

“Presiden Jokowi hati-hati, negara dengan keragaman seperti Indonesia itu harus dijaga betul,” ujar Jokowi menirukan Ashraf Ghani. “Sudah sangat sulit sekali kalau sudah terjadi perpecahan,” tambahnya.

Terkait konflik yang terjadi di Afganistan, Jokowi menjelaskan tentang sumber pertikaian antara dua kelompok. Kelompok yang satu membawa negara lain masuk, yang satu lagi juga membawa negara lainnya masuk. Sekarang setelah perang, katanya, sudah ada 40 kelompok. (Husni Sahal/Abdullah Alawi) ?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Pendidikan, Aswaja Ustadz Felix Siauw Terbaru

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Rabu, 18 Juni 2014

Aliansi Nahdliyin-Marhaenis

Dalam urusan sosial-politik, NU mengembangkan prinsip ukhuwah wathoniyah atau solidaritas kebangsaan. Karena itu sejak awal tokoh NU seperti Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Wahab Chasbullah bekerjasama dengan para tokoh nasionalis penggerak kebangkitan nasional, seperti Dr Sutomo, Muhammad Yamin, termasuk Bung Karno sendiri. Ketika masa kemerdekaan, kelompok nasionalis ada dalam PNI, sementara NU juga menjadi parpol tersendiri, tetapi hubungan keduanya sangat erat. Tahun 1950-an, hubungan ini terjalin semakin intensif.

Kerjasama Nahdliyin dengan kelompok nasionalis zaman pergerakan nasional tahun 1920-an itu kemudian berlanjut pada masa Revolusi Kemerdekaan. Dalam menghadapi masa peralihan dari penjajahan Belanda ke Penjajahan Jepang itu, kerjasama semakin erat. Sebab? kedua kelompok yang sama-sama non kooperatif dengan Belanda itu justru mendapatkan angin pada masa Jepang. Saat itulah keduanya leluasa bergerak menyiapkan kemerdekaan Indonesia, baik menyiapkan tentara nasional dengan membentuk tentara Pembela tanah Air (PETA) serta Hizbullah dan Sabilillah, yang sebagian besar komandannya adalah dari kaum santri. Kerjasama dua kelompok itu kemudian bisa mempercepat Proklamasi.

Ketika Belanda hendak merebut kembali negeri ini, dua kelompok itu bersatu padu menghadapi penjajah. Kerjasama ini semakin erat ketika di tengah gejolak revolusi itu ada sekelompok orang PSI dan PKI melakukan pemberontakan terhadap RI. Dengan tegas NU mendukung RI Pimpinan Bung Karno dan menyerukan segera melenyapkan pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948 itu. Pada saat bersamaan sekelompok Islam modernis yang puritan dan radikal mendirikan Darul Islam (DI) bahkan kemudian membentuk Tentara Islam Indonesia (TII) dalam rangka mendirikan Negara Islam Indonesia (NII), sebagai tandingan dari NKRI, maka dengan tegas NU menolak gagasan yang dipimpin oleh Kartosuwiryo yang mengaku sebagai amirul mukminin atau pemimpin umat Islam. Untuk menegaskan komitmennya pada NKRI justru NU mengukuhkan Presiden Soekarno sebagai amirul mukminin yang sebenarnya, yakni sebagai waliyul amri (tokoh yang mendapatkan amanah) menjalankan pemerintahan.

Pada awal Orde Baru terjadi penyederhanaan partai politik, NU dikumpulkan dengan kelompok modernis eks Masyumi ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP). Pertamanya kerjasama ini berjalan lancar, walaupun NU dengan bermodal 18,6 persen suara,? sementara Masyumi (Parmusi) hanya 7,3 persen, tapi pimpinan PPP? dipegang Parmusi HMS Mintardja, seorang tokoh Masyumi, demi ukhuwah Islamiyah tadi NU menerima keputusan tidak adil itu. Tetapi Pergantian ketua PPP dari Mintardja ke HJ Naro juga dari Parmusi (Masyumi) tidak dilakukan secara demokratis melalui Muktamar, melainkan diserahkan begitu saja. Ini yang membuat NU kecewa terhadap perilaku politik Masyumi itu.

Aliansi Nahdliyin-Marhaenis (Sumber Gambar : Nu Online)
Aliansi Nahdliyin-Marhaenis (Sumber Gambar : Nu Online)

Aliansi Nahdliyin-Marhaenis

Langkah selanjutnya Naro sebagai kelompok kecil Masyumi menyingkirkan para elit politik NU dari PPP, para pendiri seperti HM Yusuf Hasyim, Khalik Ali, KH Saifuddin Zuhri, Mahbub Djunaidi satu per satu disingkirkan. Mereka juga dihapus sebagai daftar calon DPR. Calon DPR didominasi kelompok Masyumi pimpinan Naro. Tentu saja perilaku unsur Masyumi dalam PPP itu merugikan keutuhan Partai, sehingga partai pecah, kelompok NU akhirnya tersingkir. Ini tragedi Masyumi di tahun 1950-an terulang lagi. Masyumi tidak menjalankan organisasi kesepakatan dan sesuai aturan, maka retak dan bubarlah partai. Akhirnya pada tahun 1984 NU secara organisatoris kembali ke Khittah sebagai ormas keagamaan, maka NU secara otomatis keluar dari PPP.

Setelah itu, NU menjalankan peran sosial lebih efektif tanpa partai di bawah kepemimpinan KH Ahmad Shiddiq dan KH Abdurrahman Wahid. Kepemimpinan yang efektif NU menjadikan NU secara? nasional sangat solid. Solidnya NU sebagai organisasi besar ini dengan sendirinya memiliki resonansi politik yang besar, karena itulah dengan sikap tegas dari KH Abdurrahman wahid sejak pertengahan 1980-hingga akhir 1980-an itu dalam membela rakyat kecil dalam menghadapi represi Orde Baru, maka tiba-tiba NU tampil sebagai rival Orde Baru yang paling depan.

Ketika partai kelompok Nasionalis PDI pecah di awal 1990-an, Megawati sebagai keluarga Bung Karno tampil sebagai penyelamat partai nasionalis ini, tetapi kehadiran Megawati merisaukan Orde Baru, maka dibuatlah musuh tandingan dari dalam, antara lain Surjadi yang dipaksa memimpin PDI atas dukungan Orde Baru, sehingga Megawati tersingkir. Saat itulah Gus Dur mulai menjalin aliansi dengan Megawati, sebagai pendatang baru dalam kancah politik nasional. Megawati banyak mengikuti kegiatan Gus Dur sebagai mitra baru dan banyak belajar pada guru bangsa ini, bersama-sama, menggerakkan rakyat bawah dan berjuang menghadapi represi Orde Baru. Akhirnya PDI Megawati yang bernama PDI Perjuangan (PDIP) bisa menyingkirkan rivalnya, sehingga menjadi partai yang kuat dan disegani yang bisa kembali mengonsolidasi pendukung Bung Karno.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Aliansi ini begitu kuat, apalagi saat itu orde baru sedang membangun aliansi dengan kelompok Islam modernis dengan membuat ICMI. Aliansi ini dengan sendirinya semakin memperkuat posisi Orde Baru dalam menghadapi aliansi kelompok Islam-Nasionalis yang dipimpin Gus Dur. Aliansi kedua kelompok itu yang mampu menggetarkan fondasi kekuasaan Orde Baru, karena itu kedua kelompok ini dihancurkan dengan halus atau dengan kekerasan. Maka pada pertengahan 1990-an digelarlah aksi untuk menghancurkan NU dan nasionalis. Untuk menghancurkan NU digelar Operasi Naga Hijau yang membantai para kiai di Jawa yang menelan korban 140 orang Kiai NU. Sementara itu untuk menghancurkan PDI digelar Operasi Naga Merah yang membantai ratusan kader PDI saat mempertahankan kantor mereka di jalan Diponegoro pada 27 Juli 1996.

Aliansi itu NU-Nasionalis itu berpuncak saat Reformasi sehingga membentuk “Kelompok Ciganjur” kemudian membuat deklarasi yang melibatkan semua elemen bangsa termasuk ikut dalam aliansi nasional itu Sultan Hamengkubuwono, juga Amin Rais yang selama ini aktif di ICMI bersama Soeharto, setelah situasi berubah, maka kini mulai masuk dalam gerakan melawan Soeharto.

Aliansi NU PDI itu pada masa Reformasi berubah format, ketika NU telah membuat partai baru yaitu Partai Kebangkitan Bangsa (PKB), maka secara alami kedua partai berbasis kebangsaan dan kerakyatan itu selalu bersatu padu menyusun agenda perubahan. Duet Gus Dur-Mega semakin erat, karena itu keduanya menjadi tokoh terkemuka di negeri ini. Ketika kehadiran Mega ditolak oleh kelompok Islamis yang menampakkan diri sebagai kelompok tengah yang ingin menggeser Megawati, akhirnya menampilkan Gus Dur sebagai penyelamat untuk tetap menyelamatkan dwitunggal Gus Dur-Mega, di saat kelompok lain bakal mencuri di tikungan.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Mega dicoba digeser dengan Gus Dur tetapi tidak berhasil, karena Mega dijadikan wapres oleh Gus Dur. Tetapi kelompok Islamis itu tidak puas akhirnya mencoba menggeser Gus Dur dengan menggunakan Megawati. Suasana ruwet sehingga menyebabkan Gus Dur jatuh dan secara otomatis Mega dinaikkan menjadi presiden. Namun demikian hubungan NU dan PKB dengan PDIP tidak cukup terganggu, bahkan setelah itu segera pulih, karena kedua belah pihak tahu bahwa pelaku di balik semua perhelatan itu selain sisa-sisa Orde Baru, adalah kelompok pimpinan Amin Rais.

Hingga saat ini, kelihatan NU dan PDIP telah rukun kembali. Kebencian Nahdliyin dan Marhaenis pada umumnya dialamatkan pada Amin Rais sebagai dalang kekacauan ini. Karena itu kedua kelompok ini masih selalu waspada terhadap manuver politik Amin Rais, yang cenderung mengusik aliansi Nahdliyin dan Nasionalis-Marhaenis, yang sama-sama gigih menjaga NKRI dan Pancasila serta kebhinnekaan Indonesia dengan sikap moderat dan toleran. (H Masyhuri Malik)

?

Foto: Rais Aam NU Kiai Wahab Chasbullah berbisik dengan Bung Karno saat menghadiri Muktamar ke-22 Nahdlatul Ulama di Jakarta, 1959. (Doc. PP Lakpesdam)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Kiai Ustadz Felix Siauw Terbaru

Kamis, 29 Mei 2014

Ansor Bondowoso Sukses Sosialisasi Wawasan Kebangsaan di 10 Kecamatan

Bondowoso, Ustadz Felix Siauw Terbaru

Pimpinan Cabang Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur, telah sukses menggelar kegiatan Wawasan Kebangsaan di sepuluh kecamatan di Bondowoso. Acara serupa bakal terus berlanjut hingga ke seluruh kecamatan.

Ansor Bondowoso Sukses Sosialisasi Wawasan Kebangsaan di 10 Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)
Ansor Bondowoso Sukses Sosialisasi Wawasan Kebangsaan di 10 Kecamatan (Sumber Gambar : Nu Online)

Ansor Bondowoso Sukses Sosialisasi Wawasan Kebangsaan di 10 Kecamatan

"Tinggal 13 tempat (kecamatan) yang masih belum melaksanakan," kata Ketua GP Ansor Bondowoso Muzammil, Sabtu (16/4) pagi. Kegiatan ini merupakan sarana sosialisasi sekaligus pengembangan wawasan kebangsaan dan ideologi negara kepada para pemuda.

Jumat (15/4), GP Ansor Bondowoso mengadakan rapat koordinasi dan evaluasi kegiatan yang bekerja sama dengan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) setempat ini di sekretariat GP Ansor Bondowoso, Jalan KH Agus Salim No. 85 Belindungan, Kabupaten Bondowoso, Jawa Timur.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Menurut Muzammil, setiap kegiatan pasti ada kendala dan kendala dalam kegiatan Wawasan Kebangsaan (Wasbang) kali ini tidak signifiikan.? Sejumlah kekurangan bisa ditemukan jalan keluarnya dengan membenahi proses koordinasi dan komonikasi di masing-masing jajaran.

Turut hadir dalam rapat tersebut tim pelaksana kegiatan Wasbang GP Ansor, pengurus Satkorcab Banser Bondowoso dan Lembaga Majelis Dzikir dan Shalawat Rijalul Ansor.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Salah satu panitia yang juga sekretaris PC GP Ansor Bondowoso, Ach. Humaidi menjelaskan, kondisi di lapangan selama kegiatan berlangsung lancar. "Alhamdulillah berjalan sesuai rencana, kerana kegiatan ini sudah di bentuk tim penanggung jawab yang selalu siap mengawal suksesnya kegiatan Wasbang oleh Kesbangpol kepada pemuda dan elemen masyarakat, khususnya pemuda Ansor,” tuturnya. (Ade Nurwahyudi/Mahbib)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Pahlawan, Hikmah Ustadz Felix Siauw Terbaru

Minggu, 04 Mei 2014

Majalah Risalah Edisi Terbaru: Puasa dan Berlebaran Cara NU

Nahdlatul Ulama (NU) telah meng-ikhbar-kan 1 Ramadhan jatuh pada Senin, 6 Juni 2016. Hal ini berdasarkan keputusan dan ketetapan yang dilakukan oleh pemerintah melalui sidang itsbat pada Ahad (5/6) malam. Ketetapan ini berdasarkan pada pengamatan Hilal di 93 titik yang disebar oleh Kemenag dengan menggandeng LAPAN, Lembaga Falakiyah PBNU, dan lain-lain.

Nahdlatul Ulama tetap berpegang teguh pada metode rukyatul hilal sebagai instrumen penetapan awal bulan hijriah, termasuk Ramadhan dan Syawal. Langkah ini sama sekali tidak menafikan metode Hisab, karena metode perhitungan secara matematis ini perlu dibuktikan secara empiris. 

Majalah Risalah Edisi Terbaru: Puasa dan Berlebaran Cara NU (Sumber Gambar : Nu Online)
Majalah Risalah Edisi Terbaru: Puasa dan Berlebaran Cara NU (Sumber Gambar : Nu Online)

Majalah Risalah Edisi Terbaru: Puasa dan Berlebaran Cara NU

Ketua Lembaga Falakiyah PBNU, KH Ghazali Masroeri sering menekankan kepada seluruh masyarakat bahwa NU sama sekali tidak menafikan metode hisab, tetapi justru NU menggunakan metode hisab dengan almanak yang diterbitkan setiap tahun. 

Namun demikian, berangkat dari Sabda Rasulullah SAW, “Berpuasalah setelah melihat bulan, dan berlebaranlah setelah melihat bulan”, NU tidak berhenti di satu metode, tetapi berusaha membuktikan perhitungan matematis secara empiris dengan mengamati hilal secara langsung.

Demikian sekilas ulasan tentang Majalah Risalah Edisi 61/Tahun X/1437 H/Juni 2016 yang merupakan edisi terbaru. Selain mengulas persoalan puasa, Majalah yang kini dikemas dengan tampilan yang lebih besar ini juga melaporkan kegiatan International Summit of The Moderate Islamic Leaders (Isomil) yang diselenggarakan PBNU pada 9-11 Mei 2016 lalu di JCC Senayan Jakarta. 

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Kemudian, momen bulan haji juga dimanfaatkan Redaksi Majalah Risalah untuk mengulas perkara haji yang kini banyak mengalami perubahan secara pembiayaan yang lebih murah. Tentu hal ini merupakan kabar baik bagi para calon Jamaah Haji. Hal menarik lain yang juga perlu diketahui yaitu, Kementerian Agama mengeluarkan peraturan bahwa jemaah yang sudah pernah melakukan ibadah haji tidak diperkenankan berangkat lagi agar memberi kesempatan kepada jemaah yang belum pernah melakukan ibadah haji.

Edisi terbaru yang terbit 66 halaman ini juga memuat berbagai informasi dan bacaan substantif lain. Di bagian akhir majalah ini, terdapat tulisan renyah dari Dosen muda Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Indonesia, Fariz Alniezar yang mengulas tentang moderatisme keislaman yang selama ini diteguhkan oleh NU sehingga corak Islam khas Nusantara kerap menjadi inspirasi bagi carut marut dunia Islam selama ini. Selamat membaca! (Fathoni) 

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Ustadz Felix Siauw Terbaru Bahtsul Masail, Pahlawan, Daerah Ustadz Felix Siauw Terbaru

Senin, 28 April 2014

Gelar PKD, GP Ansor Indramayu Siapkan Pemimpin Masa Depan

Indramayu, Ustadz Felix Siauw Terbaru. Gerakan Pemuda Ansor Kabupaten Indramayu, Jawa Barat menggelar Pelatihan Kepemimpinan Dasar (PKD) yang dilaksanakan pada tanggal 5-7 Agustus 2016 di Kompleks Majlis Laa Tahzan Desa Wanguk Kecamatan Anjatan. Kegiatan Tersebut diikuti 110 peserta yang direkomendasikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) GP Ansor se-kabupaten.

Gelar PKD, GP Ansor Indramayu Siapkan Pemimpin Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)
Gelar PKD, GP Ansor Indramayu Siapkan Pemimpin Masa Depan (Sumber Gambar : Nu Online)

Gelar PKD, GP Ansor Indramayu Siapkan Pemimpin Masa Depan

Menurut Ketua Pelaksana PKD Edi Fauzi, PKD ANSOR merupakan kawah candra dimuka bagi kader Ansor untuk digembleng agar memiliki militansi yang kuat dalam mewujudkan ideologi dan garis perjuangan organisasi GP Ansor.

Dalam PKD tersebut juga, tambah dia, peserta akan dilatih tentang kecakapan menjadi seorang pemimpin, baik pemimpin dalam organisasi kemasyarakatan maupun pemimpin di pemerintahan.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

"Saya berharap PKD ini dapat mencetak kader GP Ansor yang siap menjadi pemimpin bangsa di masa depan," katanya.

Kegiatan PKD diisi oleh instruktur dr PW Ansor Jawa Barat dan fungsionaris PCNU Kabupaten Indramayu. Kegiatan tersebut dibuka Asisten Daerah 2 Kabupaten Indramayu H. Susanto.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Dalam pembukaan PKD tersebut, PC GP Ansor Indramayu juga sekaligus melantik Pengurus PAC GP Ansor Anjatan dan Ranting GP Ansor se-kecamatan tersebut. (Iing Rohimin/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Pondok Pesantren Ustadz Felix Siauw Terbaru

Senin, 31 Maret 2014

KOPRI Az-Ziyadah Kupas Posisi Perempuan dalam Sekolah Islam Gender

Jakarta, Ustadz Felix Siauw Terbaru?

Korps PMII Putri (KOPRI) STAI Az-Ziyadah cabang Jakarta Timur mengupas posisi dan peran perempuan dalam manusia kelas dua pada kegiatan Sekolah Islam Gender (SIG) (26/03) di sekretariat Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat (P3M) Jalan Cililitan Kecil III No. 12 Jakarta Timur.

Kiprah perempuan di ranah produktif mulai menunjukkan eksistensinya. Bisa kita lihat bagaimana perempuan dilibatkan secara aktif bekerja di semua lini. Mulai dari bidang ekonomi, sosial, politik hingga agama. Tetapi hampir dari mereka semua tidak duduk pada posisi pengambil keputusan. Maka melihat kenyataan ini apakah telah terwujud kesetaraan gender di antara laki-laki dan perempuan?.

KOPRI Az-Ziyadah Kupas Posisi Perempuan dalam Sekolah Islam Gender (Sumber Gambar : Nu Online)
KOPRI Az-Ziyadah Kupas Posisi Perempuan dalam Sekolah Islam Gender (Sumber Gambar : Nu Online)

KOPRI Az-Ziyadah Kupas Posisi Perempuan dalam Sekolah Islam Gender

"Kesetaraan gender tidak bisa diwujudkan hanya dengan membuka kesempatan bagi perempuan. Masalah yang menghambatnya pelik dan mendasar, ini menyangkut cara pandang dan pola pikir," ujar Vinna Nurfajriyah ketua KOPRI STAI Az-Ziyadah dalam sambutannya.

Dalam masyarakat patriarki, gender secara tradisional digambarkan sebagai sesuatu yang berganda dan polar. Tingkah laku dan kepatutan ditandai sebagai khas laki-laki dan yang khas perempuan, ada pemisahan dan pembeda.

"Gender mengacu pada konstruksi sosial atas peran, perilaku, aktivitas serta atribut yang ditentukan oleh masyarakat yang dianggap tepat untuk jenis kelamin tertentu". Tegas Vinna.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Kesetaraan gender bukan akibat dari jenis kelamin, fisiologi, hormon, kecenderungan genetik. Kesetaraan gender adalah produk dari konstruksi sosial di masyarakat, hal tersebut tidak bisa diselesaikan hanya sebatas memberi kesempatan, tetapi cara pandang harus berubah.

"Konstruksi sosial masyarakat diperkuat oleh imaji yang muncul di media, berita dan materi pendidikan. Laki-laki harus melakukan hal-hal yang maskulin, serta perempuan harus melakukan hal-hal yang feminim, persis di iklan-iklan. Dengan demikian secara serentak kita dikonstruksi dan dipertahankan atas perintah gender," papar Vinna diakhir sambutannya.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Kegiatan Sekolah Islam Gender (SIG) tersebut mendapatkan antusias dari para peserta SIG, para peserta dihadiri oleh berbagai macam wilayah, yakni Jakarta Timur, Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Selatan serta Bekasi. Berkumpul dalam satu forum menyatukan persepsi.

"Alhamdulillah penyelenggaraan SIG perdana ini banyak diminati oleh berbagai wilayah. 40 peserta yang ikut serta dalam kegiatan tersebut semoga dapat menyatukan tujuan," ucap Amiroh Arrazak ketua pelaksana diawal sambutannya. Red: Mukafi NIam?

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Pesantren, Nahdlatul Ulama, Halaqoh Ustadz Felix Siauw Terbaru

Minggu, 30 Maret 2014

Ka’bah Mean Time

Selama ini garis awal waktu (day date line) kita berkiblat ke Inggris. Kota Greenwich, yang letaknya dekat London, ditetapkan sebagai bujur 0 atau disebut Greenwich Mean Time (GMT). Setiap 15 derajat dari sana dihitung berbeda 1 jam dalam hitungan 24 jam. Perhitungan hari pun bermula dari bujur yang berjarak 180 derajat dari Greenwich.

Kenyataan ini dirasa patut mengusik kesadaran umat Islam, sekurang-kurangnya bagi keperluan ritual atau ibadah, untuk bersepakat menetapkan Ka’bah sebagai kiblat penetapan waktu; Ka’bah Mean Time. Caranya, kota Mekah yang terletak pada 40 derajat bujur timur itu ditetapkan sebagai bujur 0 derajat. Sehingga 180 derajat dari Mekah, yakni 140 derajat bujur barat dari Greenwich, ditetapkan sebagai garis awal batas tunggal. Dengan demikian, umat Islam sedunia dapat, misalnya, merayakan Idul Fitri atau Idul Adha pada hari yang sama.

Andaikan ide ini bisa diwujudkan, tentu Ka’bah kita akan semakin populer --meski sebenarnya tanpa itu pun, Ka’bah kita itu sudah jauh lebih populer dibanding dengan kota Greenwich. Hanya saja persoalannya, apa benar penetapan Kabah sebagai bujur 0 derajat akan berdampak positif bagi keperluan ritual, misalnya umat Islam sedunia bisa berhari raya pada hari yang sama?

Ka’bah Mean Time (Sumber Gambar : Nu Online)
Ka’bah Mean Time (Sumber Gambar : Nu Online)

Ka’bah Mean Time

Orang yang mengerti bahwa bola Bumi ini bulat dan mengerti bahwa umat Islam ada di mana-mana di seantero belahan Bumi yang bulat ini, tentu sulit mencema uraian tersebut di atas. Apakah hanya dengan menggeser day date line sejauh 40 derajat ke arah timur, atau lebih awal 2 jam 40 menit dari yang berlaku sekarang, umat Islam akan bisa berhariraya pada hari yang sama?

Orang yang memiliki sekelumit pengetahuan tentang ilmu falak atau ilmu hisab yang mengetahui bahwa awal bulan Hijriyah ditentukan berdasarkan kemunculan hilal di atas ufuk barat dan sama sekali tidak ada hubungannya dengan day date line (garis batas tanggal) itu tadi, tentu akan geleng-geleng kepala menyimak ide Ka’bah Mean Time ini. Pindah-pindahkanlah posisi day date line itu ke mana suka, umat Islam di mana pun di belahan Bumi ini tidak akan pernah bingung tentang kapan saatnya mereka berhariraya karena pedoman untuk itu sudah konkret.

Umat Islam di satu belahan Bumi tertentu yang belum mengalami terbit hilal tidak akan memaksakan diri untuk berhariraya pada hari yang sama dengan umat Islam di belahan Bumi lain yang telah lebih dahulu mengalami terbit hilal. Sebab, Nabi SAW tidak memberi petunjuk demikian. Sedangkan sunnatullah mengenai gerakan bulan pada lintasannya mengakibatkan belahan bumi yang pertama kali mengalami terbit hilal selalu berubah setiap bulan.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Seandainya ide tentang Kabah Mean Time (KMT) ini bisa diterima secara internasional, kita umat Islam tentu saja ikut bangga. Kendati rasanya agak utopis, tetapi mari kita tunggu saja! Wallahu alam.

KH Abdul Salam Nawawi

Ketua Lajnah Falakiyah Nahdlatul Ulama (LFNU) Jawa Timur

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Ustadz Felix Siauw Terbaru Budaya, Fragmen, Nasional Ustadz Felix Siauw Terbaru

Minggu, 09 Maret 2014

Jika Ada Masalah, Segera Datangi Masjid

Probolinggo, Ustadz Felix Siauw Terbaru. A’wan PWNU Jawa Timur H Hasan Aminuddin menyampaikan bahwa masjid dan mushalla merupakan rumah Allah SWT. Sehingga setiap menghadapi permasalahan dalam hidup maka segera datangi rumah Allah.?

Jika Ada Masalah, Segera Datangi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)
Jika Ada Masalah, Segera Datangi Masjid (Sumber Gambar : Nu Online)

Jika Ada Masalah, Segera Datangi Masjid

Hal tersebut disampaikan oleh H Hasan Aminuddin ketika melakukan peletakan batu pertama pembangunan Masjid Baitur Rohim di Desa Randutatah Kecamatan Paiton Kabupaten Probolinggo, Jum’at (7/4) sore.

“Jika ada masalah, segera datangi masjid. Oleh karena itu masjid harus dibuat megah, besar dan bagus sehingga bagaimana orang i’tikaf bisa kerasan dan tidak panas. Kalau mau bangun, tolong yang besar sekali,” katanya.

Menurut Hasan, tidak ada rumah Allah yang dibangun tidak selesai asalkan takmir masjidnya amanah. Oleh karena itu, masyarakat tidak perlu meminta doa kepada kiai yang pelit. Kepada Allah saja jauh apalagi sesama manusia.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

“Setiap manusia mempunyai kelebihan dan kekurangan. Buatlah masjid sesuai dengan keadaan masyarakat. Jangan sampai masjidnya besar, tetapi yang mau datang tidak ada, sehingga masjidnya sering kosong. Tugas takmir masjid adalah memakmurkan masjid,” jelasnya.

Hasan menegaskan bahwa setiap pembangunan rumah Allah pasti selesai. Hanya saja yang wajib membantu pembangunan masjid ini adalah tetangga. Masyarakat harus bahu membahu menyelesaikan pembangunan masjid agar memberikan manfaat kepada sesama.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

“Supaya memberikan manfaat kepada orang lain, ada tiga hal yang dapat diberikan. Yakni, ilmunya, tenaganya dan uangnya. Percayalah dengan hitungan Al Qur’an, setiap yang dikeluarkan di jalan Allah dikembalikan 700 kali. Jika ada orang yang awalnya senang sekarang susah berarti dia tidak pernah bersedekah,” tegasnya.

Kepada masyarakat Hasan meminta apabila mempunyai anak yang belum menikah agar dijaga dengan baik. Sehingga tidak terpengaruh kepada narkoba, minuman keras dan pil koplo. Hal ini dilakukan oleh orang di luar agar generasi muda Indonesia lebih bodoh.?

“Solusinya, dudukkan anak, setiap anak naik kelas dan khatam Al Qur’an ucapkan terima kasih. Jangan nasehati anak, tetapi berilah contoh. karena anak saat ini lebih pintar dari orang tuanya,” pungkasnya.

Sementara Takmir Masjid Baitur Rohim Ustad Maryo menyampaikan bahwa Masjid Baitur Rohim tersebut telah berusia 25 tahun. Pembangunan masjid yang membutuhkan anggaran dana sebesar Rp 1,5 miliar ini dilakukan karena kapasitasnya sudah tidak mencukupi lagi. Saat ini anggaran yang tersedia sudah mencapai Rp 209 juta.

“Bahan-bahan material pembangunan masjid ini berasal dari swadaya masyarakat. Kesadaran masyarakat sangat tinggi sekali. Masjid ini milik bersama dan bukan perorangan. Oleh karena itu mohon bantuan dan kerja samanya agar masjid ini bisa segera selesai,” katanya. (Syamsul Akbar/Abdullah Alawi)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Tokoh Ustadz Felix Siauw Terbaru

Kamis, 23 Januari 2014

Keuntungan Bergaul dengan Orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah

Persahabatan kita dengan orang saleh dapat membawa keuntungan kepada kita. Persahabatan ini menjadi tanda bahwa kita juga setidaknya mendekati kesalehan yang diridhai oleh Allah SWT sebagaimana disinggung oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam hikmah berikut ini.

? ? ? ? ? ? ? ? ?

Keuntungan Bergaul dengan Orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)
Keuntungan Bergaul dengan Orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah (Sumber Gambar : Nu Online)

Keuntungan Bergaul dengan Orang Saleh Menurut Ibnu Athaillah

Artinya, “(Mahasuci Allah) yang tidak ‘mempertemukan’ kepada para wali selain orang yang dikehendaki sampai kepada-Nya.”

Ustadz Felix Siauw Terbaru

Syekh Syarqawi coba menjelaskan bahwa Allah juga memiliki kecemburuan di mana ia tidak memperkenankan orang lain bergaul dengan orang-orang saleh yang menjadi kekasih-Nya. Bahkan, sebagian kekasih-Nya (para wali) tidak dikenal oleh makhluk-Nya termasuk para malaikat sehingga Allah sendiri yang mencabut nyawa mereka.

Ustadz Felix Siauw Terbaru

? ? ?) ? ? ? ? ? (? ? ? ? ? ?) ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “(Mahasuci Allah yang tidak ‘mempertemukan’) memperkenalkan dan menyatukan (kepada para wali selain orang yang dikehendaki sampai kepada-Nya) karena para wali itu adalah kekasih-Nya sehingga dapat menimbulkan ‘cemburu’ jika Allah mempertemukan selain kekasih-Nya dengan para wali itu. Ini berlaku untuk sebagian wali. Mereka adalah orang yang digerakkan untuk suluk. Sedangkan orang yang dikehendaki sampai pada-Nya akan dipertemukan dengan para wali dalam bentuk persahabatan khusus. Para wali itu terbagi dua kategori. Satu kelompok wali diperkenalkan oleh Allah kepada kalangan awam dan kalangan tertentu. Satu kelompok wali lainnya diperkenalkan oleh-Nya hanya kepada kalangan tertentu. Tetapi ada juga sekelompok wali yang tidak diperkenalkan kepada satupun makhluk-Nya termasuk malaikat hafazhah. Allah sendiri yang mencabut nyawa mereka dan tidak memperkenankan tanah mengurai jasad mereka,” (Lihat Syekh Syarqawi, Syarhul Hikam, Semarang, Maktabah Al-Munawwir, juz II, halaman 2-3).

Pergaulan dengan orang saleh membawa berkah tersendiri bagi kesehatan batin manusia. Pergaulan itu membawa pengaruh tersendiri kepada batin manusia dengan catatan tetap menjaga adab terhadap orang-orang saleh itu. Kalau hujan saja bermakna berkah, apalagi para kekasih Allah sebagaimana disebutkan oleh Syekh Zarruq dalam kutipan berikut ini.

?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?... ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?: ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ? ?. ? ? ? ? ? ? ? ? ?

Artinya, “Menurut saya, yang dimaksud ‘wushul’ atau ‘sampai’ di sini adalah mengenal wali Allah dalam bentuk pergaulan yang menuntut pelaksanaan kewajiban berupa penghormatan terhadap perintah dan larangannya… Sejumlah ulama mengatakan, ‘Hujan adalah saat-saat dekat dengan Allah karenanya kita dianjurkan untuk keluar dan tabarukan saat hujan turun. Ini disebutkan oleh Rasulullah SAW. Itu baru keberkahan hujan, apalagi orang beriman ahli makrifat (arifin)?’... Salah satu dalil bahwa memandang wajah arifin dapat menambah makrifat dan lain sebagainya adalah ucapan Anas RA, ‘Tidaklah kami menghalau debu makam Rasulullah SAW yang melekat di tangan kami melainkan kami merasakan ada sesuatu yang kurang di hati ini,’ (lanjutkan terusannya). Secara umum, para wali Allah adalah pintu-Nya. Perkenalan dengan mereka adalah kunci pintu tersebut. Sementara gigi kunci itu adalah upaya menjaga diri agar tetap hormat, khidmat, sopan, dan keluasan rahmat kepada mereka. Siapa yang berinteraksi dengan mereka melalui cara demikian, maka ia akan dibukakan pintu. Tetapi kalau tidak dengan cara itu, maka ia berada dalam bahaya,” (Lihat Syekh Zarruq, Syarhul Hikam, As-Syirkatul Qaumiyah, 2010 M/1431 H, halaman 133-134).

Orang-orang saleh adalah pintu kita masuk kepada Allah. Mereka adalah orang-orang pilihan-Nya. Mereka adalah orang-orang yang selayaknya kita kenal lebih dekat dengan penuh adab dan kesantunan. Wallahu a‘lam. (Alhafiz K)

Dari Nu Online: nu.or.id

Ustadz Felix Siauw Terbaru Tokoh, Khutbah, Hadits Ustadz Felix Siauw Terbaru